Benjamin Netanyahu menghadapi ujian politik baru menjelang pemilihan umum 27 Oktober di Israel setelah dukungan terbuka dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump ternyata tidak meningkatkan peluangnya, menurut survei nasional yang dirilis menyusul pernyataan Washington. Hasil jajak pendapat yang dilakukan pada 19 Oktober menunjukkan sebagian besar pemilih tidak tergeser oleh campur tangan luar, sementara beberapa justru menjadi keberatan.
Survei terhadap 507 responden itu, dengan margin of error 4,4 persen, mencatat bahwa 64 persen pemilih menyatakan pernyataan Trump sama sekali tidak mengubah pilihan politik mereka. Sementara itu persentase yang mengatakan dukungan AS membuat mereka enggan memilih Netanyahu mencapai 17 persen, melebihi 12 persen yang mengaku terdorong memilihnya. Pengamat politik Daphna Liel menilai intervensi dari Amerika Serikat tidak menambah suara bagi Netanyahu dan malah melemahkan citranya di dalam negeri.
Dampak itu tampak pula dalam proyeksi kursi parlemen. Partai Likud yang dipimpin Netanyahu diperkirakan hanya meraih 21 kursi dari 120 kursi Knesset, tertinggal dari partai baru Yashar pimpinan mantan panglima militer Gadi Eisenkot yang diprediksi mengantongi 24 kursi. Angka-angka ini mengindikasikan perlambatan dukungan bagi koalisi lama di tengah persaingan yang semakin ketat.
Dalam simulasi head-to-head, mantan panglima Gadi Eisenkot unggul signifikan atas Netanyahu: 45 persen berbanding 33 persen, dengan 17 persen responden belum menentukan pilihan. Simulasi lain menempatkan Naftali Bennett di posisi lebih kuat dengan 39 persen melawan Netanyahu 34 persen. Bahkan bursa prediksi pemilu memberi peluang kemenangan Eisenkot sekitar 50 persen, sementara Netanyahu tertahan di angka 29 persen.
Beberapa faktor yang disebut menggerus dukungan publik adalah trauma kolektif akibat serangan 7 Oktober 2023 yang memunculkan keraguan terhadap kepemimpinan nasional, serta kekecewaan atas beberapa langkah diplomatik yang melibatkan Amerika Serikat, termasuk kesepakatan sementara antara AS dan Iran pada Juni lalu yang dipandang merugikan posisi Israel. Trump sempat memuji Netanyahu lewat platform Truth Social pada 18 Oktober, dan Netanyahu menyambut pernyataan itu, namun sambutan publik tidak menunjukkan efek positif yang berarti.
Sikap Washington pun tidak seragam. Wakil Presiden AS JD Vance secara terbuka menyatakan, “Saya tidak menolak ataupun mendukung calon mana pun. Saya tidak melibatkan diri dalam pemilihan umum Israel.” Perpecahan pandangan di antara pejabat AS menambah dimensi baru pada dinamika kampanye Netanyahu, yang kini harus mengandalkan faktor domestik untuk membalikkan keadaan menjelang hari pencoblosan.
Penulis: Redaksi




