Jalan Utama Gampong Tanjong Ara Diblokir Warga, Protes Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki
ACEH UTARA – Warga Gampong Tanjong Ara, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, pada hari Senin, 30 Maret 2026, melancarkan aksi protes dengan memblokir total jalan utama yang menghubungkan Pantonlabu dengan Kecamatan Langkahan. Aksi dramatis ini merupakan puncak kekecewaan warga atas lambannya perbaikan jalan, yang telah berbulan-bulan dalam kondisi rusak parah setelah dilakukan pengerasan pada Oktober 2025. Jalan yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat ini, hingga kini masih menyisakan cerita duka berupa debu tebal di musim kemarau dan genangan lumpur di kala hujan.
Aksi pemblokiran dilakukan dengan berbagai cara yang mencerminkan keputusasaan warga. Kursi, sofa bekas, hingga pohon pisang ditanam berjajar sepanjang kurang lebih satu kilometer badan jalan, efektif melumpuhkan total arus lalu lintas di jalur vital tersebut. Bagi warga Tanjong Ara, penantian perbaikan jalan ini terasa tak berujung. Mereka mengaku telah berulang kali menyuarakan keluhan, bahkan hingga ke ranah media sosial, namun respons yang diterima selalu nihil atau tidak membuahkan hasil nyata.
Kondisi jalan yang buruk ini bukan sekadar masalah estetika, melainkan ancaman nyata terhadap kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Debu yang beterbangan saat cuaca kering sangat mengganggu pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan balita. Sebaliknya, saat musim penghujan, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang menyulitkan pengendara roda dua maupun roda empat untuk melintas.
“Debu dan lumpur ini sangat mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari,” ujar salah seorang warga Desa Tanjong Ara yang enggan disebutkan namanya, pada Senin (30/3/2026). Ia menambahkan bahwa dampak pasca-banjir beberapa waktu lalu semakin memperparah kondisi, menyisakan timbunan lumpur yang tebal di permukaan jalan.
Sejarah Keluhan yang Terabaikan
Permasalahan jalan di Gampong Tanjong Ara bukanlah isu baru. Menurut keterangan warga, pekerjaan pengerasan jalan telah selesai pada Oktober 2025. Namun, tahapan pengaspalan selanjutnya yang dinanti-nanti tak kunjung terealisasi. Masuk tahun 2026, kondisi jalan justru semakin memprihatinkan. Ketiadaan tindakan perbaikan yang memadai membuat warga merasa diabaikan oleh pihak-pihak terkait.
Kekecewaan yang menumpuk ini akhirnya mendorong warga untuk mengambil langkah drastis. Pemblokiran jalan dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menarik perhatian pemerintah dan pihak pelaksana proyek.
Suara Keputusasaan dari Tokoh Masyarakat
Tgk Syahril, seorang tokoh masyarakat Tanjong Ara, turut menyuarakan keprihatinan dan kekecewaan mendalam atas kondisi yang dialami warganya. Ia menegaskan bahwa aksi pemblokiran ini lahir dari rasa putus asa yang telah mencapai batasnya.
“Sudah terlalu lama kami menunggu. Kami hanya ingin jalan ini segera dikerjakan. Jangan sampai kami terus hidup dalam debu dan lumpur,” tegas Tgk Syahril. Ia juga menyerukan agar pihak kontraktor atau pelaksana proyek yang telah terikat kontrak untuk segera memenuhi kewajiban mereka. Tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan ini, menurutnya, harus segera diambil.
Harapan untuk Tindakan Nyata
Warga Gampong Tanjong Ara berharap besar agar pemerintah tidak menutup mata terhadap penderitaan yang mereka alami. Mereka mendambakan adanya empati dan langkah konkret yang segera diambil untuk menyelesaikan persoalan jalan ini. Mengingat jalan tersebut merupakan akses utama yang menghubungkan berbagai aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat, perbaikan yang cepat dan tuntas menjadi sebuah keharusan.
Aksi pemblokiran ini diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk segera meninjau dan menindaklanjuti keluhan warga. Prioritas perbaikan infrastruktur dasar seperti jalan ini sangat krusial untuk meningkatkan kualitas hidup dan menunjang roda perekonomian masyarakat setempat. Tanpa tindakan nyata, warga Gampong Tanjong Ara terancam terus berjuang melawan debu dan lumpur setiap harinya.




