Peneliti senior Citra Institute, Efriza, menilai penunjukan Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Staf Kepresidenan memberi petunjuk penting tentang arah penataan kabinet Presiden Prabowo Subianto. Menurut dia, keputusan itu menunjukkan bahwa reshuffle tidak bisa langsung dibaca sebagai upaya memutus seluruh tokoh yang selama ini identik dengan Presiden Joko Widodo.
Listyo sebelumnya menjabat sebagai Kapolri dan kerap dipersepsikan dekat dengan Jokowi. Namun, Efriza menilai perpindahan jabatan dari pucuk kepolisian ke KSP tidak otomatis menandakan Listyo tersingkir dari lingkar inti pemerintahan. Sebaliknya, posisi baru itu tetap berada dekat dengan pusat pengambilan keputusan karena berhubungan langsung dengan kerja presiden.
Dalam pandangan Efriza, narasi bahwa Prabowo sedang “membersihkan” orang-orang Jokowi terlalu sederhana jika melihat penempatan Listyo. Ia menilai presiden lebih mempertimbangkan kebutuhan pemerintahan ketimbang sekadar latar belakang kedekatan politik para pembantunya. Karena itu, pergantian jabatan tersebut justru memperlihatkan adanya pertimbangan fungsional dalam susunan kerja di Istana.
Efriza juga menyoroti bekal pengalaman Listyo di bidang keamanan dan koordinasi antarlembaga. Menurut dia, dua kemampuan itu relevan dengan tugas KSP yang berkaitan dengan pengawalan program serta arahan strategis presiden. Dengan kata lain, jabatan tersebut membutuhkan figur yang mampu menjembatani banyak institusi sekaligus memastikan prioritas kepala negara berjalan.
Ia menilai pola yang dipakai Prabowo cenderung selektif dan pragmatis. Presiden, kata Efriza, tampak memilih pembantu yang masih dibutuhkan dan sanggup bekerja dalam konfigurasi pemerintahan saat ini, tanpa harus mencabut seluruh jejak orang-orang yang pernah berada di kabinet sebelumnya. Pendekatan seperti ini, menurutnya, menunjukkan bahwa penataan kekuasaan tidak semata didasarkan pada loyalitas politik masa lalu.
Karena itu, Efriza berpendapat penempatan Listyo sebagai KSP justru menjadi fakta penting bagi siapa pun yang ingin membaca arah politik Prabowo pasca-reshuffle. Jika memang ada keinginan memutus seluruh jaringan yang diasosiasikan dengan Jokowi, maka keberadaan Listyo di posisi strategis itu akan menjadi hal yang perlu dijelaskan lebih jauh.
Sumber: www.jpnn.com




