Keluarga Muhammad Hasbi Al Aqib, siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, meminta kepolisian menuntaskan penyelidikan kematian bocah 7 tahun itu. Sang ibu, Diah Indriyanti (36), menduga putranya menjadi korban perundungan dan kekerasan oleh kakak kelas sebelum meninggal pada 30 September 2026.
Diah mengaku tanda-tanda ketakutan sudah muncul jauh sebelum anaknya wafat. Pada Jumat (11/9/2026), Aqib sempat berpesan agar dirinya tidak datang terlambat menjemput dari sekolah. Menurut Diah, ucapan itu membuatnya menduga sang anak sudah lebih dulu mendapat ancaman. “Mama, nanti jemputnya jangan lama. Aqib takut mau dipukulin,” kata Diah menirukan ucapan putranya saat ditemui pada Senin (5/10/2026).
Dua hari kemudian, pada Senin (14/9/2026), Aqib kembali meminta uang saku lebih besar dengan alasan ingin membelikan jajanan untuk teman-temannya. Permintaan itu dipenuhi Diah karena belum menaruh curiga. Namun pada hari yang sama, Aqib sempat bercerita bahwa dirinya dipukul. Ia menyebut kejadian itu berlangsung di aula sekolah.
Keluhan fisik mulai muncul pada malam berikutnya. Aqib mengaku sakit di bagian perut dan punggung, sehingga keesokan paginya Diah memutuskan membawanya ke dokter. Dari pemeriksaan, dokter menemukan memar di lutut dan menjelaskan luka itu diduga akibat benturan atau pukulan. Saat itulah Aqib juga mulai menceritakan apa yang dialaminya kepada dokter. “Saya dan suami langsung drop. Terus langsung disuruh ke IGD,” ujar Diah.
Setelah dibawa ke rumah sakit, keluarga mendapat penjelasan bahwa visum memiliki batas waktu 1×24 jam. Menurut Diah, fokus utamanya saat itu adalah memulihkan kondisi anaknya. Aqib kemudian menjalani perawatan selama sekitar delapan hingga sembilan hari. Meski sempat diperbolehkan pulang, kondisi bocah itu belum membaik. Diah menuturkan anaknya masih mengeluh sakit saat digendong untuk dibangunkan, lalu muntah-muntah.
Tiga hari setelah berada di rumah, Aqib kembali harus dibawa ke rumah sakit. Pada 30 September 2026, keluarga mendapati kondisinya sudah kritis. Diah tetap berupaya membawa putranya ke fasilitas kesehatan, tetapi petugas menyatakan anak itu telah meninggal. Karena curiga ada unsur kekerasan, keluarga kemudian melapor ke Polres Pemalang dan diarahkan agar jenazah segera diautopsi.
Diah mengatakan putranya dikenal pendiam sehingga tidak banyak bercerita soal pengalaman di sekolah. Karena itu, ia berharap penyebab kematian Aqib dibuka seterang-terangnya dan jika benar ada perundungan maupun penganiayaan, para pelaku diproses sesuai hukum. Sementara itu, Kasatreskrim Polres Pemalang AKP M. Faizal Wildan Umar Rela menyebut penyidik telah memeriksa delapan saksi, termasuk siswa, guru, kepala sekolah, serta kedua orang tua korban. Tim juga sudah melakukan olah tempat kejadian perkara dan menunggu hasil resmi autopsi dari Biddokkes Polda Jawa Tengah. Faizal membantah kabar di media sosial yang menyebut ada bagian tubuh korban rusak akibat penganiayaan.
Sumber: news.republika.co.id




