Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Eng Hian, menilai pencapaian Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 adalah bukti kualitas mereka di level elite, bukan sekadar kejutan sesaat. Ganda putra Indonesia itu pulang dengan dua emas, masing-masing dari nomor beregu putra dan perorangan, setelah tampil menentukan sejak fase-fase penting turnamen. Eng Hian pun menegaskan bahwa pasangan ini dipisahkan dulu bukan karena dianggap buruk, melainkan karena performanya belum stabil.
Di beregu putra, Leo/Daniel sempat menjadi penyelamat saat Indonesia tertinggal 2-2 dari China. Poin yang mereka sumbangkan membuat situasi berbalik dan menjaga peluang tim Merah Putih hingga akhirnya meraih emas. Sementara di nomor perorangan, pasangan besutan Antonius Budi Ariantho itu melangkah sebagai non-unggulan, tetapi justru keluar sebagai juara setelah menumbangkan lawan-lawan berat.
Perjalanan mereka di nomor individu juga tidak mudah. Leo/Daniel lebih dulu menyingkirkan pasangan nomor satu dunia asal Korea Selatan, Kim Won-ho/Seo Seung-jae, lalu menutup final dengan kemenangan atas juara dunia dari China, Liang Wei Keng/Wang Chang. Dua kemenangan itu mempertegas bahwa mereka mampu bersaing dengan pasangan terbaik dunia, meski sempat diragukan karena riwayat naik-turunnya performa.
Eng Hian menyebut Leo/Daniel sebenarnya sudah menunjukkan potensi sejak lama. Mereka pernah menjadi juara dunia junior pada 2019, ketika sektor ganda putra Indonesia sedang berada di masa emas. Julukan The Babies yang melekat pada mereka sejak awal juga lahir dari harapan besar agar keduanya bisa mengikuti jejak para senior seperti Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, serta Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto.
Meski begitu, jalan mereka tidak mulus. Inkonsistensi permainan, gangguan pada penglihatan Daniel, dan cedera lutut serius yang dialami keduanya dalam periode berdekatan tahun lalu membuat pasangan ini sempat terpisah hampir dua tahun. Daniel baru kembali tampil di sirkuit dunia pada Mei setelah absen sekitar setahun, sebelum akhirnya dipasangkan lagi dengan Leo pada Mei lalu.
Setelah reuni, hasil mereka kembali mengilap dengan tiga gelar, termasuk Thailand Open, Taipei Open, dan Asian Games 2026. Namun, Eng Hian mengingatkan bahwa tantangan terbesar justru ada pada menjaga performa agar tetap stabil. Menurutnya, naik ke level atas memang penting, tetapi mempertahankan posisi itu jauh lebih sulit, terutama ketika hasil sedang menurun.
Persaingan menuju Olimpiade juga masih panjang. Untuk tampil di pesta olahraga itu, pasangan bulu tangkis harus mengumpulkan poin ranking selama 12 bulan dari turnamen BWF, dan persaingannya ketat, terlebih dari negara-negara dengan sektor ganda yang kuat. Di Indonesia sendiri, Leo/Daniel kini harus bersaing dengan Fajar/Fikri, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, serta duet independen Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani. Eng Hian berharap keberhasilan di Asian Games menjadi pijakan agar Leo/Daniel tetap konsisten dan membuka jalan ke Olimpiade 2028.
Sumber: www.bolasport.com




