Donald Trump Tolak Minta Maaf Atas Unggahan Video Bernuansa Rasis
Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah menarik perhatian publik dan menuai kecaman luas setelah mengunggah video bernuansa rasis di media sosialnya. Video tersebut menampilkan mantan Presiden Barack Obama dan Michelle Obama dengan tubuh kera. Di tengah gelombang kritik yang semakin deras, Trump justru memilih untuk tidak meminta maaf, bersikeras bahwa dirinya tidak bersalah dan menganggap insiden tersebut sebagai kelalaian teknis yang berada di luar kendalinya.
“Saya tidak melakukan kesalahan,” tegas Trump kepada awak media saat dalam perjalanan menuju Florida pada Jumat (6/2), di dalam pesawat kepresidenan Air Force One.
Trump mengklaim bahwa ia hanya sempat menyaksikan bagian awal dari video berdurasi sekitar satu menit tersebut, yang pada mulanya membahas klaim tanpa dasar mengenai kecurangan dalam Pemilihan Presiden 2020. Ia menyatakan bahwa ia tidak sempat melihat bagian akhir video yang kini dikecam secara luas sebagai tindakan rasisme, yang menampilkan visual Barack dan Michelle Obama dengan tubuh kera.
“Saya hanya melihat bagian pertama… saya tidak melihat keseluruhan videonya,” ujar Trump. Ia menambahkan bahwa unggahan tersebut telah diserahkan kepada pihak lain untuk diposting, dan mengakui bahwa “seseorang terpeleset dan melewatkan bagian yang sangat kecil.”
“Saya kira kemungkinan besar tidak ada yang meninjau bagian akhirnya,” lanjut Trump, yang menunjukkan adanya potensi kesalahan dalam proses peninjauan konten sebelum diunggah.
Pernyataan Trump ini disampaikan di tengah desakan yang signifikan dari sejumlah legislator Partai Republik, yang secara terbuka memintanya untuk menyampaikan permintaan maaf secara publik. Namun, Trump dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak memiliki rencana untuk melakukannya.
Ketika ditanya mengenai seruan untuk meminta maaf, ia kembali menegaskan bahwa ia tidak akan meminta maaf. Meskipun demikian, ketika ditanya apakah ia mengecam bagian video yang bersifat rasis, Trump menjawab “tentu saja,” menunjukkan pengakuan bahwa konten tersebut memang bermasalah, meskipun ia enggan bertanggung jawab langsung.
Teknologi AI dan Jejak Rasisme dalam Video Kontroversial
Bagian video yang memicu kontroversi ini dilaporkan dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Cuplikan singkat tersebut menampilkan tubuh dua ekor kera yang digabungkan dengan wajah Barack dan Michelle Obama, dengan latar belakang hutan dan beberapa kera lainnya. Meskipun kemunculannya hanya sesaat, visualisasi ini dinilai mengandung simbolisme rasisme yang sangat sensitif dan memiliki akar sejarah yang panjang dalam diskriminasi rasial di Amerika Serikat.
Video tersebut merupakan salah satu dari puluhan unggahan yang dibagikan oleh Trump di akun Truth Social-nya, antara larut malam 5 Februari hingga dini hari 6 Februari. Pada tahap awal penayangan, Gedung Putih sempat memberikan pembelaan atas unggahan tersebut.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa video itu berasal dari sebuah meme internet yang menggambarkan Presiden Trump sebagai “Raja Hutan” dan Partai Demokrat sebagai karakter dari film “The Lion King”.
“Mohon hentikan kemarahan palsu ini,” tambah Leavitt, mencoba meredam kritik yang muncul.
Namun, seiring dengan meluasnya kritik, termasuk dari kalangan internal Partai Republik yang biasanya enggan mengkritik pemimpin partainya, Gedung Putih akhirnya mengambil jarak dari unggahan tersebut. Seorang pejabat Gedung Putih kemudian menyatakan bahwa video itu dibagikan secara keliru oleh seorang staf Trump yang tidak disebutkan namanya. Unggahan tersebut akhirnya dihapus dari akun Truth Social Trump setelah tayang selama kurang lebih 12 jam.
Reaksi Keras dari Anggota Partai Republik
Reaksi keras justru datang dari sejumlah senator Republik, yang selama ini dikenal cukup enggan untuk mengkritik Donald Trump secara terbuka.
Senator Tim Scott dari South Carolina, yang merupakan sekutu dekat Trump dan salah satu politisi Republik kulit hitam terkemuka, menulis di platform media sosialnya bahwa ia “berdoa agar video itu palsu karena itu adalah hal paling rasis yang pernah saya lihat dari Gedung Putih.” Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya dampak video tersebut, bahkan bagi pendukung Trump.
Senator John Curtis dari Utah juga turut angkat bicara, menyebut unggahan tersebut sebagai “sangat rasis dan tidak bisa dimaafkan.” Pernyataan ini menegaskan bahwa bahkan di dalam tubuh Partai Republik sendiri, terdapat pandangan yang jelas mengenai sifat rasis dari konten yang diunggah.
Sementara itu, Senator Pete Ricketts dari Nebraska berpendapat bahwa “orang yang masuk akal” akan menilai video tersebut sebagai “rasis” dan menyerukan agar Trump segera meminta maaf. Seruan ini menunjukkan adanya tekanan yang semakin meningkat dari berbagai pihak di dalam partai untuk mendapatkan akuntabilitas dari mantan presiden.
Pola Komunikasi Trump dan Dampaknya
Meskipun mendapat kritik tajam dari berbagai arah, Trump tetap teguh pada pembelaannya. Ia justru menyebut dirinya sebagai presiden yang paling tidak rasis yang pernah ada dalam waktu yang lama, dan mengklaim telah melakukan banyak hal positif untuk para pemilih kulit hitam.
“Saya telah berbuat sangat baik,” kata Trump, merujuk pada reformasi peradilan pidana dan berbagai kebijakan lain yang menurutnya memberikan manfaat bagi komunitas kulit hitam.
Para pengamat politik, mengutip laporan dari USA Today, melihat sikap Trump yang menolak meminta maaf dan cenderung mengecilkan kontroversi ini sebagai penegasan kembali dari pola komunikasi lamanya. Pola tersebut meliputi: meredam kritik dengan menyangkal kesalahan, mengalihkan tanggung jawab kepada pihak lain, dan melabeli kemarahan publik sebagai reaksi yang berlebihan.
Di tengah meningkatnya peran kecerdasan buatan (AI) dan media sosial dalam lanskap politik modern, polemik ini menjadi sebuah contoh nyata bagaimana batas antara disinformasi, simbolisme rasial, dan strategi politik menjadi semakin kabur. Hal ini terus memicu perdebatan yang tajam dan mendalam di ruang publik mengenai etika, tanggung jawab, dan dampak teknologi dalam penyebaran konten.
















