Kartun Upin & Ipin sudah lama menjadi bagian dari tontonan keluarga di Indonesia dan Malaysia. Serial asal Malaysia itu mengikuti keseharian dua saudara kembar di Kampung Durian Runtuh, dengan cerita sederhana yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Namun, di balik kesan realistis itu, ada sejumlah detail yang jika dicermati justru terasa janggal dan sulit dijelaskan secara logika.
Salah satu hal paling menarik adalah kebiasaan Upin dan Ipin mengalami mimpi yang sama pada waktu bersamaan. Sebagai anak kembar, keduanya memang digambarkan sangat dekat dan sering melalui pengalaman serupa. Tetapi dalam beberapa episode, hubungan itu ditampilkan seolah-olah melampaui batas kewajaran, karena mereka bukan hanya bermimpi tentang hal yang mirip, melainkan juga dengan isi yang sama. Ada adegan ketika mereka sama-sama bermimpi bertemu Mak dan Abah, berubah jadi kecil, menjadi pesulap, berubah menjadi tanaman, sampai mengalami rambut yang tumbuh. Dalam dunia nyata, mimpi umumnya bersifat pribadi dan acak, sehingga kesamaan yang begitu rinci pada dua orang, bahkan kembar sekalipun, tetap terasa tidak masuk akal.
Kejanggalan berikutnya muncul dari aktivitas belajar di Tadika Mesra. Jika taman kanak-kanak pada umumnya baru memperkenalkan huruf, angka, warna, menggambar, mewarnai, atau berhitung dasar, Upin dan Ipin justru beberapa kali mendapat materi yang lebih berat. Dalam salah satu episode, “Rumah Hijau Opah”, mereka bahkan diminta membuat miniatur rumah dan mengumpulkannya keesokan hari. Di episode lain, sekolah mereka memperlihatkan pelajaran yang mencakup perkalian, proses terjadinya pelangi, hingga sistem pencernaan manusia. Materi seperti itu biasanya baru dipelajari di jenjang sekolah dasar, bukan di usia taman kanak-kanak.
Tokoh lain yang menonjol karena hal tak biasa adalah Rajoo, anak Uncle Muthu. Meski kemunculannya tidak sesering tokoh utama, ia digambarkan punya kemampuan berkomunikasi dengan hewan. Hubungan Rajoo dengan sapi peliharaan keluarga Uncle Muthu, Sapy, menjadi contoh paling jelas. Dalam film Geng Pengembaraan Bermula, Sapy tampak memahami perintah Rajoo, berlari saat diminta, lalu mengangguk seolah menangkap maksud bocah itu ketika berbisik di telinganya. Tidak hanya itu, Rajoo juga diperlihatkan mengerti ucapan Opet saat berada di hutan, dan sebaliknya. Adegan-adegan ini memberi kesan seolah Rajoo bisa bertukar pesan dengan binatang secara langsung.
Jika dibandingkan dengan kenyataan, kemampuan seperti itu tentu mustahil terjadi. Hewan tidak berbicara dengan struktur bahasa seperti manusia, sementara manusia juga tidak bisa benar-benar memahami ucapan hewan secara verbal. Karena itu, kemampuan Rajoo terasa seperti unsur fantasi yang sengaja disisipkan ke dalam dunia Upin & Ipin. Meski begitu, justru di situlah daya tariknya: penonton diajak menerima hal-hal yang tidak logis sebagai bagian dari imajinasi kartun.
Keanehan-keanehan semacam ini mungkin tidak terlalu terasa saat menonton karena ceritanya ringan dan menghibur. Tetapi ketika diperhatikan lebih teliti, detail-detail tersebut menunjukkan bahwa dunia Upin & Ipin memang tidak sepenuhnya tunduk pada logika sehari-hari. Alih-alih mengganggu, kejanggalan itu justru menambah warna pada serial yang sudah lama akrab dengan penonton lintas generasi.
Sumber: www.idntimes.com




