Ketegangan global memuncak di awal pekan ini, dengan konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran mendominasi perhatian publik. Berbagai peristiwa penting terjadi, mulai dari kecaman keras terhadap agresi militer, berita duka dari tokoh nasional, hingga respons pemerintah terhadap potensi dampak geopolitik.
PKB Kecam Serangan AS-Israel ke Iran, Tewaskan Pemimpin Tertinggi
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) melalui Dewan Pimpinan Pusatnya (DPP) melayangkan kecaman keras terhadap operasi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, ke wilayah Iran. Insiden ini berujung pada tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Luluk Nur Hamidah, Ketua Departemen Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional DPP PKB, menyatakan bahwa kematian Khamenei bukan hanya merupakan tragedi bagi bangsa Iran, tetapi juga sebuah pukulan serius terhadap prinsip hukum dan tatanan global yang selama ini dijunjung tinggi oleh komunitas internasional.
“Serangan Israel dan AS ke Iran tidak dapat diterima dalam norma kemanusiaan. Ini menciptakan preseden yang sangat berbahaya bagi stabilitas dunia,” tegas Luluk dalam sebuah pernyataan tertulis pada Senin, 2 Maret 2026. Ia berpendapat bahwa tindakan militer yang menargetkan pembunuhan pemimpin sebuah negara berdaulat merupakan pengabaian terhadap supremasi hukum dan berpotensi menyeret tatanan dunia ke dalam sistem yang diatur oleh kekuatan militer semata.
Berita Duka: Wafatnya Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno
Publik Indonesia dikejutkan dengan berita duka berpulangnya Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, pada Senin pagi, 2 Maret 2026. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengonfirmasi kabar duka tersebut dengan penuh rasa prihatin. “Benar, kami berdukacita sangat mendalam,” ujar Prasetyo.
Mendiang Try Sutrisno menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, pada pukul 06.58 WIB. Rencananya, jenazah akan dimandikan di RSPAD sebelum disemayamkan di rumah duka yang beralamat di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat.
Try Sutrisno adalah sosok yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden mendampingi Presiden Soeharto dalam periode kepemimpinan 1993-1998. Beliau lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada tanggal 15 November 1935, dan meninggalkan jejak pengabdian yang panjang bagi bangsa dan negara.
Presiden Prabowo Adakan Rapat Mendadak Bahas Dampak Perang Iran-AS-Israel
Menyikapi eskalasi konflik di Timur Tengah, Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri kabinetnya ke Istana Negara untuk membahas secara mendalam potensi dampak dari perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Beberapa menteri yang turut hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, serta Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan.
Saat tiba di Istana, Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa pertemuan tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan perkembangan geopolitik terkini. Ia secara khusus menyoroti potensi penutupan Selat Hormuz di Iran sebagai akibat dari konflik yang sedang berlangsung. Menurut Bahlil, penutupan jalur vital distribusi minyak dunia ini merupakan isu yang perlu diantisipasi secara serius oleh pemerintah Indonesia, terutama mengingat kebutuhan impor bahan bakar minyak sebelum momen Idulfitri.
“Karena bagaimana pun kita masih melakukan impor (bahan bakar minyak) sebelum Lebaran,” ungkap Bahlil. Ia menambahkan bahwa dirinya akan segera mengadakan rapat dengan Dewan Energi Nasional untuk merumuskan strategi mitigasi terkait potensi penutupan Selat Hormuz. “Besok saya akan rapat dengan Dewan Energi Nasional, setelah itu baru saya akan menyampaikan hasil analisa dan kajian dari DEN,” pungkasnya.
Perkembangan situasi di Timur Tengah ini menunjukkan betapa eratnya keterkaitan antarnegara dalam tatanan global. Peristiwa yang terjadi di satu kawasan dapat dengan cepat merambat dan menimbulkan efek domino yang signifikan bagi negara lain, termasuk dalam hal stabilitas ekonomi dan keamanan. Pemerintah Indonesia, melalui langkah-langkah antisipatif seperti yang dilakukan oleh Presiden Prabowo dan para menterinya, menunjukkan keseriusannya dalam menjaga kepentingan nasional di tengah gejolak internasional.
Penting bagi publik untuk terus mengikuti perkembangan situasi ini, memahami implikasinya, dan mendukung upaya pemerintah dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Berbagai analisis dan kajian akan terus dihadirkan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai isu-isu krusial ini.




