Menangis di Final, Arsenal Pecahkan Rekor Pendapatan Liga Champions

Diposting pada

Rekor Pendapatan Tinggi Arsenal di Liga Champions

Meski kalah dari PSG di final Liga Champions 2025/2026, Arsenal mencatatkan sejarah baru dengan pendapatan tertinggi klub Inggris sebesar 145 juta poundsterling. Angka ini menunjukkan keberhasilan klub dalam meraih pemasukan besar berkat performa konsisten sepanjang turnamen, bonus hasil pertandingan, pencapaian fase gugur, serta distribusi koefisien dan nilai komersial UEFA.

Kekalahan menyakitkan yang dialami Arsenal di final Liga Champions 2025/2026 ternyata tidak menghalangi mereka mencatatkan sejarah baru. The Gunners harus mengakui keunggulan Paris Saint-Germain lewat adu penalti 4-3 setelah bermain imbang 1-1 hingga 120 menit di Puskas Arena, Budapest, Minggu (31/5/2026) dini hari WIB.

Dua penendang Arsenal, Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes, gagal menjalankan tugasnya dalam babak tos-tosan. Sebelumnya, Arsenal sempat unggul lebih dulu melalui gol cepat Kai Havertz pada menit keenam. Namun, PSG mampu menyamakan kedudukan lewat penalti Ousmane Dembele setelah pelanggaran yang dilakukan Cristian Mosquera terhadap Khvicha Kvaratskhelia pada menit ke-64.

Meski gagal mengangkat trofi, Arsenal tetap menorehkan pencapaian finansial luar biasa. Berdasarkan proyeksi distribusi hadiah UEFA, Arsenal diperkirakan mengumpulkan pendapatan sebesar 145 juta poundsterling atau sekitar Rp2,99 triliun sepanjang perjalanan mereka di Liga Champions musim ini. Jumlah tersebut menjadi rekor tertinggi yang pernah diraih klub Inggris dalam sejarah kompetisi. Catatan itu bahkan melampaui pendapatan sejumlah juara Liga Champions Inggris pada masa lalu.

Salah satu faktor utama yang membuat pemasukan Arsenal melonjak adalah performa konsisten mereka sepanjang turnamen. Pasukan Mikel Arteta tidak pernah kalah dalam waktu normal selama kampanye Liga Champions 2025/2026 hingga partai final. Selain bonus hasil pertandingan dan pencapaian fase gugur, Arsenal juga memperoleh pemasukan besar dari sistem koefisien UEFA dan distribusi nilai komersial kompetisi.

Sementara itu, sang juara PSG diperkirakan memperoleh sekitar 127 juta poundsterling (sekitar Rp3 triliun) atau sedikit lebih tinggi dibanding Arsenal berkat bonus tambahan sebagai pemenang final. Di bawah kedua finalis tersebut, Liverpool menjadi klub dengan pendapatan terbesar berikutnya, yakni sekitar 95,3 juta poundsterling (sekitar Rp2,2 triliun) meski tersingkir lebih awal.

Menariknya, semifinalis seperti Atletico Madrid (£90,7 juta) dan Real Madrid (£90,1 juta) justru memperoleh pendapatan lebih rendah dibanding Liverpool. Di sisi lain, tim debutan Liga Champions, Kairat Almaty, diproyeksikan telah mengumpulkan £16,7 juta (sekitar Rp400 miliar) selama kiprah mereka di kompetisi tersebut.

Meski begitu, angka-angka tersebut belum sepenuhnya akurat dan belum diterbitkan oleh UEFA. Walau gagal mengakhiri penantian gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub, Arsenal setidaknya pulang dengan hadiah yang fantastis. Kini, Arteta dan manajemen Arsenal akan berharap dana besar tersebut dapat menjadi modal penting untuk memperkuat skuad pada bursa transfer musim panas 2026.

Cara Kerja Alokasi Hadiah Uang UEFA

Besarnya hadiah yang diterima klub-klub peserta Liga Champions tidak hanya ditentukan oleh prestasi di lapangan. UEFA menggunakan beberapa komponen dalam mendistribusikan dana hadiah, termasuk performa kompetisi dan peringkat koefisien klub.

Sekitar 33 persen dari total dana hadiah Liga Champions, atau setara 788 juta poundsterling, dibagikan berdasarkan pencapaian klub selama turnamen berlangsung. Artinya, semakin jauh langkah sebuah tim di kompetisi, semakin besar pula pendapatan yang mereka peroleh.

Selain itu, UEFA juga mengalokasikan sekitar 744 juta poundsterling melalui sistem koefisien klub. Koefisien ini dihitung berdasarkan performa klub dalam kompetisi UEFA selama lima musim terakhir. Semakin konsisten sebuah klub tampil dan meraih hasil positif di ajang Eropa, semakin tinggi nilai koefisien yang mereka miliki.

Saat ini Liverpool menjadi klub Inggris dengan koefisien tertinggi, menempati posisi keempat Eropa di bawah Bayern Munich, Real Madrid, dan Paris Saint-Germain. Meski berhasil mencapai final Liga Champions 2025/2026, Arsenal masih berada di posisi ketujuh dalam daftar koefisien UEFA.

Klub-klub Inggris lainnya yang masuk 20 besar koefisien UEFA adalah Chelsea di peringkat 12, Aston Villa di posisi 17, dan Tottenham Hotspur di urutan 19. Sementara itu, Manchester United turun ke posisi ke-21 setelah absen dari seluruh kompetisi antarklub UEFA musim ini.

Tim yang kini ditangani Michael Carrick berpeluang memperbaiki posisinya pada musim depan setelah memastikan tiket Liga Champions berkat finis di posisi ketiga Liga Inggris. Sistem koefisien inilah yang membuat sejumlah klub tetap memperoleh pemasukan besar meski tidak melangkah terlalu jauh di Liga Champions.

Gambar Gravatar
Erwin merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan