Nanang Hendarno Pimpin Telkom, Pasar Cermati Arah Transformasi TLKM 30

Diposting pada

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) memasuki babak baru setelah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada Rabu, 30 September 2026, menetapkan Nanang Hendarno sebagai direktur utama. Pergantian ini menggantikan Dian Siswarini yang sebelumnya memimpin perseroan sejak RUPS Tahunan pada 27 Mei 2025. Dalam rapat yang sama, pemegang saham juga menyetujui penunjukan Kharim I. G. Siregar sebagai direktur IT digital dan Radita Al Putra sebagai direktur wholesale & international service.

Selain perubahan di kursi direksi, RUPSLB juga menyetujui pemisahan bisnis wholesale fiber connectivity Tahap dua ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau Infranexia. Keputusan ini menjadi bagian penting dari agenda restrukturisasi yang sedang dijalankan Telkom, terutama karena perusahaan pelat merah tersebut tengah mendorong transformasi menuju model yang lebih ramping dan terfokus pada penguatan nilai aset infrastruktur.

Nanang mengatakan jajaran direksi akan mengejar implementasi program TLKM 30, dengan penekanan pada percepatan penyelesaiannya. Ia menyebut target streamlining yang diminta Danantara diupayakan selesai tahun ini dan berlanjut pada tahun depan. Di sisi jaringan, Telkom juga menyiapkan modernisasi Operation Support Systems (OSS) agar operasional lebih gesit dan efisien, sekaligus meningkatkan kualitas layanan.

Nanang menilai pembaruan OSS merupakan perubahan mendasar bagi fondasi infrastruktur Telkom. Menurutnya, pembenahan ini diperlukan agar perusahaan dapat menjawab kebutuhan pelanggan yang terus berkembang. Program TLKM 30 sendiri berisi empat pilar utama, yakni operational & service excellence, streamlining, unlocking value, dan modus-operandi shift. Hingga semester I-2026, program tersebut telah mendorong perampingan 10 entitas anak usaha dan diarahkan untuk mempercepat peralihan Telkom dari operating holding menjadi strategic holding dengan skema HoldCo-OpCo.

Perubahan pucuk pimpinan ini memunculkan beragam pembacaan di pasar. Seorang analis pasar modal menilai pergantian direktur utama berpotensi membuat eksekusi transformasi kembali dimulai dari titik awal karena Telkom kini dipimpin figur berbeda. Ia juga menyoroti bahwa Dian datang dari luar lingkungan internal perusahaan dengan harapan membawa sudut pandang yang lebih komersial, sehingga keluarnya Dian dalam waktu relatif singkat menimbulkan tanda tanya tentang hambatan transformasi di tubuh perusahaan. Namun, pandangan lain menyebut kepemimpinan internal justru punya keuntungan karena memahami organisasi, jaringan, aset, dan agenda perubahan yang sudah berjalan.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pasar belum tentu langsung memandang pergantian ini sebagai sinyal negatif. Menurut dia, investor lebih akan menilai konsistensi pelaksanaan TLKM 30 dalam jangka pendek. Ia juga melihat latar belakang Nanang sebagai orang internal Telkom bisa membantu dari sisi pemahaman struktur dan portofolio bisnis, meski pasar tetap akan mencermati apakah arah strategis perusahaan berubah atau hanya berganti eksekutor. Kuncinya, kata dia, terletak pada konsistensi terhadap peta jalan yang sudah ada.

Dari sisi prospek usaha, Edward Ardiansyah dari Phillip Sekuritas Indonesia menilai Infranexia akan menjadi sumber pertumbuhan baru bagi TLKM. Penyelesaian Tahap 2 diperkirakan membuat kepemilikan efektif Grup Telkom atas jaringan fiber mendekati 94%. Tahap pertama sebelumnya menghasilkan pendapatan Rp 7,7 triliun dengan margin EBITDA 49,4%. Edward juga melihat data center sebagai motor pertumbuhan lain, terutama melalui NeutraDC yang berpeluang menangkap permintaan dari AI, cloud, dan edge computing. Phillip Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 3.500 per saham, sementara pada penutupan perdagangan Rabu (30/9), saham TLKM berada di Rp 2.290 per saham.

Sumber: investasi.kontan.co.id

Tinggalkan Balasan