Menyadari Peringatan Allah Setiap Pergantian Tahun: Sebuah Refleksi Keimanan di Akhir Tahun
Waktu terus berputar, sebuah keniscayaan yang tak terhindarkan bagi setiap insan yang diberi kesempatan hidup di dunia ini. Pergantian detik, menit, jam, hingga tahun, seolah berlari kian cepat, mengikis usia dan mengingatkan kita akan kewajiban pertanggungjawaban kelak di hadapan Sang Pencipta. Dalam siklus kehidupan yang tak terpisahkan dari aturan dan konsekuensi ini, ibadah shalat memegang peranan sentral sebagai salah satu amal yang akan dihisab. Di antara beragam jenis shalat, Shalat Jumat menempati posisi penting sebagai fardhu ‘ain yang wajib dilaksanakan oleh kaum laki-laki. Salah satu rukun penting dalam shalat Jumat adalah khutbah, yang disampaikan oleh khatib dengan beragam tema dan topik. Artikel ini akan mengulas sebuah khutbah yang mengangkat tema pergantian tahun dalam kalender Masehi, dengan judul “Sadari Peringatan Allah Setiap Pergantian Tahun”.
Khutbah I: Menggali Makna Waktu dan Musibah
Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta memanjatkan syukur tak terhingga kepada Allah SWT atas segala nikmat kesehatan dan kesempatan yang dilimpahkan. Tak lupa, kita selawatkan dan salamkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa peradaban Islam dan membebaskan umat dari zaman kejahiliyahan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Pergantian hari, bulan, dan tahun adalah sunnatullah yang sarat makna. Allah SWT sendiri telah mengabadikan pentingnya waktu melalui firman-Nya dalam Surat Al-‘Ashr. Sunnatullah ini juga dipertegas dalam Surat Ar-Ra’d ayat 2:
ٱللَّهُ ٱلَّذِي رَفَعَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ بِغَيۡرِ عَمَدٖ تَرَوۡنَهَاۖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ وَسَخَّرَ ٱلۡشَمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ كُلّٞ يَجۡرِي لِأَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ يُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لَعَلَّكُم بِلِقَآءِ رَبِّكُمۡ تُوقِنُونَ ٢
“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.”
Namun, jama’ah sekalian, pergantian waktu bukan sekadar hitungan kalender semata. Ia adalah sebuah pengingat. Terlebih lagi ketika pergantian waktu ini diiringi dengan berbagai musibah dan bencana yang melanda negeri kita. Dalam beberapa waktu terakhir, kita menyaksikan berbagai peristiwa alam yang memilukan, seperti banjir, longsor, dan gempa bumi yang melanda berbagai daerah di Indonesia, merenggut harta, tempat tinggal, bahkan nyawa saudara-saudara kita. Peristiwa-peristiwa ini bukanlah sekadar berita, melainkan ayat-ayat Allah yang nyata, yang seharusnya menggugah kesadaran kita.
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 164, Allah SWT seolah ‘menyentil’ kita yang masih bergeming, tidak menyadari kebesaran Sang Khaliq meskipun begitu banyak bukti dan indikator kekuasaan-Nya yang hadir dalam fenomena alam yang kita alami:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
Ayat ini menegaskan bahwa pada pergantian malam dan siang, pada hujan yang turun, dan pada berbagai fenomena alam lainnya, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mau berpikir. Maka, ketika alam “berbicara” dengan cara seperti ini, seorang mukmin tidak boleh lalai. Musibah bukan hanya ujian bagi mereka yang terdampak langsung, tetapi juga peringatan bagi kita yang masih diberi keselamatan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Menjelang akhir tahun ini, kita kembali dihadapkan pada berbagai peristiwa bencana alam yang menimpa saudara-saudara kita di berbagai wilayah. Peristiwa tersebut bukanlah sekadar fenomena alam biasa, melainkan bagian dari ayat-ayat Allah yang harus kita sikapi dengan iman, ilmu, dan amal.
