Proyek PLTU Mempawah, Strategi Jangka Panjang PTBA
Jakarta — PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) saat ini sedang dalam proses pencarian mitra untuk menggarap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini direncanakan akan memasuki tahap konstruksi fisik pada awal 2027. PLTU tersebut akan menjadi sumber energi utama bagi smelter aluminium yang dikelola oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam mengunci pasar batu bara jangka panjang. PLTU dengan kapasitas 1,25 gigawatt (GW) ini dirancang untuk mendukung operasional smelter Inalum yang memiliki kapasitas produksi hingga 600.000 ton per tahun.
“Kebutuhan batu bara diperkirakan mencapai sekitar 6,9 juta ton per tahun dan akan kami amankan selama 30 tahun,” ujarnya.
Saat ini, PTBA sedang menjajaki kemitraan strategis dengan sejumlah calon mitra dari berbagai negara, termasuk China, Korea Selatan, dan Jepang. Kemitraan ini tidak hanya terkait dengan teknologi, tetapi juga pendanaan untuk proyek tersebut.
- Proyek PLTU Mempawah akan menjadi sumber energi utama bagi smelter aluminium Inalum.
- Kapasitas PLTU mencapai 1,25 GW dan akan melayani kebutuhan batu bara sebesar 6,9 juta ton per tahun.
- PTBA sedang menjajaki kemitraan dengan mitra dari berbagai negara untuk dukungan teknologi dan pendanaan.
Dampak Ekspansi Proyek terhadap Kinerja Keuangan
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA, Una Lindasari, menegaskan bahwa ekspansi proyek strategis ini akan berdampak pada kebijakan keuangan perseroan, termasuk pembagian dividen. “Kami harus menyeimbangkan antara kebutuhan investasi dan dividen. Tahun ini ada beberapa proyek yang mulai berjalan, terutama pembangunan pembangkit listrik di Mempawah, sehingga kondisi arus kas menjadi pertimbangan utama,” jelasnya.
Dalam laporan kinerja keuangan 2025, PTBA membukukan laba bersih sebesar Rp2,93 triliun, turun 42,6% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,1 triliun. Penurunan ini terjadi di tengah melemahnya harga batu bara global. Perseroan mencatat EBITDA sebesar Rp6,08 triliun dengan margin 14% sepanjang 2025.
Meski laba tertekan, PTBA mencatat perbaikan profitabilitas secara kuartalan yang didorong oleh optimalisasi portofolio ekspor serta efisiensi biaya.
Kinerja Operasional yang Solid
Dari sisi operasional, kinerja perusahaan tetap solid. Produksi batu bara tumbuh 9% secara tahunan, diikuti peningkatan penjualan sebesar 6%. Namun demikian, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) turun 6% secara tahunan seiring penurunan harga batu bara acuan global. Tercatat, Newcastle Coal Index melemah hingga 22%, sementara Indonesia Coal Index 3 turun 16%.
Direktur Utama PTBA Arsal Ismail mengatakan sepanjang 2025 perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp42,65 triliun, naik 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, beban pokok pendapatan juga meningkat 5% menjadi Rp36,39 triliun, seiring dengan kenaikan volume operasional.
Efisiensi tetap terlihat dari penurunan stripping ratio menjadi 6,07 kali dari sebelumnya 6,23 kali. Selain itu, volume angkutan batu bara juga meningkat 6% dari 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton.
Strategi di Tengah Volatilitas Harga Komoditas
Dengan kinerja tersebut, PTBA tetap akan menjaga ketahanan energi nasional, terutama melalui pasokan ke pasar domestik yang mencapai lebih dari separuh total penjualan.
“Ke depan, perseroan juga akan mengkombinasikan strategi efisiensi biaya dengan ekspansi pasar global guna menjaga kinerja di tengah volatilitas harga komoditas,” tuturnya.



















