Polres Sukabumi Tingkatkan Kasus Dugaan Penganiayaan Bocah 12 Tahun ke Penyidikan
Kasus tragis yang menimpa seorang bocah berusia 12 tahun di Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kini memasuki babak baru. Pihak Kepolisian Resor (Polres) Sukabumi telah resmi menaikkan status kasus dugaan penganiayaan terhadap korban, yang akrab disapa NS, dari tahap penyelidikan menjadi penyidikan. Langkah ini diambil setelah penyidik menemukan cukup bukti yang mengarah pada adanya tindak pidana kekerasan, baik fisik maupun psikis, yang dialami NS sebelum meninggal dunia.
Kapolres Sukabumi, AKBP Samian, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan penyelidikan maraton selama 24 jam untuk mengumpulkan berbagai alat bukti. “Kami sudah menemukan beberapa alat bukti yang tentunya bisa kita yakini ini ada peristiwa pidana, yaitu pidana dugaan kekerasan, baik fisik maupun psikis terhadap korban (NS),” jelas AKBP Samian.
Tersangka utama dalam kasus ini adalah TR, ibu tiri NS. TR yang sebelumnya berstatus terlapor, kini menjalani pemeriksaan intensif. Penyidik sedang mendalami seluruh keterangan yang tercatat dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) serta menganalisis alibi yang diberikan oleh TR. “Saudari TR sudah kami lakukan BAP. Saat ini perkara sudah naik sidik dan kami sedang mendalami seluruh keterangan dalam berita acara pemeriksaan (BAP), kami tidak gegabah, semua alibi kami cek secara menyeluruh,” tegas AKBP Samian.
Polres Sukabumi juga memohon dukungan dari masyarakat agar proses hukum dalam kasus ini dapat berjalan secara independen, profesional, dan mengedepankan metode Scientific Crime Investigation. Hingga kini, total 16 saksi telah dimintai keterangan oleh penyidik terkait kematian tragis NS.
Sang Ayah Minta Hukuman Ibu Tiri Diperberat: Ini Bukan Kali Pertama
Kabar yang mengejutkan datang dari Anwar Satibi (38), ayah kandung NS. Ia mengungkapkan bahwa kekerasan yang diduga dilakukan oleh TR terhadap putranya bukanlah insiden pertama. Setahun lalu, Anwar pernah melaporkan TR ke Polres Sukabumi atas dugaan penganiayaan terhadap NS.
“Sebetulnya laporan di Polres pun belum saya cabut. Saksi waktu itu Kanit Riki. Kita buka baju anak saya, saya sampai nangis lihatnya,” ujar Anwar dengan suara pilu. Saat itu, tubuh NS penuh dengan luka lebam akibat pukulan benda tumpul dari ibu tirinya. Laporan tersebut nyaris membuat TR harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di penjara.
Namun, kasus tersebut terhenti setelah adanya mediasi yang difasilitasi oleh tokoh masyarakat. TR kala itu memohon ampun kepada Anwar, berjanji akan bertobat dan berperilaku baik. “Dia sampai sujud ke saya, minta jangan dilaporkan. Katanya Mama mau tobat dan berperilaku baik. Akhirnya terjadi perdamaian,” kenang Anwar.
Kini, Anwar Satibi merasa sangat menyesali keputusannya untuk berdamai. Ia merasa TR hanya melakukan “tobat sambal” dan kembali mengulangi perbuatannya. Menurut Anwar, kekerasan yang terjadi setahun lalu dipicu oleh perselisihan antara NS dan anak angkat TR. “Istri saya punya dua anak angkat. Kalau berantem antara anak saya (NS) dengan anak itu, yang dihantam selalu anak saya,” ungkap Anwar dengan tegas.
Dengan meninggalnya NS dalam kondisi yang mengerikan, Anwar Satibi tidak ingin lagi tertipu oleh air mata sang istri. Ia berharap polisi dapat menggunakan laporan lama yang belum dicabut sebagai dasar untuk memberatkan hukuman TR. “Kalau memang terbukti, saya ingin ini jadi efek jera. Kita ini negara hukum, jangan semena-mena!” pungkasnya.
Kronologi Mengerikan Tewasnya NS
NS, seorang siswa asal Bojongsari, Kecamatan Jampang Kulon, ditemukan dalam kondisi kritis dan segera dilarikan ke rumah sakit. Tubuhnya dipenuhi luka bakar dan lepuhan serius yang sangat menyayat hati. Sang ayah, Anwar Satibi, sangat terpukul mendengar kabar tersebut. Ia tak percaya anak yang beberapa hari sebelumnya masih sehat dan ceria kini terbaring lemah dengan luka parah.
Paman korban, Isep Mahesa, menceritakan bahwa NS sempat pulang ke rumah dari pesantren menjelang bulan puasa. “Dalam jangka puasa mau 5 hari lagi itu anak masih sehat, jalan-jalan di mobil. Setelah itu bapaknya pergi ke Sukabumi, ibunya nelpon katanya anaknya sakit. Bapaknya pulang subuh-subuh, itu anaknya udah keadaan parah di rumah,” ungkap Isep.
Kecurigaan keluarga semakin menguat ketika pihak medis menyampaikan adanya indikasi kekerasan pada tubuh NS. Awalnya, ibu tiri korban hanya menyebut NS sakit demam biasa. “Kata ibunya itu bilangnya sakit panas, udah dibawa di rumah sakit. Tapi begitu di rumah sakit, ada dokter bilang kepada bapaknya bahwa ini ada indikasi ada penganiayaan. Setelah itu saya sama bapaknya izin mempertanyakan ke anaknya apa memang ada penganiayaan,” jelas Isep.
Dalam kondisi fisik yang sangat lemah, NS dengan jelas menunjuk ibu tirinya sebagai pelaku kekerasan. “Anak tersebut bisa menjawab sesuai dengan bukti yang ada di video. Almarhum disuruh minum air panas katanya sama mamanya,” imbuh Isep. Tak lama setelah pengakuan tersebut, nyawa bocah malang itu tak dapat diselamatkan.
Hasil Autopsi Mengungkap Luka Mengerikan dan Kejanggalan
Tim forensik RS Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Sukabumi telah melakukan autopsi terhadap jenazah NS selama tiga jam pada Jumat (20/2/2026). Kepala Instalasi Forensik, Kombes dr. Carles Siagian, mengungkapkan temuan luka bakar di berbagai bagian tubuh korban, termasuk lengan, kaki kanan dan kiri, serta punggung.
Yang paling mencolok adalah ditemukannya luka bakar lama yang sudah permanen di area bibir atas dan hidung NS. “Sepertinya terkena panas yang menyebabkan luka bakar. Namun, luka-luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian,” ujar dr. Carles.
Kejanggalan muncul saat pemeriksaan organ dalam. Tim dokter menemukan kondisi paru-paru korban yang sedikit membengkak. Mengingat luka luar yang ada dianggap tidak fatal, tim forensik kini mencurigai adanya faktor lain yang berkontribusi terhadap kematian NS. “Kami sudah mengambil sampel organ untuk diuji laboratorium di Jakarta. Kami ingin mengetahui apakah ada zat-zat tertentu di dalam organnya,” tambah dr. Carles. Hasil pemeriksaan laboratorium ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai penyebab pasti kematian NS.




