Manchester City Terancam Sanksi Berat Usai Putusan Pelanggaran Finansial

Diposting pada

Manchester City menghadapi masa depan yang tidak pasti setelah panel independen Premier League dilaporkan menyatakan klub itu bersalah atas hampir seluruh dari 115 tuduhan pelanggaran aturan finansial. Jika putusan tersebut bertahan dalam proses hukum, sanksi yang mengintai tidak hanya berupa denda, tetapi juga pengurangan poin, pembatasan lain, bahkan pengusiran dari kompetisi. Situasi ini membuat nasib klub, para pemain, Pep Guardiola, hingga kredibilitas Premier League ikut dipertaruhkan.

Perkara ini belum selesai karena Manchester City diperkirakan akan mengajukan banding. Artinya, keputusan akhir masih bisa berubah, sementara proses hukum berpotensi memakan waktu panjang. Reuters melaporkan investigasi terhadap klub itu sudah berlangsung sekitar empat tahun sebelum dakwaan diumumkan pada Februari 2023. Seorang sumber sepak bola yang mengetahui jalannya perkara bahkan menyebut prosesnya kemungkinan akan berjalan “berlarut-larut.”

Jika sanksi benar-benar dijatuhkan, Premier League memiliki ruang hukuman yang luas. Selain denda tanpa batas, kompetisi itu dapat memberi pengurangan poin dalam jumlah besar atau hukuman lain yang dianggap tepat. Ancaman yang paling terasa justru ada pada poin, karena dugaan pelanggaran mencakup rentang sembilan musim, dari 2009 hingga 2018. Dalam pandangan pakar keuangan sepak bola Kieran Maguire, hukuman yang sejalan dengan preseden sebelumnya bisa berada di kisaran 40 sampai 60 poin.

Maguire mencontohkan kasus Everton dan Nottingham Forest, yang masing-masing mendapat pengurangan enam dan empat poin untuk pelanggaran dalam periode tiga tahun. Menurutnya, skala kasus Manchester City jauh lebih besar sehingga angka hukuman juga bisa melonjak tajam. Dampaknya pun bisa mengubah peta klasemen secara drastis. Sebagai ilustrasi, City menutup musim lalu di urutan kedua dengan 78 poin; pengurangan 40 poin saja akan membuat mereka terlempar ke posisi ke-18 dalam perhitungan tersebut.

Meski begitu, degradasi otomatis ke Championship tidak berlangsung sesederhana memotong poin. Premier League memiliki kewenangan untuk mengeluarkan klub dari kompetisi, dan setelah itu English Football League akan menentukan apakah klub tersebut diterima dalam piramida sepak bola Inggris serta ditempatkan di level mana. Karena itu, sanksi ekstrem seperti pengusiran akan menjadi kasus yang berbeda dari hukuman yang pernah diterima klub lain.

Isu paling sensitif bukan hanya masa depan musim ini, melainkan juga warisan gelar yang diraih dalam periode yang dipersoalkan. Selama 2009 hingga 2018, Manchester City meraih tiga gelar Premier League dan tiga FA Cup, termasuk trofi-trofi yang direbut saat bersaing dengan Manchester United dan Liverpool. Namun, pencabutan gelar belum tentu menjadi konsekuensi otomatis. James Hill dari Onside Law mengatakan kepada The Athletic bahwa jika ada pengurangan poin, hukuman itu kemungkinan berlaku untuk masa depan. Ia juga menilai panel biasanya enggan memutuskan kepemilikan gelar lewat proses pengadilan.

Di tengah semua ketidakpastian itu, posisi Pep Guardiola dan para pemain bintang turut ikut terseret. Guardiola sebelumnya sempat menegaskan keyakinannya kepada klub saat tuduhan finansial masih diperdebatkan. Kini, dengan putusan bersalah yang dilaporkan sudah muncul, sorotan terhadap City tidak lagi hanya soal hasil di lapangan, tetapi juga soal bagaimana klub raksasa itu menghadapi ancaman sanksi yang bisa mengubah sejarah mereka.

Sumber: www.jawapos.com

Tinggalkan Balasan