Banjir di Cipayung yang Masih Berlanjut
Banjir yang terjadi di dekat area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Depok, Jawa Barat, masih menjadi masalah yang tidak kunjung selesai meski sudah berlangsung hampir tiga tahun. Masalah ini telah mengganggu kehidupan warga setempat dan menyebabkan akses jalan penghubung antara wilayah Bulak Barat, Kecamatan Cipayung dengan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan terputus.
Kini, area yang terendam banjir tampak seperti danau. Beberapa rumah warga tenggelam dan lahan pertanian hilang akibat banjir yang terus-menerus muncul. Banjir tersebut disebabkan oleh longsoran sampah dari TPA Cipayung yang menyebabkan pendangkalan Kali Pesangrahan di bawahnya.
Tidak hanya terjadi di satu titik, banjir juga sering memutus akses jembatan penghubung antara Gang Benda dan Gang Alif. Masalah banjir di Kampung Benda juga berasal dari sumber yang sama, yaitu pendangkalan Kali Pesanggrahan akibat longsoran sampah dari TPA Cipayung.
Warga Gelar Demo
Geram dengan kondisi yang terus berlangsung, warga bersama pengurus lingkungan sekitar TPA Cipayung menggelar demo pada Sabtu (9/5/2026). Mereka membawa spanduk dengan berbagai tuntutan agar pemerintah kota segera memberikan solusi nyata untuk masalah banjir di wilayah Cipayung.
Ketua RW 06 Kelurahan Cipayung, Adi Mukri menjelaskan bahwa penyempitan aliran kali terjadi karena tumpukan sampah yang tersangkut, yang diduga berasal dari longsoran TPA Cipayung. Ia menambahkan bahwa kedalaman kali yang biasanya mencapai 0,5 hingga 1 meter kini sangat dangkal, sehingga warga bisa menyeberanginya hanya dengan ketinggian air setinggi lutut kaki.
Selain itu, air Kali Pesangrahan sering berubah menjadi hitam dan berbau menyengat, terutama saat alat berat bekerja di area TPA. Warga RW 06 Kelurahan Cipayung khawatir bahwa banjir yang memutus akses jalan Bulan Barat ke Pasir Putih dapat merambat ke wilayah lainnya.
Warga meminta segera dilakukan normalisasi kali, pengerukan tanah yang dangkal, dan pemasangan turap yang kokoh (paku bumi) dengan kedalaman minimal 25 meter di sekeliling TPA untuk menahan longsoran sampah.
“Saya berharap Pak KDM tinjaulah kami orang bawah di, khususnya di Kelurahan Cipayung RW 06, baik di Bulak Barat, Pasir Putih, untuk hadir melihat kondisi TPA yang ada di Cipayung ini,” pintanya.
Solusi dari Pemkot Depok
Usai didemo warga, Wali Kota Depok Supian Suri langsung meninjau lokasi banjir pada Minggu (10/5/2026). Supian secara terbuka menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada warga atas musibah banjir yang telah terjadi selama bertahun-tahun.
Ia menegaskan bahwa ia tidak marah atas aksi demo atau penyampaian aspirasi warga, melainkan menganggapnya sebagai media komunikasi yang wajar untuk menyampaikan harapan masyarakat. Wali Kota mengidentifikasi sampah dari TPA Cipayung sebagai penyebab utama pendangkalan Kali Pesanggrahan.
Sebagai solusi, Depok akan menandatangani kesepakatan (MoU) dengan Pemerintah Kota Bogor, Kementerian LHK, dan pihak Danantara untuk pengelolaan sampah menjadi energi listrik di wilayah Bogor. “Mulai awal tahun 2028, diharapkan 700 ton sampah per hari yang biasanya masuk ke TPA Cipayung akan dikirim ke Bogor,” kata Supian.
Kemudian, sisa 500 ton sampah lainnya akan diolah menjadi bahan baku pembakaran semen (RDF) di wilayah Citereup agar tidak terjadi longsoran sampah ke sungai lagi.
Solusi Jangka Pendek
Supian mengintruksikan Dinas PUPR untuk mendatangkan alat berat guna mengeruk saluran air agar aliran lebih lancar. Selain itu, akan dilakukan penebangan pohon yang menghalangi jalur air di kolong jembatan.
“Jembatan di lokasi tersebut akan ditinggikan minimal 2 meter pada akhir tahun ini agar air dan sampah tidak tersangkut,” ujarnya. Selain itu, Pemkot Depok akan melanjutkan pembangunan turap pada tahun depan untuk mencegah air meluap saat debit tinggi.
DPRD Dorong Percepatan Solusi Banjir
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Depok Ade Supriyatna mendorong pemerintah kota untuk segera menyelesaikan permasalahan banjir di Cipayung. Penyelesaian masalah banjir di Cipayung dapat dilakukan dari sisi teknis maupun kebutuhan anggaran, guna mengakomodasi aspirasi masyarakat.
Politisi PKS itu juga mengapresiasi respons cepat Wali Kota Depok Supian Suri yang telah menemui warga untuk membahas persoalan tersebut pada Minggu (10/5/2026). Ade menilai, terdapat dua tuntutan utama warga yang menjadi fokus, yakni normalisasi Kali Pesanggrahan dan pembangunan turap di sepanjang aliran kali untuk mencegah banjir susulan.
“Kita dorong entar nanti model penyelesaiannya seperti apa, membutuhkan anggaran berapa, atau cukup dengan sumber daya yang ada di Pemerintah Kota (Pemkot) Depok,” kata Ade. Selain itu, Ade mengusulkan agar adanya kolaborasi antar dinas untuk menangani persoalan banjir di wilayah Cipayung. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) dan Dinas PUPR Kota Depok diminta untuk berkolaborasi melakukan aksi cepat, seperti pengerukan sedimen menggunakan alat berat.














