Proyek Sekolah Rakyat Terintegrasi di Bangkalan: Akselerasi Pendidikan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, terus berupaya meningkatkan akses pendidikan berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama mereka yang berasal dari kalangan berpenghasilan rendah. Salah satu inisiatif strategis yang sedang digalakkan adalah pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT). Proyek ambisius ini tidak hanya berfokus pada penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, tetapi juga didasari oleh pemahaman mendalam akan kebutuhan sosial ekonomi masyarakat di wilayah sasaran.
Latar Belakang dan Tujuan Pembangunan SRT
Pembangunan SRT di Kabupaten Bangkalan merupakan respons terhadap adanya kantong-kantong masyarakat berpenghasilan rendah yang membutuhkan dukungan pendidikan lebih intensif. Pemilihan lokasi di Desa Katol, Kecamatan Geger, didasarkan pada kajian mendalam mengenai konsentrasi penduduk dari segmen ekonomi lemah. Keberadaan SRT diharapkan dapat menjadi solusi konkret untuk menopang kebutuhan pendidikan mereka, membuka peluang yang lebih luas, dan pada akhirnya, berkontribusi pada peningkatan taraf hidup masyarakat secara keseluruhan.
Proses Pembebasan Lahan: Sebuah Perjalanan Menuju Realisasi
Proses pembebasan lahan untuk pembangunan SRT telah menjadi agenda utama sejak tahun 2025. Hingga saat ini, upaya ini menunjukkan kemajuan yang signifikan, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan. Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Bangkalan, Ali Yusri Purwanto, menjelaskan bahwa target awal pembebasan lahan adalah seluas 7,6 hektar. Hingga kini, pihaknya berhasil membebaskan lahan seluas 38.081 meter persegi atau setara dengan 3,8 hektar.
“Target kami di tahun lalu adalah 50.000 meter persegi atau 5 hektar. Namun, karena adanya kendala yang dihadapi, realisasi pembebasan lahan baru mencapai 3,8 hektar,” ujar Ali Yusri Purwanto pada Senin, 12 Januari 2026.
Tantangan dalam pembebasan lahan ini turut tercermin dalam aspek pendanaan. Dari total anggaran yang dialokasikan, sebagian dana belum dapat terserap sepenuhnya.
- Realisasi Dana Pembebasan Lahan Tahun Lalu:
- Dana yang terealisasi: Rp 5.220.649.000
- Dana yang tidak terealisasi (Silpa): Rp 2.257.901.000
Meskipun demikian, proses pembebasan lahan tidak berhenti. Pemerintah daerah berkomitmen untuk melanjutkan upaya ini pada tahun berjalan.
Anggaran dan Strategi Pendanaan untuk Kelanjutan Proyek
Untuk memastikan kelancaran proyek, anggaran pembebasan lahan terus diupayakan. Pada tahun ini, alokasi dana yang disiapkan mencapai Rp 3,5 miliar. Menariknya, kekurangan anggaran yang mungkin timbul dapat ditutupi dengan memanfaatkan dana Silpa (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) dari tahun sebelumnya. Strategi ini menunjukkan efisiensi pengelolaan anggaran dan komitmen untuk menyelesaikan proyek tepat waktu.
Sumber pendanaan utama untuk pembebasan lahan ini berasal dari Dana Alokasi Umum (DAU) Earmark. Dana ini merupakan alokasi khusus yang disediakan oleh pemerintah pusat dengan peruntukan yang jelas, yaitu untuk pembangunan fasilitas kesehatan, pendidikan, atau infrastruktur strategis lainnya. Penggunaan DAU Earmark untuk proyek SRT menegaskan prioritas pemerintah pusat dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di daerah.
Pertimbangan Harga Lahan dan Kesejahteraan Masyarakat
Dalam proses pembebasan lahan, Dinas Pendidikan Bangkalan juga sangat memperhatikan aspek keadilan dan kesejahteraan masyarakat pemilik lahan. Harga tanah di area Kecamatan Geger, khususnya Desa Katol, bervariasi.
- Kisaran Harga Tanah per Meter Persegi:
- Minimal: Rp 99.000
- Maksimal: Rp 200.000
Penetapan harga ini disesuaikan dengan lokasi strategis tanah tersebut. Selain itu, perhitungan harga juga mempertimbangkan keberadaan tumbuhan produktif di atas lahan yang akan dibebaskan.
“Kami juga menghitung jika ada tumbuhan produktif di atas lahan itu. Jadi, sebisa mungkin masyarakat tidak dirugikan,” tegas Ali Yusri Purwanto, menekankan pendekatan yang berpihak pada warga.
Target Pembangunan Fisik dan Perkembangan Siswa SRT
Dengan selesainya proses pembebasan lahan, target selanjutnya adalah memulai pembangunan fisik SRT. Pemerintah menargetkan pembangunan dapat dimulai pada bulan Maret mendatang. Target waktu ini sangat krusial mengingat kebutuhan akan penambahan ruang kelas dan fasilitas pendidikan lainnya seiring dengan bertambahnya jumlah siswa.
Kini, Sekolah Rakyat Terintegrasi Bangkalan telah menjadi pilihan bagi banyak siswa. Kepala SRT Bangkalan, Lailatul Munawaroh, melaporkan bahwa jumlah siswa saat ini mencapai 72 orang. Perkembangan ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap konsep pendidikan terintegrasi yang ditawarkan oleh SRT.
- Dinamika Jumlah Siswa SRT:
- Jumlah siswa sebelumnya: 73 siswa
- Jumlah siswa yang keluar: 5 siswa
- Jumlah siswa tambahan akhir tahun lalu: 4 siswa
- Total siswa saat ini: 72 siswa
Pertumbuhan jumlah siswa ini menjadi motivasi tambahan bagi pemerintah daerah untuk mempercepat realisasi pembangunan fisik SRT. Diharapkan, dengan tersedianya fasilitas yang memadai, kualitas pembelajaran dapat terus ditingkatkan, memberikan bekal yang lebih baik bagi generasi muda Bangkalan untuk masa depan yang lebih cerah. Proyek SRT ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas bagi seluruh anak bangsa.

















