KORAN – PIKIRAN RAKYAT – Melanoma adalah salah satu jenis kanker kulit yang paling mematikan, dengan angka kejadian dan kematian yang terus meningkat di seluruh dunia. Kanker ini berawal dari sel-sel melanosit yang terletak pada lapisan epidermis kulit, tetapi dapat dengan cepat menyebar ke lapisan dermis dan metastasis ke bagian tubuh lainnya melalui sistem limfatik dan pembuluh darah. Meskipun berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengungkap mekanisme di balik pertumbuhannya, penemuan terbaru oleh tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Profesor Carmit Levy dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan di Universitas Tel Aviv telah memberikan wawasan baru yang dapat membuka peluang pengobatan yang lebih efektif.
Tim peneliti menemukan bahwa melanoma menggunakan vesikel ekstraseluler (EVs) untuk melumpuhkan sel-sel imun yang berusaha menyerang tumor. EVs adalah kantong kecil berbentuk gelembung yang diproduksi dan dikeluarkan oleh hampir semua jenis sel dalam tubuh. EVs ini mengandung molekul-molekul biologis seperti protein, lipid, dan RNA yang dapat memengaruhi sel-sel lain di sekitarnya. Dalam hal ini, melanoma memanfaatkan vesikel-vesikel ini untuk mengirimkan sinyal yang merusak fungsi sel-sel imun, khususnya limfosit, yang seharusnya membunuh sel kanker.
Penemuan ini dimulai ketika Profesor Levy dan timnya mempelajari EVs yang dikeluarkan oleh sel-sel melanoma. Mereka menemukan bahwa pada permukaan membran EVs terdapat sebuah ligan, yaitu molekul yang seharusnya dapat mengikat reseptor yang hanya ditemukan pada limfosit. Lymphosit adalah sel-sel imun yang bertanggung jawab untuk mendeteksi dan membunuh sel-sel kanker. Ligan ini secara spesifik menargetkan limfosit yang memiliki kemampuan untuk membunuh sel melanoma saat mereka berinteraksi langsung dengan tumor.
Profesor Levy mengemukakan, “Saya mulai mempelajari vesikel-vesikel ini, dan saya memperhatikan bahwa di permukaan membran vesikel terdapat ligan — molekul yang seharusnya mengikat reseptor pada sel imun yang dapat membunuh kanker. Saya kemudian mengajukan hipotesis bahwa ligan ini melekat pada limfosit yang datang untuk membunuh melanoma. Ide ini awalnya terdengar inovatif dan aneh, tapi setelah kami mulai menyelidikinya di laboratorium, bukti yang semakin banyak mendukung teori ini.”
Penemuan ini tidak hanya berpotensi memperluas pemahaman kita mengenai interaksi antara kanker dan sistem imun, tetapi juga membawa harapan baru dalam bidang terapi imunologi. Profesor Levy mengundang kolega-kolega dari berbagai institusi terkemuka di dunia, termasuk dari Sheba Medical Center, Weizmann Institute of Science, Harvard, hingga Universitas Zurich, untuk bergabung dalam upaya penelitian ini. Bersama-sama, mereka berhasil mengonfirmasi bahwa melanoma dapat meluncurkan vesikel-vesikel ini ke arah limfosit, mengganggu aktivitas sel imun, bahkan sampai membunuhnya.
Dampak penemuan
Penemuan ini memiliki implikasi besar dalam pengembangan terapi imunologi untuk melanoma. Menurut Profesor Levy, terapi yang ada saat ini, meskipun efektif pada beberapa pasien, belum cukup memadai untuk semua penderita melanoma, terutama pada kasus yang sudah lanjut. Penelitian ini menunjukkan bahwa sel kanker melanoma tidak hanya mampu bertahan dari serangan sistem imun, tetapi bahkan dapat menyerang balik dan menonaktifkan sel-sel imun yang seharusnya menghancurkannya.
“Penemuan ini menjanjikan,” ujar Profesor Levy. “Namun, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengubahnya menjadi terapi yang dapat diterapkan. Kami yakin bahwa dengan memahami mekanisme ini, kita dapat memperkuat sel imun agar lebih tahan terhadap serangan balik melanoma. Selain itu, kita juga dapat menghambat molekul yang memungkinkan vesikel-vesikel ini menempel pada sel imun, sehingga memaparkan sel-sel kanker dan menjadikannya lebih rentan terhadap serangan,” ujarnya menambahkan.
Meskipun penelitian ini masih dalam tahap awal, temuan ini membuka pintu bagi pengembangan terapi imunoterapi yang lebih efektif. Salah satu pendekatan yang mungkin adalah memperkuat limfosit, baik melalui stimulasi langsung atau melalui penggunaan agen yang dapat mencegah vesikel-vesikel melanoma untuk mengganggu fungsinya.
Pendekatan ini dapat diintegrasikan dengan terapi imun lain, seperti inhibitor checkpoint yang telah digunakan untuk mengobati beberapa jenis kanker lainnya.
Profesor Levy juga mengusulkan untuk mengembangkan terapi yang dapat menghalangi interaksi antara ligan pada vesikel dan reseptor pada limfosit. Ini dapat membuka jalan bagi terapi yang tidak hanya efektif dalam meningkatkan sistem imun, tetapi juga mengurangi efek samping yang biasa ditemukan pada pengobatan kanker konvensional.
Langkah lanjutan
Sebagai langkah lanjutan, tim peneliti berencana untuk lebih mendalami mekanisme di balik pengaruh vesikel ini terhadap sistem imun. Mereka akan melakukan lebih banyak percobaan untuk memahami bagaimana vesikel-vesikel ini bekerja di dalam tubuh manusia dan bagaimana mereka dapat dimanipulasi untuk keuntungan terapi. Tim ini juga berencana untuk mengembangkan model eksperimental yang lebih mendalam untuk menguji potensi pengobatan berbasis penemuan ini.
Meskipun tantangan besar masih ada, temuan ini memberikan harapan baru dalam pertempuran melawan melanoma dan membuka jalur menuju terapi yang lebih efektif dan bertarget. Di masa depan, pengobatan berbasis imunoterapi yang lebih kuat dan spesifik dapat menjadi solusi yang lebih baik bagi penderita kanker kulit, terutama mereka yang menghadapi melanoma yang agresif.
Penemuan bahwa melanoma dapat menggunakan vesikel ekstraseluler untuk melumpuhkan sel imun memberikan wawasan baru yang sangat berharga dalam dunia penelitian kanker. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang mekanisme ini, para peneliti dapat mengembangkan terapi imun yang lebih efektif, meningkatkan kualitas hidup pasien, dan mengarah pada pengobatan yang lebih tepat sasaran untuk melanoma. Perjalanan masih panjang. Namun, penelitian ini membuka pintu untuk pengobatan kanker yang lebih maju di masa depan.***


















