‘Pelangi di Mars’: Ambisi Semesta Fiksi Ilmiah Indonesia yang Mengusung Teknologi Canggih
Sebuah gebrakan baru siap mengguncang industri perfilman Indonesia. Film berjudul ‘Pelangi di Mars’ dijadwalkan tayang perdana pada 18 Maret 2026, tidak hanya untuk memeriahkan momen Lebaran tahun tersebut, tetapi juga sebagai gerbang awal pembangunan semesta cerita fiksi ilmiah yang ambisius. Yang lebih menarik, tim produksi bahkan telah merancang sekuel dan berbagai pengembangan lainnya sejak awal proyek ini digarap.
Film ini menjadi sorotan para sineas Tanah Air berkat penggunaan teknologi Extended Reality (XR) yang canggih, sebuah terobosan yang masih jarang dieksplorasi dalam produksi film nasional. Genre fiksi ilmiah (sci-fi) yang diusung juga menjadi nilai tambah, mengingat genre ini memiliki potensi besar namun belum banyak digarap secara serius di Indonesia.
Rencana Sekuel dan Pengembangan Semesta Cerita
Produser film, Dendi Reynando, mengungkapkan bahwa wacana untuk melanjutkan kisah ‘Pelangi di Mars’ telah aktif dibahas bersama sutradara, Upie Guava. Namun, kelanjutan sekuel ini sangat bergantung pada respons positif dan jumlah penonton yang menyaksikan film pertamanya.
“Kami memang sudah mulai diskusi. Rencananya di 2028, kalau mudah-mudahan ini diterima dengan baik,” ujar Dendi. “Tapi kami ingin dengar dulu pendapat penonton tentang semesta yang ‘Pelangi di Mars’ ini, kemudian bagaimana kita mengembangkannya tergantung dari feedback-nya.”
Dendi tidak menampik bahwa biaya produksi yang besar menjadi salah satu faktor kunci dalam mewujudkan film ini. Meskipun enggan menyebutkan target jumlah penonton secara spesifik, ia berharap ‘Pelangi di Mars’ dapat menghibur berbagai kalangan usia.
Sutradara Upie Guava menambahkan bahwa proyek ini tidak hanya sekadar menghasilkan sebuah film, melainkan dirancang untuk membangun sebuah semesta cerita yang lebih luas. Semesta ini nantinya akan mencakup berbagai pengembangan, mulai dari sekuel film, serial televisi, hingga pengelolaan kekayaan intelektual (IP) secara menyeluruh.
Menurut Upie, proses pengembangan dunia ‘Pelangi di Mars’ membutuhkan waktu yang cukup panjang. Tim kreatif memerlukan sekitar tiga tahun untuk merancang dasar cerita, menciptakan karakter yang kuat, serta membangun sistem produksi yang mendukung terciptanya dunia fiksi dalam film tersebut.
“Tiga tahun yang kami pakai untuk membangun infrastruktur, pipeline, sekaligus membangun cerita dan semestanya,” jelas Upie. “Kami bangun dengan proyek IP. Jadi kami punya bible, punya semesta, punya bukunya.”
‘Pelangi di Mars’ diproyeksikan bukan hanya sebagai tontonan layar lebar semata. Proyek ini dipersiapkan sebagai intellectual property (IP) jangka panjang yang diharapkan dapat berkembang menjadi semesta cerita baru yang orisinal dari Indonesia.
Ekspansi ke Berbagai Sektor
Dendi Reynando juga menyampaikan bahwa tim produksi telah menyiapkan rencana ekspansi ke berbagai sektor lain. Pengembangan ini mencakup produk mainan, buku aktivitas anak, hingga kemungkinan kelanjutan film yang ditargetkan hadir pada tahun 2028.
Sejak awal, proyek ini memang dirancang bukan hanya untuk menghasilkan satu film. Tujuannya adalah membuka peluang agar karakter serta dunia cerita ‘Pelangi di Mars’ dapat terus hidup dan berkembang, meskipun industri hiburan saat ini masih didominasi oleh IP dari luar negeri.
Sinopsis ‘Pelangi di Mars’

Film ‘Pelangi di Mars’ mengambil latar waktu tahun 2100. Ceritanya berpusat pada Pelangi (diperankan oleh Keinaya Messi Gusti), seorang gadis berusia 12 tahun yang merupakan manusia pertama yang lahir dan tumbuh besar di Planet Mars.
Setelah ditinggalkan oleh ibunya, Pelangi harus menjalani kehidupan di planet merah tersebut bersama sekumpulan robot tua yang telah lama terbengkalai. Bersama para robot tersebut, Pelangi memimpin sebuah misi penting untuk menemukan Zeolith Omega, sebuah mineral langka yang dipercaya mampu menghasilkan udara bersih dan menjadi harapan terakhir bagi kelangsungan hidup umat manusia.
Film ini turut dibintangi oleh deretan aktor dan aktris berbakat Indonesia, antara lain Keinaya Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, Livy Renata, serta sejumlah pemain lainnya yang siap menghidupkan kisah epik ini.



















