Laut Merah dan Teluk Hormuz Kembali Jadi Titik Rawan: Perkembangan Terkini dan Dampaknya

Diposting pada

Eskalasi Ketegangan di Timur Tengah

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memunculkan kekhawatiran global, terutama setelah ancaman dari sekutu Iran untuk menutup jalur pelayaran strategis Bab al-Mandeb. Ancaman ini muncul sebagai respons atas tindakan Amerika Serikat (AS) yang berencana membom pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran, memberikan peringatan keras melalui media sosial X. Ia menyatakan bahwa Komando terpadu garis depan Perlawanan akan menganggap Bab al-Mandeb sama seperti Hormuz. Jika Gedung Putih mengulangi kesalahan konyolnya, maka aliran energi dan perdagangan global dapat terganggu hanya dengan satu gerakan.

Letak Geografis dan Pentingnya Bab al-Mandeb

Secara geografis, Selat Bab al-Mandeb terletak antara Yaman di sebelah timur laut serta Djibouti dan Eritrea di Tanduk Afrika pada sisi barat daya. Jalur ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden yang kemudian membentang hingga ke Samudra Hindia.

Lebar selat ini hanya 29 kilometer pada titik tersempitnya, sehingga lalu lintas kapal terbatas pada dua jalur untuk pengiriman masuk dan keluar. Wilayah ini secara efektif dikendalikan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman. Kelompok ini merupakan bagian sentral dari “Poros Perlawanan” Iran, sebuah koalisi yang secara ideologis dan taktis selaras dengan Teheran.

Keberadaan Bab al-Mandeb dalam Perdagangan Energi

Pentingnya Bab al-Mandeb meningkat drastis sejak penutupan Selat Hormuz, jalur yang biasanya mengangkut 20% pasokan minyak dan gas dunia. Bab al-Mandeb merupakan rute vital bagi Arab Saudi untuk mengirimkan minyaknya ke Asia.

Jika Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb ditutup secara bersamaan, maka 25% atau seperempat pasokan minyak dan gas dunia akan terblokir total. Data tahun 2024 menunjukkan sekitar 4,1 miliar barel minyak mentah dan produk minyak sulingan melewati selat ini, atau setara dengan 5% dari total global. Selain energi, 10% perdagangan global termasuk kontainer dari China dan India menuju Eropa juga bergantung pada jalur ini.

Kemampuan Iran dan Sekutunya dalam Menutup Jalur

Kelompok Houthi telah membuktikan kemampuan mereka dalam mengganggu jalur ini. Nabeel Khoury, mantan diplomat Amerika Serikat, menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa serangan rudal Houthi ke Israel saat ini masih merupakan partisipasi simbolis. Mereka telah menembakkan beberapa rudal sebagai peringatan karena adanya pembicaraan tentang potensi eskalasi.

Khoury menegaskan bahwa senjata utama Houthi jika ingin benar-benar terlibat dalam perang adalah blokade Bab al-Mandeb. Yang perlu mereka lakukan hanyalah menembaki beberapa kapal yang lewat, dan itu akan menyebabkan penghentian seluruh pelayaran komersial melalui Laut Merah. Itu akan menjadi garis merah, dan kemudian Anda akan melihat serangan terhadap Yaman dari AS dan Israel dengan sangat cepat.

Dampak Penutupan Bab al-Mandeb bagi Dunia

Dunia kini berada di ambang krisis ekonomi yang lebih dalam jika ancaman ini terealisasi. Elisabeth Kendall, spesialis Timur Tengah dan Presiden Girton College di Universitas Cambridge, menyebut situasi ini sebagai skenario terburuk bagi perdagangan global.

Sebab jika Anda memiliki pembatasan di Selat Hormuz pada saat yang sama dengan eskalasi pembatasan di Bab al-Mandeb, maka Anda benar-benar akan mengganggu, jika tidak melumpuhkan, perdagangan menuju Eropa. Jadi ini benar-benar berada di ujung tanduk, tergantung pada apa yang terjadi selanjutnya.

Kendall menambahkan bahwa meski posisi ini menguntungkan bagi Houthi, kelompok tersebut mungkin masih mempertimbangkan risiko untuk tidak memicu respons yang lebih luas dari Arab Saudi maupun kekuatan global lainnya. Jika blokade terjadi, dampak ekonominya akan dirasakan langsung di pabrik-pabrik, dapur rumah tangga, hingga stasiun pengisian bahan bakar di seluruh dunia.

Dampak pada Ekonomi Indonesia

Dubes UEA (Duta Besar Uni Emirat Arab) untuk Indonesia, Abdulla Salem Al Dhaheri, menuturkan ekonomi Indonesia terdampak krisis Selat Hormuz. Adanya gangguan rantai pasok kebutuhan energi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Indonesia sendiri juga mengalaminya, namun kenaikan harga BBM masih mampu diredam pemerintah.

“Sekitar 20 persen dari suplai minyak dunia dan 20 persen dari perdagangan LNG global masuk melalui Selat Hormuz dan 80-90 persen dari ekspor ini menuju ke Asia. Artinya, gangguan di kawasan kami akan berdampak pada pasar global,” bebernya.

Jalur Alternatif di Selat Hormuz

Update pada pukul 23.20 GMT, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memberikan jalur pelayaran alternatif di Selat Hormuz agar kapal niaga yang diizinkan lewat tak kena ranjau laut. Dalam pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita ISNA, menjelaskan bahwa semua kapal yang bermaksud menyeberangi selat tersebut, berkoordinasi dengan Angkatan Laut IRGC, harus mengambil rute berikut:

  • Rute masuk: Dari Laut Oman ke utara Pulau Larak, lalu berlanjut menuju Teluk
  • Rute keluar: Dari teluk melewati sebelah selatan Pulau Larak, lalu melanjutkan menuju Laut Oman

Di saat kondisi berangsur mendingin, Israel menyerang 100 lokasi di Lebanon kurang dari 10 menit. Kejadian ini menaikkan lagi tensi perang karena Iran adalah pendukung utama Lebanon.

Hezbollah mengeluarkan pernyataan yang menggambarkan serangan Israel di seluruh Lebanon sebagai kejahatan perang yang menargetkan warga sipil yang tidak bersalah.

Penulis : wafaul

Gambar Gravatar
Hidayat merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan