Kematian seorang prajurit TNI, Prada Lucky Cepril Saputra Namo, yang diduga dianiaya oleh seniornya di dalam asrama, telah memicu gelombang kekecewaan dan tuntutan dari keluarga korban serta pihak berwenang. Kasus ini menimbulkan pertanyaan besar tentang prosedur dan disiplin di lingkungan militer, terutama terkait perlindungan anggota baru yang masih dalam masa pembentukan karakter.
Kejadian yang Menggemparkan
Prada Lucky, yang baru dua bulan menjadi anggota TNI AD, meninggal setelah menjalani perawatan selama empat hari di Rumah Sakit Umum Daerah Aeramo, Nagekeo. Ia ditempatkan di Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) 834 Waka Nga Mere, NTT, setelah lulus pendidikan di Sekolah Calon Tamtama (Secatam) TNI AD di Singaraja, Bali, pada Februari 2025. Keluarga korban menyatakan bahwa kematian Lucky tidak bisa diterima sebagai bagian dari tugasnya sebagai tentara, melainkan akibat penganiayaan yang dilakukan oleh senior-seniornya.
Paman Lucky, Rafael David, mengungkapkan bahwa korban sempat melarikan diri ke rumah mama angkatnya dalam kondisi badannya hancur, dengan luka lebam di tubuhnya. “Dia bilang ‘mama saya dicambuk’ saat dia minta tolong,” ujar Rafael. Hal ini menunjukkan adanya dugaan kekerasan fisik yang dilakukan oleh rekan-rekan satu satuan.
Tuntutan Keluarga dan Pihak Berwenang
Ayah kandung Lucky, Sersan Mayor Kristian Namo, meminta agar kasus ini diusut tuntas dan pelaku diberi hukuman mati. “Saya tuntut keadilan, kalau bisa semua dihukum mati biar tidak ada lagi Lucky-Lucky yang lain,” katanya. Ibunya, Sepriana Paulina Mirpey, juga menyampaikan rasa sakit hati yang mendalam karena anaknya tewas secara sia-sia di tangan senior-senior sendiri. “Kalau (para pelaku) tidak diproses lebih baik bunuh saya saja, saya sakit hati kalian buat anak saya seperti ini,” ujarnya.
Selain tuntutan keluarga, POM TNI telah menangkap empat prajurit yang diduga terlibat dalam penganiayaan tersebut. Namun, Dandim 1625 Ngada, Letkol Czi Deny Wahyu Setiyawan, tidak merinci identitas para tersangka. Menurutnya, keempat prajurit tersebut telah ditahan di ruang tahanan Sub Detasemen Polisi Militer (Subdenpom) Ende. Selain itu, total 20 prajurit TNI AD diperiksa untuk mengusut kematian Lucky.
Proses Investigasi yang Transparan
Menurut Waka Pendam IX/Udayana Letkol Inf. Amir Syarifudin, tim investigasi yang terdiri dari unsur Sub Detasemen Polisi Militer (Sudenpom) Kupang dan Intelijen sudah turun ke TKP untuk membuat terang peristiwa meninggalnya Lucky. Ia menegaskan bahwa pengusutan kasus akan dilakukan secara transparan dan profesional sesuai hukum yang berlaku.
“Kita lakukan secara transparan, terbuka, artinya kita tetap memegang teguh hukum. Kita tetap menjunjung tinggi hukum termasuk yang empat orang itu kita menggunakan azas praduga tak bersalah,” tuturnya. Meskipun demikian, status keempat orang tersebut belum diketahui secara pasti apakah diamankan sebagai terduga pelaku atau dalam kapasitas lain sebab proses investigasi sedang berjalan.
Peran Pemerintah dalam Menjamin Kepastian Hukum
Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Luar Negeri Sugiono, juga menuntut investigasi menyeluruh terhadap serangkaian insiden di Lebanon yang mengakibatkan prajurit TNI dari misi UNIFIL mengalami luka-luka hingga meninggal dunia. Desakan ini disampaikan Sugiono saat menghadiri upacara penghormatan terakhir bagi tiga jenazah pasukan perdamaian PBB tersebut.
“Kami menuntut investigasi menyeluruh karena ini adalah misi menjaga perdamaian,” kata Sugiono. Ia menegaskan bahwa insiden seperti ini seharusnya tidak terjadi. “Harus ada satu jaminan keamanan bagi prajurit-prajurit penjaga perdamaian, karena mereka menjaga perdamaian, peace-keeping, not peace-making.”
Dengan semakin banyaknya kasus-kasus dugaan penganiayaan di lingkungan militer, penting bagi pemerintah dan institusi terkait untuk memastikan bahwa setiap kejadian diinvestigasi secara transparan dan tuntas. Kepastian hukum dan perlindungan terhadap anggota TNI, terutama yang masih dalam masa pembentukan, harus menjadi prioritas utama. Dengan demikian, kepercayaan masyarakat terhadap institusi militer dapat tetap terjaga.
Penulis : wafaul















