Graha Wangi Bertransformasi Menjadi BEEK: Jantung Ekosistem Seni dan Budaya Kuningan
Gedung bersejarah Graha Wangi di Jalan Veteran, Kabupaten Kuningan, telah mengalami metamorfosis luar biasa. Dari sebuah bangunan cagar budaya yang tenang, kini ia menjelma menjadi pusat denyut nadi kreativitas dan kolaborasi lintas disiplin. Periode 7 hingga 14 Februari 2026 menjadi saksi bisu perayaan satu tahun pemanfaatan Graha Wangi oleh Yayasan Tulisan dan Gambar (tudgam), sekaligus menjadi momen peresmian BEEK (Balai Edukasi dan Ekosistem Kuningan) sebagai art collective compound. BEEK hadir sebagai wadah yang menaungi berbagai kolektif seni dan inisiatif komunitas di Kuningan, membuka babak baru bagi pengembangan seni dan budaya di daerah tersebut.
Acara pembukaan yang meriah pada 7 Februari 2026 dihadiri oleh para petinggi dari Kementerian Kebudayaan, pemerintah daerah, serta berbagai elemen masyarakat yang peduli terhadap seni dan budaya. Peresmian dilakukan oleh Setditjen Pengembangan Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan (PPK) Kementerian Kebudayaan, Judi Wahjudin. Turut hadir pula Staf Khusus (Staf Ahli) Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Nissa Rengganis; Wakil Bupati Kuningan, Tuti Adriani; Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan, Purwadi Hasan Darsono; Kepala Bidang Kebudayaan, Funny Amalia Sari; perwakilan Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kuningan; serta berbagai seniman, akademisi, komunitas, dan warga sekitar.
Jejak Sejarah Graha Wangi Menuju Ruang Kreativitas
Pemanfaatan Graha Wangi oleh Yayasan Tulisan dan Gambar dimulai pada Desember 2024. Melalui skema sewa dengan pemerintah daerah, bangunan cagar budaya ini diubah fungsinya menjadi ruang edukasi, seni, dan kebudayaan. Sejak saat itu, Graha Wangi telah menjadi pusat kegiatan kreatif yang dinamis, memfasilitasi kolaborasi seni dan berbagai inisiatif budaya di Kabupaten Kuningan.
Gedung Graha Wangi sendiri memiliki nilai sejarah yang mendalam. Bangunan ini merupakan salah satu peninggalan berharga dari masa kolonial Belanda, yang dulunya berfungsi sebagai kantor resimen tentara Belanda di wilayah Kuningan. Keberadaannya menyimpan jejak sejarah militer dan administratif kolonial yang signifikan. Berkat arsitektur klasiknya dan statusnya sebagai warisan sejarah, Graha Wangi mendapatkan perhatian khusus untuk pelestarian dan pemanfaatannya kembali sebagai ruang budaya yang relevan bagi masyarakat modern. Kini, melalui transformasi kreatif ini, Graha Wangi bukan sekadar bangunan tua, melainkan telah berevolusi menjadi laboratorium kreativitas dan ekosistem budaya yang memperkuat jejaring, pendidikan, serta ekspresi seni di Kuningan.
Kelahiran BEEK: Ekosistem Kolaborasi Lintas Disiplin
Dalam kurun waktu satu tahun, Graha Wangi telah berkembang pesat menjadi pusat kolaborasi lintas disiplin yang aktif. Seniman, kurator, penulis, peneliti, berbagai komunitas, generasi muda, hingga masyarakat umum bertemu dan berinteraksi dalam beragam program edukasi dan kebudayaan yang diselenggarakan. Dinamika yang terus tumbuh ini melahirkan sebuah ekosistem baru yang diberi nama BEEK.
BEEK dirumuskan bukan hanya sekadar sebagai tempat untuk menyelenggarakan kegiatan, melainkan sebagai sebuah sistem dukungan kolektif yang memfasilitasi kerja-kerja seni dan pengetahuan. Konsep ini dibangun bukan semata-mata berdasarkan program, melainkan pada fondasi jejaring dan ekosistem yang kuat. Saat ini, BEEK menaungi sedikitnya enam organisasi dan inisiatif penting, yaitu:
- Yayasan Tulisan dan Gambar (tudgam)
- Kuningan Biennale
- Adu Ide
- Sekolah Baik
- Kopi I.U
- Dapur Maung
- Musik Kisum
Perlu digarisbawahi, Kuningan Biennale ditegaskan sebagai lembaga independen yang tetap beroperasi dalam payung ekosistem BEEK, menunjukkan sinergi yang harmonis antar elemen.
Rangkaian Acara “Open House” BEEK: Merayakan Satu Tahun Transformasi
Selama periode open house yang berlangsung seminggu penuh, Graha Wangi menjadi arena pertemuan berbagai gagasan dan kreativitas. Sedikitnya tujuh program utama dihadirkan untuk dinikmati publik, mencakup diskusi publik, kuliah umum, lokakarya kreatif, hingga pertunjukan musik yang memukau.