Ada beberapa hal penting yang perlu kita garis bawahi dalam memaknai akhir tahun dan musibah ini sebagai seorang Muslim:
Musibah Mengajarkan Muhasabah (Evaluasi Diri)
Allah SWT berfirman: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura [42]: 30).
Ayat ini mengajak kita untuk melakukan muhasabah, sebuah evaluasi diri yang jujur dan mendalam. Seorang Muslim tidak boleh hanya menyalahkan keadaan, tetapi harus bertanya pada diri sendiri: sejauh mana iman, rasa syukur, dan kesabaran telah kita jalankan.
Rasulullah SAW bersabda bahwa seluruh urusan orang beriman adalah kebaikan. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur, dan ketika ditimpa musibah, ia bersabar. Dua sikap ini adalah standar keimanan yang harus terus kita jaga, terutama ketika Allah mengingatkan kita melalui bencana dan pergantian waktu. Akhir tahun menjadi momentum berharga untuk mengevaluasi kualitas ibadah, akhlak, dan tanggung jawab sosial kita sebelum kelak dihisab oleh Allah SWT.Musibah Menumbuhkan Solidaritas dan Kepedulian Sosial
Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Musibah yang menimpa sebagian masyarakat adalah panggilan bagi yang lain untuk hadir membantu. Kepedulian terhadap korban bencana, baik melalui doa, infak, tenaga, maupun dukungan moral, adalah wujud nyata dari iman dan akhlak Islam.
Kita perlu menyadari bahwa keselamatan yang kita rasakan hari ini bukanlah jaminan untuk esok hari. Oleh karena itu, kepekaan sosial dan semangat ta’awun (tolong-menolong) harus terus kita hidupkan.
Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai dan menyayangi adalah seperti satu tubuh.” (HR. Bukhari dan Muslim). Seorang Muslim tidak boleh merasa aman dan acuh ketika saudara-saudaranya sedang diuji.Musibah dan Akhir Tahun Mendorong Mujahadah (Perjuangan) dan Perencanaan Hidup
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18).
Ayat ini menegaskan bahwa muhasabah harus ditindaklanjuti dengan mujahadah, yaitu kesungguhan untuk memperbaiki keadaan. Tahun baru bukan sekadar pergantian kalender, tetapi titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih bertakwa.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung. Maka, setiap Muslim dituntut untuk memiliki perencanaan hidup yang jelas, baik dalam ibadah, pendidikan, ekonomi, maupun pengabdian kepada masyarakat. Perubahan tidak lahir dari niat semata, tetapi dari perencanaan yang matang dan kerja yang konsisten, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dalam seluruh aspek kehidupannya.Musibah Mengingatkan Bahwa Hidup Ini Sementara dan Nasib Berputar
Bencana mengajarkan kepada kita bahwa hidup di dunia ini tidak abadi. Bertambahnya usia berarti semakin dekatnya jarak kita dengan kematian. Allah SWT berfirman: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 140).
Musibah menyadarkan kita bahwa dunia ini tidak kekal. Keselamatan dan kelapangan hidup bisa berubah kapan saja. Kesadaran ini menumbuhkan sikap tawadhu’ (rendah hati), kesederhanaan, serta kesiapan untuk beramal dan menolong sesama.
Allah SWT menggilir keadaan manusia agar kita tidak sombong saat lapang dan tidak putus asa saat sempit. Kesadaran ini harus melahirkan sikap tawadhu’, kesederhanaan, serta kesiapan untuk berbagi dan menolong sesama. Inilah karakter Muslim yang beriman, berilmu, dan beramal.
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Semoga akhir tahun ini menjadi momentum bagi kita untuk memperbaiki diri, memperkuat kepedulian sosial, dan meningkatkan kualitas amal shalih, sehingga kehadiran kita benar-benar membawa kemanfaatan bagi umat dan bangsa.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ
Khutbah II: Doa dan Harapan untuk Perbaikan
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى:
إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ. وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.




