Kembalinya Formula 1 ke kawasan Asia Tenggara lewat Sepang memunculkan pertanyaan baru: mengapa Indonesia tidak ikut dipertimbangkan, terutama lewat Sirkuit Internasional Mandalika? Meski Mandalika sudah menjadi rumah MotoGP sejak 2022, pakar motorsport Gatot Widakdo menilai sirkuit di Lombok itu masih jauh dari syarat utama untuk menggelar balapan jet darat. Hambatan utamanya ada pada lisensi sirkuit, kesiapan infrastruktur, biaya penyelenggaraan, hingga dukungan logistik di sekitar kawasan.
Formula 1 sendiri kembali singgah ke Malaysia bukan sebagai GP Malaysia, melainkan sebagai pengganti sementara GP Bahrain dalam kalender 2026. Perubahan itu terjadi setelah konflik Iran pecah pada 28 Februari 2026 dan memicu situasi keamanan yang berdampak ke sejumlah negara di Timur Tengah. Arab Saudi kemudian dicoret dari kalender F1 2026, sementara Bahrain yang masih terikat kontrak hingga 2036 memilih mencari lokasi alternatif. Malaysia akhirnya disepakati sebagai tuan rumah, dengan Sepang menjadi pilihan pada awal Oktober bersama Formula 1, FIA, dan pemerintah Malaysia.
Sepang dipandang cocok karena posisinya berada di antara seri Azerbaijan dan Singapura. Akses ke sirkuit juga relatif praktis berkat kedekatannya dengan Bandara Internasional Kuala Lumpur. Selain itu, sirkuit tersebut sudah mengantongi sertifikasi FIA Grade 1 dan masih aktif digunakan untuk ajang internasional meski tak lagi rutin masuk kalender F1 sejak 2017. Kondisi inilah yang membuat Sepang bisa dipakai kembali tanpa perlu membangun fasilitas dari nol.
Berbeda dengan Sepang, Mandalika masih berada pada level homologasi yang belum mencukupi. Gatot menyebut sirkuit tersebut saat ini baru memiliki lisensi FIA Grade 3 untuk mobil, sehingga belum memenuhi kategori yang dibutuhkan untuk Formula 1. Ia menambahkan bahwa penyelenggaraan F1 juga menuntut dana jauh lebih besar dibanding MotoGP. Menurut perhitungannya, biaya hak penyelenggaraan ke Formula One Group berada di kisaran USD 30–50 juta per tahun, atau sekitar Rp500 miliar hingga Rp800 miliar, belum termasuk ongkos operasional.
Jika dibandingkan dengan MotoGP, beban itu memang terpaut sangat jauh. Biaya balap motor di Mandalika disebut berada di kisaran Rp230 miliar per tahun. Artinya, untuk naik kelas ke F1, pengelola kawasan maupun pemerintah harus menyiapkan komitmen anggaran yang lebih besar dan berkelanjutan. Selain biaya, sejumlah fasilitas teknis juga wajib dibenahi, mulai dari pit garage, pit lane, area paddock, hingga ruang hospitality tim yang harus lebih luas daripada kebutuhan MotoGP.
Aspek keselamatan juga menjadi tantangan besar. F1 memerlukan jalur evakuasi, akses alat berat, sistem sinyal marshal, dan barrier dengan spesifikasi berbeda dari motor. Di luar area sirkuit, Mandalika juga perlu dukungan hotel berbintang dalam jumlah besar untuk menampung kru, sponsor, tamu VIP, dan pihak penyelenggara. Gatot menilai jumlah akomodasi mewah di Lombok masih terbatas bila dibandingkan dengan lokasi F1 lain seperti Singapura atau Abu Dhabi. Di sisi lain, bandara dan terminal kargo juga harus siap menangani ratusan ton perlengkapan yang dibawa tim-tim F1 menggunakan pesawat charter jumbo. Karakter lintasan Mandalika yang dirancang untuk balap motor pun dinilai belum tentu ideal bagi mobil Formula 1.
Sumber: www.gridoto.com




