Pertahankan atau Akhiri? Psikolog Ungkap Kapan Pernikahan Harus Berakhir

Diposting pada

Perjalanan rumah tangga kerap kali dihadapkan pada ujian yang mendalam, mendorong seseorang untuk merenungkan kembali, apakah ikatan pernikahan yang telah terjalin sebaiknya dipertahankan atau justru dilepaskan. Menentukan keputusan krusial ini bukanlah perkara mudah, dan seringkali tidak ada jawaban tunggal yang berlaku untuk semua orang.

Seorang Psikolog Klinis, Winona Lalita R., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa tidak ada formula pasti atau ukuran universal untuk menilai kelayakan sebuah pernikahan untuk dipertahankan atau diakhiri. Keputusan tersebut sangat bergantung pada dinamika unik yang terjadi dalam setiap pasangan. “Sebenarnya tidak ada tolak ukur yang pasti untuk menilai apakah hubungan layak dipertahankan atau justru sebaiknya bercerai. Hal ini kembali lagi ke dinamika pasangan masing-masing,” ujar Winona.

Memahami Pilar-Pilar Kehidupan Pernikahan

Untuk membantu pasangan dalam mengevaluasi kondisi pernikahan mereka, Winona mengibaratkan hubungan perkawinan layaknya sebuah rumah kokoh yang berdiri di atas sepuluh pilar utama. Setiap pilar memiliki peran vital dalam menopang stabilitas dan keutuhan rumah tangga.

“Silakan dicek dari sepuluh pilar tersebut, mana saja yang masih berdiri kuat, mana yang mulai retak, dan mana yang ternyata sudah hancur,” sarannya. Dengan melakukan introspeksi mendalam terhadap masing-masing pilar ini, pasangan dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kekuatan dan kelemahan hubungan mereka.

Berikut adalah sepuluh pilar penting yang membentuk fondasi pernikahan:

  • Masalah Kepribadian: Ini mencakup kecocokan karakter, nilai-nilai, dan gaya hidup antara kedua pasangan. Apakah perbedaan yang ada dapat diterima dan dikelola dengan baik, atau justru menjadi sumber gesekan yang konstan?

  • Komunikasi: Seberapa terbuka, jujur, dan empatik pasangan dalam berinteraksi adalah kunci. Kemampuan untuk mendengarkan, memahami, dan menyampaikan perasaan serta kebutuhan secara efektif sangatlah krusial.

  • Resolusi Konflik: Setiap hubungan pasti akan menghadapi perbedaan pendapat dan konflik. Yang terpenting adalah bagaimana pasangan menghadapi, mengelola, dan menyelesaikan perselisihan tersebut secara konstruktif tanpa merusak hubungan.

  • Masalah Finansial: Pengelolaan keuangan bersama, kesepakatan mengenai pengeluaran, tabungan, dan investasi merupakan aspek penting. Ketidaksepakatan dalam hal finansial seringkali menjadi sumber stres yang signifikan.

  • Hobi dan Kualitas Diri: Kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara waktu pribadi, waktu bersama pasangan, dan pengembangan diri. Memiliki minat dan aktivitas di luar hubungan dapat memperkaya kehidupan individu dan pasangan.

  • Hubungan Seksual: Keintiman fisik dan kesepakatan mengenai kebutuhan seksual yang sehat merupakan bagian integral dari pernikahan. Komunikasi terbuka mengenai hal ini sangat penting.

  • Gaya Pengasuhan: Kesamaan pandangan dan pendekatan dalam mendidik anak-anak. Perbedaan dalam gaya pengasuhan dapat memicu ketegangan, terutama jika tidak dikomunikasikan dengan baik.

  • Budaya Keluarga dan Lingkungan: Kemampuan pasangan untuk beradaptasi dengan keluarga besar masing-masing, serta norma dan budaya yang berlaku di lingkungan mereka.

  • Pembagian Peran dalam Rumah Tangga: Kejelasan mengenai tanggung jawab masing-masing dalam urusan rumah tangga, pekerjaan, dan pengasuhan anak. Pembagian peran yang adil dan disepakati bersama dapat mencegah rasa terbebani.

  • Nilai Religius: Bagaimana pasangan memaknai hubungan mereka dengan Tuhan, serta bagaimana nilai-nilai spiritual mempengaruhi pandangan dan tindakan mereka dalam pernikahan.

Menilai Kekuatan Pilar: Menuju Keputusan yang Tepat

Menurut Winona, sebelum mengambil keputusan drastis untuk bertahan atau berpisah, pasangan perlu secara objektif menilai kondisi setiap pilar tersebut. “Coba bayangkan, rumah tangga itu layaknya sebuah rumah dengan sepuluh pilar penting. Dari sepuluh pilar itu, pertimbangkan mana yang masih baik dan tidak,” jelasnya.

Proses evaluasi ini melibatkan pertanyaan kritis: jika ada satu atau dua pilar yang mulai runtuh atau bahkan hancur, apakah delapan pilar sisanya masih cukup kuat untuk menopang keberlangsungan hubungan? Jika sebagian besar pilar masih kokoh dan terdapat potensi untuk diperbaiki, maka pernikahan tersebut jelas layak untuk diperjuangkan. Upaya bersama untuk memperkuat pilar yang rapuh dapat menjadi investasi berharga bagi masa depan hubungan.

Namun, jika mayoritas pilar telah mengalami kerusakan parah dan menimbulkan ketidaknyamanan serta penderitaan yang mendalam bagi kedua belah pihak, maka berpisah secara sehat mungkin menjadi jalan keluar terbaik. Keputusan ini bukan berarti mengakui kegagalan, melainkan sebuah langkah keberanian untuk menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan diri masing-masing.

Melepaskan Bukan Selalu Akhir dari Segalanya

Winona menekankan bahwa perceraian tidak selalu harus dipandang sebagai sebuah kegagalan dalam hidup. Sebaliknya, keputusan untuk mengakhiri pernikahan terkadang merupakan bentuk perjuangan untuk mempertahankan kesehatan mental dan keutuhan diri. “Melepaskan bukan berarti kegagalan, bisa jadi ini bentuk perjuangan kita untuk tetap mempertahankan kesehatan mental kita,” ujarnya.

Namun demikian, penting untuk diingat bahwa keputusan semacam ini tidak boleh diambil secara gegabah. Setiap pasangan perlu meluangkan waktu untuk melakukan tinjauan ulang yang jujur terhadap kondisi hubungan mereka. Pertanyaan mendasar yang harus dijawab adalah: apakah pernikahan ini masih memiliki potensi untuk diperbaiki dan tumbuh menjadi lebih baik?

“Meski begitu, jangan juga terburu-buru untuk langsung melepas. Kamu perlu menilik ulang, tinjau kembali, masih bisa diperbaiki atau tidak,” tegas Winona. Pernikahan sejati bukan hanya tentang bertahan dalam kondisi yang ada, tetapi lebih kepada bagaimana kedua belah pihak dapat terus tumbuh bersama, saling mendukung, dan secara aktif memperkuat pilar-pilar yang menopang fondasi rumah tangga mereka. Dengan pemahaman yang jernih mengenai sepuluh pilar ini, pasangan dapat lebih bijak dalam menilai arah hubungan mereka, apakah masih ada harapan untuk diperjuangkan, atau justru sudah saatnya menempuh jalan masing-masing demi kebaikan bersama.

Gambar Gravatar
Hidayat merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan