Mengungkap ‘Bali Slam’: Identitas Islam Bali yang Terlupakan
Selama dua tahun penuh dedikasi, sebuah penelitian mendalam akhirnya membuahkan hasil yang signifikan dalam mengungkap tabir sejarah Islam di Pulau Dewata. Sebuah buku berjudul ‘Bali Slam – Entitas yang Terlupakan’ kini resmi diperkenalkan kepada publik. Karya kolaborasi antara Ilham Efendi dan Dompet Dhuafa Bali ini diluncurkan di Denpasar, menandai sebuah tonggak penting dalam literasi sejarah keislaman di Bali.
“Alhamdulillah, buku ini diharapkan bisa memberikan literasi bagi semua mengenai Bali Slam,” ujar Ilham Efendi, salah satu penggagas utama di balik karya ini. Ia menjelaskan bahwa ‘Bali Slam’ merupakan sebutan atau identitas bagi masyarakat Islam Bali yang selama ini seolah terlupakan dalam narasi sejarah yang lebih luas. Padahal, keberadaan mereka bukanlah sebagai pendatang baru, melainkan sebagai saudara kedua yang telah lama beriringan dengan masyarakat Hindu Bali.
Ilham Efendi, seorang putra asli Denpasar, dalam tulisannya memberikan gambaran yang sangat lengkap mengenai jejak sejarah Islam di Bali. Buku ini tidak hanya menyoroti lokasi-lokasi bersejarah, tetapi juga mengungkap berbagai artefak peninggalan yang jarang terekspos ke permukaan. Upaya penelusuran ini memakan waktu lebih dari dua tahun, di mana Ilham bersama rekan-rekannya secara cermat mencari dan menelusuri jejak ‘Bali Slam’ di berbagai penjuru pulau.
Penelitian ini membawa mereka menjelajahi beberapa titik penting:
- Kampung Islam Gelgel di Klungkung: Salah satu pusat awal penyebaran Islam di Bali.
- Kampung Kecicang Islam dan Kampung Islam Buitan di Karangasem: Wilayah lain yang menyimpan jejak sejarah keislaman.
- Kampung Kepaon di Badung: Kini menjadi bagian dari wilayah Denpasar, kampung ini memiliki cerita panjang tentang komunitas Muslim.
- Kampung Bugis Suwung Batan Kendal: Menunjukkan adanya permukiman Bugis yang turut membentuk keragaman masyarakat Bali.
- Kampung Bugis Serangan, Tanjung Benoa, dan Tuban di Kuta: Wilayah pesisir yang juga menjadi saksi sejarah kehadiran Islam.
- Kampung Loloan di Jembrana: Menelusuri jejak komunitas Islam di bagian barat Bali.
- Buleleng di Singaraja dan Pegayaman: Wilayah utara Bali yang juga memiliki sejarah Islam yang kaya.
Menurut Ilham Efendi, buku ‘Bali Slam’ lebih dari sekadar membuka kembali lembaran sejarah yang lama terkubur atau menyingkap jejak Islam di tanah Bali yang terlupakan oleh narasi besar sejarah. Buku ini bukan pula sekadar cerita lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Lebih dari itu, ‘Bali Slam’ berupaya mengurai bukti-bukti sejarah konkret, manuskrip kuno, dan tradisi yang secara gamblang menunjukkan bahwa umat Islam telah menjadi bagian integral dari sejarah Bali sejak berabad-abad yang lalu.
“Saya ingin buku ini bisa bermanfaat, agar generasi penerus tidak lupa dengan Bali Slam. Mereka bisa menjaga warisan sejarah, budaya, dan peradaban yang menjadi bagian dari Bali,” tegas Ilham Efendi, mengungkapkan harapannya agar buku ini dapat menumbuhkan kesadaran dan rasa bangga akan keberagaman sejarah Bali.
Apresiasi terhadap karya ini datang dari berbagai kalangan akademisi. Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (Unud), Prof. I Putu Gede Suwitha, memberikan penilaian tinggi terhadap buku ‘Bali Slam’. Beliau menyebutnya sebagai hasil penelitian yang komprehensif dan memberikan bukti baru yang sangat berharga.
Menurut Prof. Gede Suwitha, buku ini tidak hanya menambah wawasan mengenai sejarah dan budaya Bali, tetapi juga memperjelas hubungan antara Bali dan Islam yang telah terjalin sejak abad ke-17 hingga ke-18. “Buku ini kaya dengan bahan-bahan sejarah. Bali Slam juga merupakan saudara kedua bagi Hindu Bali,” ujarnya, menegaskan kembali konsep persaudaraan yang mendalam.
Konsep ‘saudara kedua’ ini merujuk pada nilai luhur dalam budaya Bali, yaitu ‘nyama braya’. Prinsip ini mengajarkan tentang persaudaraan dan pengakuan sosial yang kuat, di mana manusia tetap dianggap bersaudara meskipun memiliki perbedaan keyakinan. Konsep inilah yang menjadi perekat keharmonisan antarumat beragama di Bali selama berabad-abad.
Senada dengan pandangan tersebut, Kepala Divisi Pengembangan Program Pendidikan, Riset, dan Budaya Dompet Dhuafa, Haryo Mojopahit, juga memberikan apresiasi mendalam setelah acara peluncuran buku ‘Bali Slam’. Menurutnya, buku ini berhasil mengungkap sejarah umat Islam yang tak terpisahkan dari perjalanan arus sejarah di Pulau Dewata.
“Buku ini menguak peran dan kontribusi ‘nyame slam’ yang bahu-membahu dengan ‘nyame hindunya’. Semoga buku ini memberikan manfaat bagi semua pembacanya,” tutur Haryo Mojopahit, menekankan sinergi dan kolaborasi antarumat beragama yang telah lama terjalin. Peluncuran buku ‘Bali Slam’ ini diharapkan menjadi awal dari kesadaran yang lebih luas akan kekayaan sejarah dan keragaman budaya yang dimiliki Bali, serta menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan leluhur untuk generasi mendatang.



