Salah satu diskusi publik yang paling menarik bertajuk “Ruang Cagar Budaya sebagai Infrastruktur Masa Kini: Membangun Ekosistem Sastra dan Kebermanfaatan Ruang Publik”. Diskusi ini menghadirkan narasumber-narasumber berkompeten, termasuk Setditjen PPK Kementerian Kebudayaan, Judi Wahjudin; Staf Khusus Menteri Kebudayaan, Nissa Rengganis; serta Penulis dan Budayawan Kuningan, Pandu Hmazah. Diskusi yang dimoderatori oleh Irvin Domi ini secara mendalam menyoroti pentingnya pemanfaatan bangunan cagar budaya sebagai ruang hidup yang relevan dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat kontemporer.
Kuliah umum yang diselenggarakan juga tidak kalah menarik. Ade Darmawan, seorang seniman ternama dan pendiri ruangrupa Jakarta, berbagi pandangannya mengenai seni kolektif sebagai sarana belajar dan cara efektif untuk memperindah dan mewarnai wajah kota. Sementara itu, kurator dan penulis Alia Swastika mengupas tuntas konsep biennale sebagai ruang pembelajaran yang kaya akan narasi, eksplorasi lokalitas, dan kerja kuratorial yang inovatif.
Rangkaian acara ini juga menjadi momentum peluncuran Kuningan Biennale 2026 dan Program Sekolah Baik, sebuah sekolah non-formal yang berfokus pada penulisan esai seni dan budaya. Program ini menghadirkan Agung M. Abul, M. Agil, dan Berto Tukan sebagai pengajar. Selain itu, berbagai kegiatan menarik juga dirancang khusus untuk anak-anak dan komunitas muda. Di antaranya adalah lokakarya pembuatan wayang kardus yang digagas oleh tudgam Kids, lokakarya zine sebagai medium ekspresi diri oleh Adu Ide, pertunjukan musik dari Musik Kisum, serta sesi berbagi pengalaman kuliner lokal bersama Dapur Maung dan Kopi I.U.
Keterlibatan Beragam Sektor: Memperkuat Akar Lokal dan Inovasi
Kolaborasi tidak hanya terbatas pada dunia seni dan budaya. BEEK juga aktif menjalin kemitraan dengan pelaku usaha lokal, terbukti dari digelarnya diskusi tentang ekosistem kopi Ciremai dan peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang digerakkan oleh anak muda dalam memperkuat ketahanan lokal. Di sisi lain, kerja sama dengan Bank Indonesia Cirebon menghadirkan sosialisasi mengenai perkembangan sistem pembayaran terkini dan upaya perlindungan konsumen.
Yang paling membanggakan adalah keterlibatan aktif warga sekitar dalam perayaan ini. Ibu-ibu dari Gang Cijalim dan siswa-siswi dari SDN 2 Kuningan turut diundang untuk berinteraksi dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. Hal ini menunjukkan komitmen BEEK untuk menjadikan ruang seni tetap berakar kuat pada lingkungan sekitar dan membangun rasa kepemilikan bersama.
Visi Inklusif BEEK: Ruang Bersama untuk Kemajuan Budaya
Transformasi BEEK bukanlah upaya untuk membangun sebuah pusat kesenian yang eksklusif, melainkan menciptakan sebuah ruang bersama yang inklusif bagi semua. Balai Edukasi dan Ekosistem Kuningan diproyeksikan sebagai platform lintas disiplin yang mampu mengelola dan mengembangkan dukungan terpadu bagi komunitas dan talenta kreatif. Melalui jejaring kolaboratif yang terjalin, berbagai ide dan pengetahuan akan dipertemukan, mendorong lahirnya pemikiran kritis, kreativitas, dan inovasi yang berkelanjutan.
Hasil dari kolaborasi ini akan disajikan kepada publik dalam berbagai bentuk, mulai dari pameran seni, festival budaya, lokakarya interaktif, diskusi mendalam, pemutaran film, konser musik, hingga penerbitan karya-karya kreatif. BEEK membuka diri bagi berbagai kepentingan publik, dengan pengecualian kegiatan ritual keagamaan dan kampanye partai politik.
Satu tahun perjalanan Graha Wangi dalam bertransformasi menjadi BEEK telah membuktikan bagaimana sebuah bangunan cagar budaya dapat dihidupkan kembali dan berfungsi sebagai infrastruktur kebudayaan yang dinamis. Di tengah keterbatasan ruang publik untuk berekspresi yang sering dihadapi di daerah, kehadiran BEEK menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi komunitas yang kuat dapat menghidupkan kembali ruang yang sempat sunyi dan menjadikannya bagian integral dari denyut kebudayaan lokal yang terus berkembang.


















