Banjir Bandang di Sumatera dan Kritik terhadap Pernyataan Cak Imin
Banjir bandang yang menerjang beberapa wilayah di Sumatera menimbulkan berbagai respons dari berbagai pihak. Salah satu yang menarik perhatian adalah pernyataan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, yang memberikan kritik terhadap ucapan Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), yang meminta dua menteri lainnya untuk melakukan tobat nasuha.
Apa Itu Tobat Nasuha?
Istilah tobat nasuha merujuk pada tindakan tobat yang dilakukan secara sungguh-sungguh, penuh keikhlasan, serta disertai tekad kuat untuk tidak mengulangi kesalahan. Namun, menurut Panggah Susanto, penggunaan istilah ini dalam situasi krisis seperti banjir bandang dinilai tidak tepat. Ia menilai bahwa pernyataan tersebut justru berpotensi menciptakan kesan saling menyalahkan antara kementerian-kementerian terkait, alih-alih fokus pada solusi komprehensif bagi masyarakat yang terdampak bencana.
“Ya, prinsipnya sangat tidak tepat mengeluarkan pernyataan seperti itu dalam kondisi bencana seperti ini, apalagi itu keluar dari seorang Muhaimin Iskandar yang juga berada di dalam pemerintahan menjabat sebagai Menko PM,” ujar Panggah, Selasa (2/12/2025).
Pentingnya Kolaborasi dalam Krisis
Panggah menegaskan bahwa pemerintah seharusnya lebih mengedepankan kerja sama daripada melempar tanggung jawab. Dalam situasi bencana, masyarakat membutuhkan kehadiran negara dalam bentuk langkah penanganan yang cepat sekaligus strategi pencegahan jangka panjang.
“Tidak perlu saling lempar tanggung jawab dan saling menyalahkan, yang terpenting kita harus dalam kesadaran hidup di wilayah rawan bencana, untuk diantisipasi dengan pembenahan menyeluruh terhadap pencegahan potensi bencana baik banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, gempa, dll,” jelasnya.
Kerusakan Lingkungan sebagai Penyebab Bencana
Selain itu, Panggah mengakui bahwa kerusakan lingkungan menjadi salah satu faktor utama penyebab bencana. Ia menyoroti fakta bahwa banyak kawasan hutan di Indonesia yang mengalami penggundulan, sehingga tidak mampu lagi menahan curah hujan ekstrem.
“Bencana banjir ini salah satunya akibat penggundulan hutan, tutupan, selain karena curah hujan yang ekstrem, misalnya hutan di Jawa seluas kurang lebih 2,4 juta hektare, di mana saat ini separuh dari luasan itu sudah menjadi lahan terbuka, akibat akumulasi permasalahan pada masa lalu yang tidak kunjung diselesaikan secara komprehensif dan menyeluruh,” jelasnya.
Momentum untuk Evaluasi dan Perbaikan
Panggah berharap bencana ini menjadi momentum bagi semua pihak untuk melakukan introspeksi, evaluasi menyeluruh, serta merumuskan kebijakan tata kelola lingkungan dan sumber daya alam yang lebih berkelanjutan.
“Harus dijadikan momentum kita semua untuk introspeksi dan evaluasi secara menyeluruh kebijakan pembangunan yang memiliki orientasi keberlanjutan, yang ramah lingkungan untuk keberlangsungan hidup anak cucu kita ke depan,” imbuhnya.
Respons Cak Imin terhadap Bencana
Sebelumnya, Cak Imin sempat menyampaikan bahwa ia telah mengirim surat kepada Menteri Kehutanan, Menteri ESDM, dan Menteri Lingkungan Hidup untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan lingkungan sebagai bentuk kesungguhan pemerintah menghadapi situasi bencana.
“Hari ini saya berkirim surat ke Menteri Kehutanan, Menteri ESDM, Menteri Lingkungan Hidup untuk bersama-sama evaluasi total seluruh kebijakan, policy dan langkah-langkah kita,” ujar Cak Imin saat Workshop Kepala Sekolah SMK di Bandung, Senin (1/12/2025).
Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung konsep taubatan nasuha serta menyampaikan pesan reflektif mengenai dampak kelalaian manusia terhadap lingkungan.
“Bahasa NU-nya taubatan nasuha.”
“Kiamat bukan sudah dekat, kiamat sudah terjadi akibat kelalaian kita sendiri.”
“Semoga yang sedang mengalami musibah segera mendapatkan bantuan dan kesabaran selalu menyertai kita semua.”



















