Bobby ke Gerindra Jadi Peringatan untuk PSI Jelang Pemilu 2029

Diposting pada

Keputusan Bobby Nasution bergabung dengan Gerindra memunculkan evaluasi baru bagi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjelang Pemilu 2029. Peneliti senior Citra Institute, Efriza, menilai langkah menantu Presiden ke-7 Joko Widodo itu menunjukkan PSI belum sepenuhnya menjadi pilihan utama keluarga Jokowi ketika membutuhkan kendaraan politik untuk bertarung dalam kontestasi elektoral.

Menurut Efriza, situasi tersebut layak dibaca sebagai sinyal penting bagi PSI. Ia menyebut partai itu memang diuntungkan oleh kedekatan dengan Jokowi, tetapi keuntungan popularitas tidak otomatis berubah menjadi kekuatan organisasi yang solid. Dalam pandangannya, daya tarik figur memang bisa mendongkrak perhatian publik, namun belum tentu membuat partai memiliki fondasi yang kokoh.

“Ini menjadi alarm bagi PSI. Bahkan menantu Jokowi sendiri memilih partai lain ketika membutuhkan kendaraan politik untuk maju dalam Pilkada,” kata Efriza kepada JPNN.com, Senin (5/10).

Efriza menilai persoalan yang dihadapi PSI bukan sekadar soal siapa yang masuk atau tidak masuk ke partai, melainkan bagaimana partai itu membangun identitas di luar pengaruh nama besar Jokowi. Selama ini, menurut dia, PSI masih terlalu bertumpu pada kedekatan simbolik dengan mantan wali kota Solo itu, padahal ketergantungan semacam ini berisiko ketika magnet utama tersebut tak lagi dominan.

Ia menambahkan, jika pilihan publik terhadap PSI hanya didorong oleh faktor Jokowi, maka partai tersebut akan menghadapi pertanyaan besar tentang masa depannya setelah pengaruh sang tokoh berkurang. Karena itu, PSI dinilai perlu memperlihatkan bahwa mereka memiliki kader yang bekerja, gagasan yang ditawarkan, dan mesin partai yang bergerak mandiri.

“PSI tidak boleh selamanya menjual nama Jokowi. Mereka harus punya identitas politik sendiri,” ujar Efriza. Ia menekankan bahwa Pemilu 2029 akan menjadi ujian sekaligus peluang bagi PSI untuk membuktikan apakah partai itu bisa tumbuh karena kerja politik yang nyata, bukan hanya karena kedekatan dengan keluarga Jokowi.

Dalam analisisnya, absennya Bobby dari PSI justru bisa menjadi kesempatan bagi partai tersebut untuk menunjukkan kemandirian. Jika PSI mampu menaikkan perolehan suara lewat program, kader, dan kerja organisasi, kata dia, partai itu akan punya legitimasi yang lebih kuat. Sebaliknya, bila tetap bergantung pada nama besar keluarga Jokowi, maka cap sebagai partai keluarga akan semakin sulit dilepaskan.

Sumber: www.jpnn.com

Tinggalkan Balasan