Rupiah Tertekan Gejolak Timur Tengah, Bank Indonesia Siaga Penuh
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan tren pelemahan. Tekanan ini sebagian besar dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah. Menghadapi situasi yang dinamis ini, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk terus hadir dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di pasar.
Berdasarkan data pasar hingga pagi hari, mata uang Garuda dibuka pada level Rp16.916 per dolar AS, mengalami penurunan sebesar 44 basis poin atau 0,26%. Pelemahan ini terjadi seiring dengan penguatan indeks dolar AS yang terpantau naik 0,14% ke posisi 99,19.
Langkah Strategis Bank Indonesia
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa bank sentral telah dan akan terus mengambil langkah-langkah pencegahan dini. Kehadiran aktif di pasar valuta asing (valas) menjadi prioritas untuk mencegah dampak rambatan yang lebih luas dari krisis yang tengah terjadi di Timur Tengah.
“Kami akan terus melakukan intervensi yang tegas dan konsisten,” ujar Destry. “Ini akan kami lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Selain itu, kami juga akan melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.”
Posisi Rupiah di Tengah Regional
Meskipun rupiah tengah mengalami depresiasi, Destry menekankan bahwa pelemahan ini masih sejalan dengan pergerakan mata uang di kawasan regional. Secara month to date (MtD), rupiah tercatat melemah sebesar 0,51%. Angka ini relatif lebih baik jika dibandingkan dengan kinerja mata uang negara-negara tetangga (peers).
Fundamental ekonomi Indonesia dan ketahanan eksternalnya dinilai masih sangat solid. Hal ini tercermin dari posisi cadangan devisa yang berhasil terjaga di angka US$154,6 miliar pada akhir Januari 2026. Arus masuk modal asing (capital inflow) ke pasar keuangan domestik sepanjang tahun ini juga tercatat positif, mencapai Rp25,7 triliun.
Pergerakan Mata Uang Asia
Tren pelemahan terhadap dolar AS tidak hanya dialami oleh rupiah. Mayoritas mata uang Asia lainnya juga menunjukkan tren serupa pada perdagangan pagi ini.
- Rupee India mengalami pelemahan signifikan sebesar 0,55%.
- Baht Thailand turun 0,36%.
- Peso Filipina terdepresiasi 0,29%.
Sementara itu, beberapa mata uang mencatat pelemahan yang lebih terbatas:
- Dolar Singapura melemah 0,09%.
- Ringgit Malaysia turun 0,05%.
- Dolar Hong Kong melemah 0,03%.
- Yuan China mengalami pelemahan tipis 0,02%.
Di tengah dominasi dolar AS, hanya dua mata uang Asia yang berhasil melawan tren pelemahan:
- Won Korea Selatan mencatat penguatan sebesar 0,38%.
- Yen Jepang menguat 0,11%.
Proyeksi Pasar dan Faktor Pendorong
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan bahwa pergerakan rupiah pada hari Rabu (4/3/2026) masih akan cenderung fluktuatif. Namun, arahnya diperkirakan akan melemah terbatas dalam rentang Rp16.870 hingga Rp16.910 per dolar AS.
Sentimen global utama yang terus membebani pasar berasal dari meningkatnya eskalasi perang udara yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, yang kini semakin meluas. Serangan Israel ke Lebanon dan balasan dari Iran yang menargetkan infrastruktur energi negara-negara Teluk serta kapal tanker di Selat Hormuz menjadi pemicu utama kekhawatiran ini.
Akibat dari ketegangan geopolitik ini, tarif pengiriman minyak dan gas diprediksi akan melonjak. Harga minyak mentah juga diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan. Kenaikan harga energi ini berpotensi mendorong inflasi global, yang pada gilirannya akan memperkuat posisi dolar AS terhadap mata uang lainnya, termasuk rupiah. Situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari para pelaku pasar dan otoritas moneter.


















