Proyeksi Menggiurkan: Emas Berpotensi Meroket 35% dalam Setahun ke Depan
Meskipun sempat mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir, harga emas global menunjukkan potensi penguatan yang signifikan. Analis memprediksi logam mulia ini bisa meroket hingga 35% dalam satu tahun ke depan, dengan kisaran harga mencapai US$5.500 hingga US$6.250 per ons. Pergerakan ini, meski kontraintuitif melihat koreksi terkini, didasari oleh sejumlah faktor fundamental yang kuat, mulai dari ketegangan geopolitik hingga dinamika makroekonomi global.
Dalam beberapa waktu terakhir, harga emas global memang terlihat mengalami pelemahan. Data perdagangan menunjukkan harga emas spot sempat menyentuh kisaran US$4.853 per ons, sementara emas Comex berada di level US$4.861 per ons. Koreksi awal tahun ini bahkan sempat membuat harga melemah hampir 3% ke sekitar US$4.880 per ons pada perdagangan Rabu (18/3/2026) pagi. Penurunan ini terjadi di tengah gejolak yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang secara umum diharapkan akan mendorong harga emas naik.
Namun, para analis dari State Street berpendapat bahwa tren pelemahan ini bersifat sementara. Mereka memproyeksikan harga emas masih berpeluang untuk menguji level US$5.500 hingga US$5.600 per ons dalam waktu dekat. Peluang ini akan semakin besar jika tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, kembali meningkat.
Faktor Pendukung Emas Sebagai Aset Lindung Nilai
Secara fundamental, emas tetap menjadi pilihan utama sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian global. Faktor-faktor geopolitik dan kondisi makroekonomi global secara keseluruhan masih sangat mendukung pergerakan harga emas untuk menguat. Peluang sekitar 35% harga emas akan bergerak di kisaran US$5.500 hingga US$6.250 per ons dalam satu tahun ke depan semakin menguatkan pandangan ini.
Meskipun demikian, realitas pergerakan harga emas sejak konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran menunjukkan dinamika yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi awal. Harga emas tercatat mengalami penurunan sekitar 7% sejak konflik tersebut dimulai. Beberapa faktor yang mempengaruhi pelemahan ini antara lain:
- Penguatan Dolar AS: Sebagai aset lindung nilai alternatif, dolar AS cenderung menguat di saat ketidakpastian global, yang secara historis menekan harga emas.
- Ketidakpastian Arah Suku Bunga: Kebijakan suku bunga yang belum pasti dari bank sentral utama dunia juga menambah keraguan bagi investor.
- Berkurangnya Minat Beli Pasca Reli: Setelah mengalami reli signifikan pada tahun sebelumnya, sebagian investor mungkin memilih untuk mengambil keuntungan, mengurangi minat beli jangka pendek.
Dolar AS Melemah, Emas Berkilau Kembali
Ke depan, pelemahan dolar AS diperkirakan akan kembali menjadi katalis positif yang kuat bagi harga emas. Setelah mencatat penurunan lebih dari 9% pada tahun lalu, yang merupakan kinerja terburuk sejak 2017, dolar AS sempat menunjukkan penguatan akibat memanasnya konflik geopolitik.
Namun, konsensus pelaku pasar memproyeksikan mata uang Paman Sam ini akan kembali melemah sekitar 3% pada tahun ini. Proyeksi pelemahan dolar AS ini menjadi angin segar bagi para investor emas.
Selain itu, prospek penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) juga menjadi faktor pendukung utama lainnya.
- Dampak Penurunan Suku Bunga:
- Penurunan suku bunga akan menekan imbal hasil obligasi, yang merupakan aset pesaing emas.
- Hal ini juga akan menurunkan opportunity cost kepemilikan emas, yaitu biaya peluang yang hilang akibat menahan aset yang tidak menghasilkan imbal hasil.
- Akibatnya, permintaan terhadap logam mulia ini berpotensi meningkat secara signifikan.
State Street juga menambahkan bahwa ketika arah kebijakan suku bunga semakin jelas dan mulai memasuki fase penurunan, pasar berpotensi memasuki siklus penguatan baru untuk emas. Peningkatan permintaan terhadap dana berbasis emas (seperti ETF emas) akan memperketat pasokan yang tersedia, sehingga mendorong harga emas lebih tinggi lagi.
Aliran Dana dan Persepsi Investor
Dari sisi aliran dana, minat investor terhadap emas masih menunjukkan kekuatan yang cukup besar. ETF emas yang terdaftar di Amerika Serikat mencatat arus masuk dana sebesar US$10,5 miliar sepanjang dua bulan pertama tahun 2026. Angka ini meningkat 67% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, menandakan kepercayaan investor yang terus tumbuh.
Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa porsi emas dalam total aset ETF dan reksa dana global masih relatif kecil, yaitu di bawah 1%. Hal ini mengindikasikan bahwa emas belum sepenuhnya menjadi pilihan utama dalam portofolio investor global, yang menyisakan ruang besar untuk pertumbuhan di masa depan.
Pandangan yang sedikit berbeda muncul dari survei yang dilakukan oleh Bank of America. Sekitar 35% manajer investasi menilai posisi beli emas sebagai perdagangan yang paling ramai di pasar saat ini. Ini menunjukkan bahwa banyak pelaku pasar yang sudah mengambil posisi menguntungkan pada emas.
Di sisi lain, sebanyak 38% responden survei tersebut menganggap harga emas sudah terlalu tinggi. Persepsi ini turut menjelaskan mengapa pergerakan harga emas cenderung terbatas dalam beberapa waktu terakhir, di mana pasar sedang mencerna valuasi terkini sebelum mengambil arah selanjutnya.


















