Sejarah Tragedi Jumat Kelabu yang Masih Terkenang
Kuburan massal korban kerusuhan Jumat Kelabu 23 Mei 1997 berada di Jl A Yani Landasanulin Selatan, Kecamatan Lianganggang, Kota Banjarbaru. Tempat ini menjadi saksi bisu dari kekacauan yang terjadi di Kota Banjarmasin pada masa itu. Tragedi tersebut menewaskan 123 orang, melukai 118 orang, dan membuat 179 orang hilang tanpa jejak.
Di kawasan permakaman umum Jalan Ahmad Yani Kilometer 22, Kelurahan Landasanulin Selatan, kuburan massal ini masih menjadi tempat peringatan bagi sebagian masyarakat. Sebagian besar jenazah korban dikuburkan dalam satu liang, tanpa ada daftar nama yang jelas hingga saat ini. Pada Jumat (22/5/2026), atau sehari sebelum peringatan Jumat Kelabu, kondisi makam penuh dengan rumput rendah dan ada bekas pembersihan.
Plang kayu ulin bertuliskan “Jumat Kelabu Makam Massal” masih berdiri dengan kondisi kusam. Hanya itu yang menjadi penanda kuburan massal Jumat Kelabu di sini. Di areal makam juga terdapat beberapa nisan yang dipasang oleh keluarga korban. Beberapa nisan bahkan lengkap dengan identitas dan tanggal kematian.
Sabrianyah atau Julak Utuh, seorang relawan yang rutin membasmi rumput di lahan permakaman milik Pemerintah Kota Banjarmasin, mengatakan bahwa ia membersihkan makam secara rutin. Kegiatan ini dibantu oleh dinas terkait dalam bentuk penyediaan cairan pembasmi rumput. Pembersihan dilakukan untuk memberikan kenyamanan bagi peziarah atau keluarga korban yang biasa berkunjung.
Namun, Sabrianyah mengungkapkan kendala dalam pembersihan dan perawatan makam. Area tanah yang rendah menyebabkan air sering menggenang saat hujan, sehingga cairan pembasmi rumput tidak efektif. Ia juga menyampaikan bahwa jasad yang dimakamkan di tempat ini sebagian besar dalam kondisi hangus, sehingga identitasnya sulit dikenali. Jumlah korban disebutnya mencapai ratusan jiwa.
Menurut Sabrianyah, pemakaman saat itu dilakukan secara massal dengan menggali lubang yang cukup panjang, lalu jenazah disusun berjejer. “Dulu ditabuk memanjang, lalu mayatnya disusun. Tidak tahu siapa karena kondisinya tabakar. Yang mana laki-laki, yang mana perempuan tidak tahu,” cerita Sabrianyah yang mengaku turut menyaksikan pemakaman itu.
Saat kerusuhan Jumat Kelabu pecah di Banjarmasin, dia mengaku tidak melihatnya secara langsung. Saat itu dia tinggal di Banjarbaru, sampai saat ini. Selama puluhan tahun menjaga makam massal ini, ia menyebut jarang ada peziarah. Kalaupun ada keluarga korban yang datang, itu kemungkinan hanya berkeyakinan bahwa anggota keluarganya dimakamkan di sini.


















