Gibran Tinjau Korban Dugaan Keracunan MBG di Batang, Minta Siswa Sementara Bawa Bekal Sendiri

Diposting pada

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi sorotan setelah meminta siswa yang diduga mengalami keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sementara membawa bekal dari rumah. Pernyataan itu disampaikan saat ia meninjau para korban di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada Senin (28/9), di tengah perhatian publik terhadap kasus dugaan keracunan makanan sekolah tersebut.

Dalam kunjungan itu, Gibran berbicara langsung dengan sejumlah siswa dan orang tua yang terdampak. Salah satu percakapan yang terekam lalu tersebar di media sosial menunjukkan Gibran meminta anak yang kondisinya sudah membaik untuk kembali ke sekolah. Kepada orang tua siswa, ia mengatakan, “Kamu hari ini pulang, besok sekolah ya,” sebelum menegaskan agar makanan sementara dipersiapkan dari rumah.

“Bawa bekel dari rumah, MBG jangan dimakan,” kata Gibran dalam dialog tersebut. Pesan itu memicu perbincangan luas karena dinilai tidak biasa diucapkan pejabat yang sedang meninjau kasus dugaan keracunan dari program pemerintah. Di saat yang sama, Gibran juga meminta agar proses penanganan berjalan cepat supaya penyebab kejadian dapat segera diketahui.

Ia menekankan bahwa hasil pemeriksaan harus disampaikan kepada keluarga korban secara terbuka. Menurut Gibran, investigasi tidak boleh berlarut-larut dan kasus serupa tidak boleh terulang kembali. Sikap itu kemudian ditafsirkan sebagian pihak sebagai upaya menunjukkan jarak dengan cara pemerintah merespons kasus dugaan keracunan MBG.

Pengamat politik Ray Rangkuti menilai pernyataan Gibran tidak lepas dari konteks hubungan politik di lingkaran kekuasaan. Saat ditemui JawaPos.com di Jakarta pada Rabu (30/9), Ray mengatakan dirinya sudah berulang kali melihat adanya hubungan yang retak antara Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai, sikap Gibran dalam kasus ini tampak berbeda dari pendekatan pemerintah.

Ray berpendapat, pemerintah terkesan tidak menonjolkan empati terhadap para korban dugaan keracunan. Menurut dia, kesan yang muncul justru seolah ingin mengecilkan persoalan. Dalam pandangannya, Gibran mengambil posisi yang lain dengan memperlihatkan kepedulian langsung kepada siswa dan orang tua yang terdampak.

Selain isi pernyataannya, Ray juga menyoroti pilihan pakaian Gibran saat berada di Batang. Ia membandingkannya dengan kebiasaan Gibran yang kerap memakai warna putih, yang menurutnya senada dengan Prabowo. Dalam kunjungan itu, Gibran disebut mengenakan busana hitam. Ray menilai perbedaan simbolik tersebut memperkuat kesan bahwa Gibran sedang membangun citra yang tidak sama dengan Prabowo.

Sumber: jawapos.com

Tinggalkan Balasan