Aktivitas Erupsi Gunung Ile Lewotolok Meningkat, Sejumlah Desa di Lembata Dilanda Hujan Abu
Aktivitas vulkanik di Gunung Ile Lewotolok, yang berlokasi di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan peningkatan yang signifikan. Data dari pos pengamatan gunung api mencatat lonjakan aktivitas erupsi yang patut diwaspadai.
Pada periode pengamatan hari Sabtu, 17 Januari 2026, yang berlangsung dari pukul 00.00 hingga 24.00 Waktu Indonesia Tengah (WITA), terdeteksi sebanyak 466 kali erupsi. Kejadian ini tidak hanya berupa semburan abu, tetapi juga disertai dengan lontaran material pijar yang membara dan suara dentuman atau gemuruh dengan intensitas lemah hingga sedang.
Lebih lanjut, pengamatan visual mengonfirmasi adanya lontaran material pijar yang meluncur ke arah sektor selatan dan tenggara. Jarak lontaran ini diperkirakan mencapai 100 hingga 200 meter dari puncak gunung. Selain itu, terlihat pula aliran lava yang bergerak menuju sektor barat, dengan jarak luncur sekitar 100 meter dari bibir kawah.
Detail Erupsi dan Dampaknya
Menurut Yeremias Kristianto Pugel, petugas Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok, erupsi yang terjadi menghasilkan kolom abu dengan ketinggian bervariasi antara 200 hingga 500 meter. Warna asap yang dikeluarkan pun beragam, mulai dari putih, kelabu, hingga hitam pekat. Keterangan ini disampaikan oleh Pugel dalam pernyataannya pada hari Minggu, 18 Januari 2025.
Secara visual, kondisi puncak gunung dilaporkan cukup jelas, meskipun sesekali tertutup kabut dengan tingkat ketebalan 0-II. Asap kawah yang keluar dari puncak memiliki tekanan lemah hingga sedang, berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal, dan ketinggian mencapai 20 hingga 50 meter di atas puncak kawah.
Kondisi cuaca di sekitar area puncak gunung bervariasi, mulai dari cerah, berawan, mendung, hingga hujan. Angin bertiup dengan kecepatan lemah hingga sedang, mengarah ke timur. Suhu udara di kawasan tersebut berkisar antara 24 hingga 30 derajat Celsius.
Hujan Abu Melanda Sejumlah Desa
Dampak langsung dari aktivitas erupsi Gunung Ile Lewotolok ini telah dirasakan oleh sejumlah desa yang berada di dua kecamatan, yaitu Ile Ape Timur dan Omesuri, Kabupaten Lembata. Hujan abu vulkanik dilaporkan menyelimuti area pemukiman warga.
Di Kecamatan Ile Ape Timur, beberapa desa yang terdampak langsung oleh hujan abu antara lain:
* Todanara
* Jontona
* Bailaliduli
* Lamaau
* Aulesa
* Lamatokan
* Watidiri
* Lamawolo
Warga di desa-desa ini mulai menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Pasalnya, bak penampung air bersih mereka tercemar oleh abu vulkanik, sehingga ketersediaan air bersih menjadi kendala. Selain itu, sumber pakan ternak juga terpengaruh, menimbulkan kekhawatiran bagi para peternak.
Sementara itu, di Kecamatan Omesuri, empat desa dilaporkan mengalami dampak serupa. Desa-desa tersebut adalah:
* Holea
* Holea 2
* Meluwiting
* Meluwiting 1
Menurut Ade Hasan Yusuf, Camat Omesuri, material vulkanik yang tertiup angin menjadi penyebab utama paparan debu vulkanis di desa-desa tersebut. Yusuf menjelaskan bahwa dampak abu vulkanik sudah mulai terasa dalam aktivitas sehari-hari warga.
“Dampaknya mulai terasa, ketika sedang berkendara, berkebun, maupun penyediaan pakan ternak,” ujar Yusuf.
Menyikapi kondisi ini, Camat Omesuri mengimbau seluruh warganya untuk membatasi aktivitas di luar rumah guna meminimalkan paparan debu vulkanik. Namun, jika terdapat keperluan mendesak yang mengharuskan warga keluar rumah, ia menekankan pentingnya penggunaan masker atau alat pelindung diri lainnya. Langkah ini diambil untuk menjaga kesehatan dan keselamatan warga dari potensi bahaya abu vulkanik.




