PT Pertamina (Persero) telah resmi mengumumkan penyesuaian harga untuk bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang berlaku mulai 1 Februari 2026. Keputusan ini mencakup penurunan harga untuk seluruh lini produk non-subsidi, baik dari Pertamax Series maupun Dex Series. Penyesuaian harga ini merupakan bagian dari evaluasi berkala yang mengacu pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 245 Tahun 2022.
Detail Penyesuaian Harga BBM Non-Subsidi
Untuk wilayah Jabodetabek, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, berikut adalah rincian harga BBM terbaru yang berlaku efektif per 1 Februari 2026:
Pertamax (RON 92):
Harga baru adalah Rp 11.800 per liter.
Ini merupakan penurunan sebesar Rp 550 dari harga sebelumnya yang mencapai Rp 12.350 per liter.Pertamax Green 95:
Harga baru ditetapkan sebesar Rp 12.450 per liter.
Terdapat penurunan signifikan sebesar Rp 700 dari harga sebelumnya yaitu Rp 13.150 per liter.Pertamax Turbo (RON 98):
Konsumen kini dapat membeli Pertamax Turbo dengan harga Rp 12.700 per liter.
Harga ini turun Rp 700 dari harga sebelumnya yang berada di angka Rp 13.400 per liter.Dexlite (CN 51):
Harga Dexlite mengalami penurunan menjadi Rp 13.250 per liter.
Penurunan ini sebesar Rp 250 dari harga sebelumnya yang mencapai Rp 13.500 per liter.Pertamina Dex (CN 53):
Untuk Pertamina Dex, harga baru adalah Rp 13.500 per liter.
Penurunan yang terjadi hanya Rp 100 dari harga sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 13.600 per liter.
Stabilitas Harga BBM Subsidi
Sementara itu, harga untuk BBM bersubsidi tetap stabil. Pertalite masih dijual dengan harga Rp 10.000 per liter, dan Bio Solar tetap pada harga Rp 6.800 per liter. Kestabilan harga BBM subsidi ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat terhadap kebutuhan energi dasar.
Dasar Penyesuaian Harga
Penyesuaian harga BBM non-subsidi ini didasarkan pada mekanisme evaluasi yang dilakukan secara berkala. Keputusan Menteri ESDM Nomor 245 Tahun 2022 menjadi landasan hukum bagi Pertamina dalam melakukan penyesuaian ini. Evaluasi berkala tersebut mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk fluktuasi harga minyak mentah dunia, nilai tukar mata uang, dan biaya operasional lainnya yang relevan.
Perubahan harga BBM non-subsidi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi konsumen, terutama dalam hal meringankan beban pengeluaran rumah tangga dan operasional bisnis yang bergantung pada konsumsi bahan bakar. Dengan adanya penurunan ini, masyarakat pengguna BBM non-subsidi dapat menikmati harga yang lebih terjangkau.
Pertamina sebagai badan usaha milik negara terus berupaya untuk memberikan layanan terbaik kepada masyarakat, termasuk dalam hal penyediaan energi yang berkualitas dan terjangkau. Penyesuaian harga ini mencerminkan upaya Pertamina untuk merespons dinamika pasar global dan domestik demi menjaga stabilitas pasokan serta memberikan nilai tambah bagi konsumen.
Masyarakat dihimbau untuk selalu mengacu pada informasi resmi yang dikeluarkan oleh Pertamina melalui kanal-kanal resminya untuk mendapatkan data harga BBM yang paling akurat. Hal ini penting untuk menghindari informasi yang tidak valid atau menyesatkan.
Proses penyesuaian harga BBM ini merupakan bagian dari strategi Pertamina dalam mengelola portofolio produknya agar tetap kompetitif di pasar. Dengan adanya variasi produk dan penyesuaian harga yang dinamis, Pertamina berupaya memenuhi kebutuhan beragam segmen konsumen di seluruh Indonesia.
Selain itu, keputusan penyesuaian harga ini juga mencerminkan transparansi Pertamina dalam mengelola bisnisnya. Informasi harga yang disampaikan secara terbuka kepada publik menunjukkan akuntabilitas perusahaan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.
Penting untuk dicatat bahwa penyesuaian harga ini hanya berlaku untuk BBM non-subsidi. BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Bio Solar tetap dijaga harganya untuk memastikan aksesibilitas energi bagi seluruh lapisan masyarakat, sesuai dengan kebijakan pemerintah.
Dengan adanya penurunan harga BBM non-subsidi ini, diharapkan dapat mendorong efisiensi penggunaan bahan bakar serta memberikan stimulus positif bagi perekonomian secara umum. Konsumen kini memiliki pilihan yang lebih menarik dengan harga yang lebih kompetitif untuk kebutuhan transportasi dan operasional sehari-hari.


















