Pergerakan harga minyak acuan dunia terlihat stabil meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah meningkatkan ancaman terhadap Iran. Ia menyatakan bahwa AS akan menghancurkan infrastruktur penting di Iran jika syarat kesepakatan yang diajukan oleh negara tersebut tidak dipenuhi.
Harga minyak Brent turun sebesar 0,2% menjadi US$ 109,61 per barel pada Selasa (7/4). Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik 0,3% menjadi US$ 112,76 per barel.
Trump sebelumnya menyampaikan bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan baik, meski ia menekankan bahwa pembukaan akses Selat Hormuz merupakan prioritas utama saat ini. Presiden ke-45 AS ini menyebut konsekuensi yang akan dihadapi Iran jika tidak mencapai kesepakatan sebelum batas waktu pukul 20.00 AS pada Selasa (7/4). Ia mengatakan pasukan militer AS dapat menghancurkan setiap jembatan di Iran pada tengah malam besok.
Dia juga menyebut pembangkit listrik di sana akan dibuat terbakar, meledak, dan tidak akan pernah bisa digunakan lagi. Hal tersebut berpotensi melanggar Konvensi Jenewa. Iran memperingatkan akan merespons serangan tersebut dengan meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi di Teluk Persia. Langkah ini dapat memperparah ketatnya pasokan bahan bakar global dan memperbesar dampak terhadap perekonomian dunia.
Perang yang kini memasuki minggu keenam telah mengguncang pasar minyak mentah dan memicu guncangan pasokan yang parah. “Situasi di Iran belum menunjukkan perubahan. Kami pikir sudah mendekati akhir (perang), tetapi itu belum tentu menjadi hal yang baik jika berujung pada aksi militer,” kata analis minyak dan gas di Enverus Carl Larry dikutip dari Bloomberg, Selasa (7/4).
Seiring dengan kondisi perang yang semakin berlarut-larut, muncul tanda-tanda peningkatan kekhawatiran terhadap pasokan minyak jangka pendek. Selisih harga kontrak terdekat minyak WTI sempat diperdagangkan mendekati US$ 15,50 per barel pada Senin lalu. Angka ini mendekati premi tertinggi sepanjang sejarah. Pelebaran selisih ini didorong oleh ekspektasi pasokan AS yang semakin ketat, seiring pembeli luar negeri berlomba membeli minyak mentah Amerika.
Perkembangan Pasar Minyak
Harga minyak acuan dunia cenderung stabil meskipun ada ancaman dari pihak AS terhadap Iran. Meskipun demikian, situasi geopolitik tetap menjadi faktor utama dalam menentukan fluktuasi harga. Harga minyak Brent turun sedikit, sementara harga WTI AS naik. Kedua komoditas ini menjadi indikator utama bagi pasar minyak global.
- Penurunan harga Brent disebabkan oleh beberapa faktor seperti penurunan permintaan di pasar Asia dan Eropa.
- Kenaikan harga WTI AS dipengaruhi oleh kenaikan permintaan dari negara-negara yang membutuhkan suplai minyak secara mendesak.
Ancaman Militer dan Dampaknya
Presiden AS Donald Trump memberikan ancaman keras terhadap Iran, termasuk mengancam akan menghancurkan infrastruktur penting jika kesepakatan tidak tercapai. Ancaman ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan para pemain pasar minyak.
- Jika ancaman ini benar-benar dilakukan, maka akan terjadi gangguan besar terhadap pasokan minyak global.
- Iran juga telah memperingatkan akan merespons ancaman tersebut dengan meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi di Teluk Persia.
Kondisi Pasokan Minyak Jangka Pendek
Kondisi perang yang semakin berlarut-larut memicu peningkatan kekhawatiran terhadap pasokan minyak jangka pendek. Selisih harga kontrak terdekat minyak WTI mencerminkan ketegangan pasar.
- Selisih harga mencapai angka yang hampir mendekati rekor tertinggi sepanjang sejarah.
- Ekspektasi pasokan AS yang semakin ketat menjadi salah satu penyebab pelebaran selisih harga.
Analisis Pasar Minyak
Analis minyak dan gas dari Enverus, Carl Larry, menyatakan bahwa situasi di Iran belum menunjukkan perubahan signifikan. Namun, kekhawatiran terhadap potensi aksi militer tetap menjadi faktor yang harus diperhatikan.
- Meski situasi tampak mendekati akhir, risiko terjadinya konflik militer tetap ada.
- Kondisi ini dapat memengaruhi stabilitas pasar minyak global secara keseluruhan.

















