Kematian Asprina Surbakti, Wakil Rektor II Institut Teknologi dan Bisnis (IT&B) Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mulai menemukan titik terang setelah polisi mengamankan dua orang yang diduga terlibat. Asprina, yang berusia 38 tahun, ditemukan sudah tidak bernyawa di rumahnya di Perumahan Je Kesain No. 2C1, Desa Raya, Kecamatan Berastagi, pada Sabtu (26/9/2026). Dari rangkaian temuan awal, polisi menduga peristiwa ini berkaitan dengan pencurian disertai kekerasan.
Petunjuk utama mengarah pada hilangnya mobil Mitsubishi XForce bernomor polisi BK 1326 SAD milik korban. Kendaraan itu tidak berada di garasi saat keluarga dan saksi mendatangi rumah Asprina. Selain mobil, telepon genggam korban juga disebut tidak ditemukan di lokasi. Polisi kemudian mengembangkan penyelidikan hingga akhirnya, tiga hari setelah penemuan jenazah, dua terduga pelaku ditangkap oleh tim Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumut.
Informasi penangkapan itu sempat dikaitkan dengan operasi yang dipimpin Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumut, Kompol Jama Kita Purba. Meski begitu, saat dimintai konfirmasi, ia tidak memberikan penjelasan rinci. Ia hanya menyampaikan bahwa tim masih terus bekerja dan hasil pengembangan kasus akan diumumkan kemudian. Pada Selasa (29/9/2026), Jama juga membenarkan bahwa dua orang yang diamankan itu merupakan tukang bangunan.
Kronologi kematian Asprina terungkap dari keterangan keluarga. Pada Jumat (25/9/2026) sekitar pukul 19.30 WIB, kakak korban, Redianto Surbakti (50), menerima telepon dari Rektor ITB Kabanjahe, David Melalaikan. Dalam percakapan itu, David meminta Redianto memeriksa kondisi Asprina karena korban tidak bisa dihubungi lewat telepon maupun WhatsApp. Redianto lalu menuju rumah korban, tetapi pintu dalam keadaan terkunci dan panggilannya tak mendapat respons.
Setibanya di rumah, Redianto mendapati mobil yang biasa digunakan Asprina sudah tidak ada. Keluarga kemudian mencoba mencari korban ke tempat kerja, namun ia juga tidak ditemukan di kampus. Setelah itu, keluarga kembali ke rumah dan meminta bantuan satpam perumahan, Arianto Simanjuntak (22), serta kepala dusun untuk membuka pintu. Begitu akses masuk didapat, pencarian dilakukan di dalam rumah hingga Asprina ditemukan di kamar mandi dalam kondisi telentang dan tak bergerak. Keluarga lalu melapor ke polisi.
Kasi Humas Polres Karo, AKP Pedoman Maha, menyebut secara kasat mata tidak tampak luka pada tubuh korban. Namun, dari pemeriksaan awal, mulut Asprina mengeluarkan darah. Polisi juga memastikan mobil dan ponsel korban diduga hilang, sehingga dugaan tindak pidana semakin menguat. Hingga kini, penyidik masih menunggu hasil autopsi untuk memperjelas penyebab kematian dan peran masing-masing terduga pelaku.
Di luar kasus tersebut, Asprina dikenal sebagai akademisi dan praktisi teknologi informasi. Ia tercatat bergabung di IT&B Kabanjahe sejak 2010, aktif dalam pengembangan sistem informasi, basis data, serta penerapan teknologi untuk kebutuhan kampus dan masyarakat. Semasa hidup, ia juga terlibat dalam berbagai karya ilmiah, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Setelah kabar duka tersebar, ucapan belasungkawa mengalir di media sosial, sementara jenazahnya dibawa ke kampung halaman di Ajibuhara, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo.
Sumber: bangka.tribunnews.com




