Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah muncul kabar bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersedia mengakhiri operasi militer terhadap Iran, meskipun Selat Hormuz masih terhambat bagi pelayaran. Penurunan ini menandai perubahan sentimen pasar yang sebelumnya diwarnai kekhawatiran akan eskalasi konflik yang dapat mengganggu pasokan energi global.
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun pada Kamis (31/3/2026), harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei tercatat melemah 1,2% menjadi US$101,64 per barel. Sementara itu, minyak jenis Brent untuk kontrak Mei juga mengalami pelemahan sebesar 1,9%, ditutup pada US$105,36 per barel.
Sebelumnya, harga minyak WTI sempat melonjak hampir 4% setelah Iran melancarkan serangan terhadap kapal tanker minyak di Teluk Persia. Lonjakan ini sempat mendorong harga WTI menembus level US$102 per barel, mencerminkan ketidakpastian dan potensi gangguan pasokan yang ditimbulkan oleh konflik tersebut.
Trump Beri Sinyal Pengakhiran Operasi Militer
Laporan dari The Wall Street Journal mengindikasikan bahwa Presiden Trump telah menyampaikan kepada para penasihatnya mengenai kesiapannya untuk mengakhiri operasi militer, bahkan jika jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih. Keputusan ini tampaknya didasari oleh penilaian Trump dan timnya bahwa upaya membuka kembali Selat Hormuz secara penuh berpotensi memperpanjang konflik melebihi target waktu operasi yang semula diperkirakan antara empat hingga enam minggu.
Pesan yang disampaikan oleh Trump sebelumnya memang terkesan berubah-ubah. Di satu sisi, ia sempat menyatakan bahwa perang akan segera berakhir, namun di sisi lain, ia juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap untuk meningkatkan operasi militernya. Pada Senin (30/3/2026), Trump bahkan mengeluarkan ancaman bahwa Amerika Serikat akan menghancurkan pembangkit listrik, fasilitas minyak, dan kemungkinan infrastruktur desalinasi Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali Selat Hormuz.
Analisis Pasar dan Dampak Konflik
Shaia Hosseinzadeh, Chief Investment Officer OnyxPoint Global Management, berpendapat bahwa pasar sebelumnya cenderung terlalu tenang dalam memperhitungkan risiko yang ada. Menurutnya, harga minyak di kisaran US$100 per barel berada dalam kondisi yang tidak stabil, yang ia sebut sebagai “limbo”. Harga tersebut dianggap terlalu tinggi untuk menciptakan stabilitas ekonomi, namun di sisi lain, masih terlalu rendah untuk sepenuhnya mencerminkan gangguan fisik pada pasokan energi yang sebenarnya terjadi.
Konflik yang terjadi secara efektif telah menutup jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Penutupan ini secara signifikan menghambat aliran pasokan minyak mentah, gas alam, dan produk energi lainnya seperti diesel ke pasar global. Akibatnya, terjadi lonjakan harga energi yang signifikan, sekaligus meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya krisis inflasi yang lebih luas.
Meskipun Trump berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran hampir tercapai, Amerika Serikat justru terus mengirimkan tambahan pasukan ke kawasan tersebut seiring dengan konflik yang memasuki pekan kelima. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai strategi jangka panjang Amerika Serikat dalam menangani ketegangan di Timur Tengah.
Serangan Kapal Tanker dan Dampak Ekonomi
Sementara itu, insiden yang lebih spesifik kembali terjadi. Sebuah kapal tanker minyak milik Kuwait Petroleum Corp. yang sedang penuh muatan dilaporkan terkena serangan Iran di pelabuhan Dubai. Serangan ini memicu kebakaran dan menyebabkan kerusakan pada lambung kapal. Insiden ini menambah daftar panjang serangan Iran terhadap sejumlah kapal di Teluk Persia sejak perang dimulai, termasuk dua kapal yang sebelumnya diserang di dekat Irak.
Serangan terhadap kapal tanker raksasa Al-Salmi terjadi tak lama setelah tengah malam waktu setempat. Kuwait Petroleum menyatakan bahwa serangan tersebut berpotensi menyebabkan tumpahan minyak di perairan sekitar. Hingga berita ini diturunkan, tim pemadam kebakaran maritim masih berupaya mengendalikan api, sebagaimana dilaporkan oleh kantor media pemerintah Dubai melalui platform X.
Sepanjang bulan Maret, harga minyak WTI mengalami lonjakan yang mengesankan, yaitu lebih dari 50%. Kenaikan ini merupakan yang terbesar sejak Mei 2020, menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap gejolak geopolitik. Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin nasional juga dilaporkan mendekati US$4 per galon. Kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan politik terhadap Presiden Trump, mengingat isu harga energi seringkali menjadi sorotan publik.
Prospek De-eskalasi dan Ancaman Baru
Rebecca Babin, seorang senior energy trader di CIBC Private Wealth Group, menilai bahwa prospek de-eskalasi konflik masih sulit terlihat dalam waktu dekat. Ia memperkirakan bahwa sekitar 10 hingga 12 juta barel per hari pasokan minyak masih hilang dari pasar global. Selain itu, cadangan penyangga yang tersedia juga semakin menipis, yang berarti pasar memiliki sedikit ruang untuk menyerap gangguan pasokan lebih lanjut.
Eskalasi konflik tidak hanya terbatas pada serangan langsung di perairan. Pada akhir pekan, kelompok Houthi yang didukung oleh Iran di Yaman turut terlibat dalam konflik dengan melancarkan serangan rudal ke Israel. Iran diduga mendorong kelompok tersebut untuk mempersiapkan kampanye baru yang menargetkan pelayaran di Laut Merah. Langkah ini berpotensi mengancam pasokan minyak yang berasal dari rute alternatif di luar Selat Hormuz, termasuk pengiriman minyak dari Arab Saudi melalui pelabuhan Yanbu.
Upaya Pengamanan dan Kebijakan Iran
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengemukakan bahwa Amerika Serikat akan “mengambil kembali kendali” atas Selat Hormuz untuk memastikan kelancaran pelayaran. Upaya ini rencananya akan dilakukan melalui pengawalan militer oleh Amerika Serikat sendiri atau melalui koalisi multinasional.
Sementara itu, parlemen Iran dilaporkan telah menyetujui rancangan undang-undang yang akan memberlakukan biaya bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Keputusan ini, jika diterapkan, dapat menambah kompleksitas dan biaya bagi perdagangan maritim internasional yang bergantung pada jalur pelayaran strategis ini.


