Kabupaten Sikka Waspadai Kenaikan Angka Stunting
Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, tengah berupaya keras mengatasi masalah stunting. Meskipun sempat menunjukkan tren positif, angka stunting di wilayah ini mengalami kenaikan yang mengkhawatirkan. Pada Oktober 2025, data elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) mencatat adanya peningkatan prevalensi stunting sebesar 4,2 persen, menjadi 14,6 persen. Padahal, sebelumnya pada Agustus 2025, angka ini berhasil ditekan hingga 10,4 persen.
Kondisi ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Sikka. Wakil Bupati Sikka, Simon Subandi Supriadi, mengungkapkan keprihatinannya saat membuka Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang berlangsung di Aula Sikka Convention Center (SCC). Menurutnya, kenaikan angka stunting ini menjadi sinyal bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam upaya penanganan stunting di daerah.
Tren Penurunan yang Sempat Terjadi
Sebelumnya, Kabupaten Sikka patut berbangga karena berhasil mencatatkan tren penurunan angka stunting selama tiga tahun terakhir. Data menunjukkan penurunan yang signifikan, dari 15,3 persen pada tahun 2023 menjadi 10,4 persen pada Agustus 2025. Hal ini menunjukkan bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan sebelumnya mulai membuahkan hasil.
Namun, kenaikan yang terjadi pada Oktober 2025 menjadi cambuk bagi seluruh pihak terkait untuk bekerja lebih keras lagi. Wakil Bupati Simon Subandi menekankan bahwa stunting bukan hanya sekadar masalah kesehatan, melainkan juga ancaman bagi masa depan daerah. Anak-anak yang mengalami stunting berpotensi mengalami gangguan perkembangan kognitif dan motorik, serta memiliki daya saing yang rendah di masa depan.
Stunting Sebagai Prioritas Nasional dan Daerah
Mengingat dampak negatif stunting yang sangat besar, pemerintah pusat dan daerah menjadikan penurunan stunting sebagai agenda prioritas. Wakil Bupati Simon Subandi menegaskan pentingnya kerja sama dan koordinasi lintas sektor dalam menangani masalah ini. Upaya percepatan penurunan stunting tidak boleh dilakukan secara parsial, melainkan harus terintegrasi dan melibatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Pentingnya Sinergi Lintas Sektor
Menurutnya, intervensi tidak hanya terbatas pada sektor kesehatan, tetapi juga harus melibatkan sektor pendidikan, sosial, pertanian, perumahan, air minum, sanitasi, pemberdayaan masyarakat, dan ketahanan pangan. Semua sektor harus bekerja bersama-sama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak yang optimal.
Wakil Bupati juga menekankan bahwa penurunan stunting adalah tanggung jawab bersama. Setiap OPD, pemerintah kecamatan, desa, bahkan setiap keluarga memiliki peran penting dalam upaya ini. Pemerintah Kabupaten Sikka ingin memastikan bahwa tidak ada anak di wilayahnya yang gagal tumbuh hanya karena kekurangan gizi, kurang perhatian, atau kurangnya akses layanan dasar.
Arahan Strategis untuk Penanganan Stunting
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Simon Subandi menyampaikan sejumlah arahan strategis untuk memperkuat upaya konvergensi penanganan stunting, antara lain:
Memperkuat Koordinasi Lintas Sektor: Seluruh kegiatan OPD harus selaras dengan rencana aksi percepatan penurunan stunting. Koordinasi yang baik akan memastikan bahwa semua program dan kegiatan berjalan efektif dan efisien.
Validasi Data Keluarga Berisiko: Data yang akurat dan valid sangat penting dalam perencanaan dan pelaksanaan program penanganan stunting. Data P3KE, SKI, e-PPGBM, dan SIGA harus dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan yang komprehensif.
Optimalisasi Kegiatan di Tingkat Desa dan Kelurahan: Tingkat desa dan kelurahan merupakan garda terdepan dalam penanganan stunting. Kegiatan seperti Rembuk Stunting, audit kasus stunting, pemberian makanan tambahan, pemantauan tumbuh kembang, serta pemanfaatan dana desa untuk mendukung program harus dioptimalkan.
Penguatan Peran Tim Pendamping Keluarga (TPK): TPK memiliki peran krusial dalam mendampingi ibu hamil, memantau tumbuh kembang balita, dan melaporkan data secara aktif melalui aplikasi. Mereka adalah ujung tombak dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting di tingkat keluarga.
Pengembangan Inovasi Daerah: Inovasi sangat penting untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi program penanganan stunting. Program seperti DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting), Gerakan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan), Kelas Calon Pengantin, Bapak/Ibu Asuh Anak Stunting (BAAS), serta inovasi berbasis kearifan lokal perlu terus dikembangkan dan diperluas.
Harapan untuk Generasi Emas Sikka
Melalui Rakor TPPS tersebut, Wakil Bupati berharap tercipta komitmen kuat dari seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan langkah nyata dan terukur untuk menurunkan angka stunting secara berkelanjutan. Dengan kerja sama dan sinergi yang baik, diharapkan Kabupaten Sikka dapat mencapai target penurunan stunting dan mewujudkan generasi emas yang sehat, cerdas, dan produktif di masa depan.
Rakor TPPS ini dihadiri oleh berbagai pihak terkait, termasuk Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan, Forkopimda, TP-PKK Kabupaten Sikka, para pimpinan OPD konvergensi, para camat, kepala desa/lurah lokus stunting, kepala puskesmas beserta staf, para penyuluh KB, mitra pembangunan, organisasi masyarakat, serta organisasi profesi seperti IBI dan PERSAGI.




