JAKARTA, Dua ibu rumah tangga, Rika (52) dan Endang (50), menceritakan pengalaman mereka berburu baju Lebaran 2026 model “rompi lepas” di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (6/1/2026).
Awalnya, dua warga Depok, Jawa Barat, itu berniat membeli bahan kain untuk seragam kegiatan di lingkungan tempat tinggal mereka. Namun, saat melihat berbagai pilihan baju Lebaran yang ditawarkan para pedagang, keduanya justru tertarik untuk membeli.
“Belanjanya (baju Lebaran) tadi karena melihat yang katanya lagi viral ya, tren terbaru,” tutur Rika saat dijumpai di area Blok B Pasar Tanah Abang.
“Terus, ya sudah jadi tertarik jadi mampir dan beli. Padahal tadi maunya ke blok yang lain gitu kan, karena tadi terbawa iklan,” lanjutnya.
Rika akhirnya membeli sebuah baju gamis panjang model “rompi lepas” berwarna terakota untuk dirinya. Ia mengaku hanya membeli satu baju karena kedua anaknya laki-laki.
Sementara itu, Endang membeli beberapa gamis dengan model serupa berwarna merah marun. Baju-baju tersebut rencananya akan diberikan kepada ibunya serta dua anak perempuannya.
“Tadi satu set itu Rp 135 ribu. Masih terjangkau sekali kan. Modelnya juga bagus. Jadi seperti pakai bolero panjang begitu,” tutur Endang.
“Kami kaget juga kok di Blok B ternyata harganya murah. Biasanya kami beli baju Lebaran di blok lain lebih mahal lho,” lanjutnya.
Endang menuturkan, ia mengetahui tren baju Lebaran terbaru dari video di media sosial TikTok dan Facebook. Ia memang gemar memantau media sosial untuk mencari referensi.
“Saya lihatin videonya. Kalau ada yang live jualan di TikTok. Ada juga di Facebook gitu kan, kadang juga Instagram,” katanya.
“Lalu saya kasih tahu teman saya ini (Rika). Kebetulan kan kami tetanggaan ya. Ayo coba beli gitu,” lanjut Endang.
Menurut Rika, memiliki referensi baju Lebaran penting agar bisa berbelanja lebih awal atau jauh sebelum Hari Raya Idul Fitri. Dengan begitu, harga baju biasanya lebih murah dan pilihan model masih beragam.
“Kami kebetulan punya waktu untuk belanja jauh-jauh hari. Jadi bisa milih, mana yang bahannya bagus, modelnya bagus, harganya cocok. Jadi memang kalau referensi tren baju memang diperlukan,” ungkap Rika.
“Kalau belinya mepet-mepet, bisanya kan Tanah Abang sudah ramai, mau milih-milih sudah sesak kan. Terus misal ke toko juga ternyata harganya lebih mahal walaupun bahannya sama,” lanjutnya.
Saran berburu baju Lebaran jauh sebelum hari H
Rika menambahkan, harga baju Lebaran cenderung naik jika pembelian dilakukan mendekati hari raya. Sebagai ibu rumah tangga, selisih harga menjadi hal yang cukup diperhitungkan.
“Dibanding dengan kita beli menjelang sama jauh hari sebelumnya itu jauh kita dapat lebih berkualitas dan lebih murah kalau diberi sebelum Lebaran. Karena biasanya itu sudah semakin naik harganya kalau dekat Lebaran,” tutur Rika.
“Saya alami sendiri pernah mepet-mepet beli akhirnya kan enggak dapat terus akhirnya kita beli bermerek, ya yang bermerek tapi barangnya hampir sama dengan yang di Pasar Tanah Abang,” lanjutnya.
Hal serupa disampaikan Putri (26), salah satu pedagang gamis Lebaran di Tanah Abang.
Ia menyampaikan, para pedagang biasanya sudah mengeluarkan baju Lebaran model-model terbaru pada awal tahun.
Selain itu, konsumen yang sudah hafal menurut dia lebih senang mencicil beli baju Lebaran jauh-jauh hari.
“Karena masih keluaran baru. Tren baru. Maaf kalau nanti mepet-mepet Idul Fitri itu kan barangnya sudah berkurang, atau bisa jadi habis. Akhirnya yang ada hanya stok yang sisa-sisa saja,” tutur Putri, Selasa.



















