Prospek Karyawan di Singapura: Gaji Minim, Fokus Beralih ke Bonus dan Keseimbangan Kerja
Singapura – Seiring dengan dimulainya tahun 2026, para karyawan di Singapura dihadapkan pada prospek kenaikan gaji yang minim. Survei terbaru Randstad Singapura mengungkap bahwa mayoritas pekerja memprediksi peningkatan upah yang tidak signifikan, sementara faktor-faktor seperti bonus dan keseimbangan kehidupan kerja kini menjadi penentu utama loyalitas mereka terhadap perusahaan.
Dalam kondisi di mana banyak perusahaan sedang gencar melakukan evaluasi kinerja, isu kenaikan gaji dan bonus menjadi sorotan utama para pekerja. Temuan survei menunjukkan bahwa lebih dari separuh, tepatnya 53 persen, pekerja di Singapura menyatakan kesiapannya untuk mencari peluang kerja baru jika merasa tidak puas dengan kompensasi finansial yang ditawarkan, baik itu terkait kenaikan gaji, bonus, atau keduanya.
Panduan Prospek Pasar Kerja dan Gaji Randstad Singapura 2026, yang mengumpulkan pandangan dari 500 responden di Singapura, menggarisbawahi ekspektasi dan sikap karyawan terhadap dunia kerja.
Prediksi Kenaikan Gaji dan Harapan Bonus
Hasil survei menunjukkan gambaran yang cukup suram mengenai prospek kenaikan gaji. Sebanyak 64 persen responden memperkirakan kenaikan gaji mereka pada tahun 2026 akan berada di bawah lima persen. Lebih mengkhawatirkan lagi, 15 persen dari mereka bahkan memprediksi adanya pembekuan upah, yang berarti tidak ada kenaikan sama sekali.
Di sisi lain, harapan terhadap bonus tetap tinggi. Mayoritas besar, yaitu 84 persen karyawan di Singapura, mengharapkan setidaknya mendapatkan bonus senilai satu bulan gaji. Sisanya, meskipun lebih kecil, meyakini bahwa mereka tidak akan menerima bonus sama sekali.
David Blasco, direktur negara Randstad Singapura, menjelaskan bahwa di tengah upaya perusahaan untuk mengoptimalkan biaya dan produktivitas di tahun 2026, standar gaji untuk berbagai industri akan sangat bergantung pada dinamika permintaan dan penawaran keterampilan yang dibutuhkan. Ia menambahkan bahwa di beberapa sektor yang menghadapi kekurangan talenta mendesak, perusahaan mungkin akan menawarkan paket gaji yang lebih menarik. Namun, hal ini tidak selalu berarti perpindahan kerja akan mulus, karena mungkin ada hambatan lain yang mempersulit karyawan untuk beralih ke posisi baru.
Pasar Tenaga Kerja yang Ketat dan Pencari Kerja Pasif
Situasi pasar tenaga kerja di Singapura saat ini digambarkan sebagai pasar yang ketat, di mana jumlah lowongan pekerjaan melampaui jumlah pengangguran per Juni tahun ini, menurut Randstad Singapura.
Menariknya, mayoritas pencari kerja tidak secara aktif mencari pekerjaan baru. Meskipun 64 persen karyawan menyatakan sedang mencari peran baru, hanya 22 persen dari mereka yang disurvei yang secara aktif melamar pekerjaan. Sisanya, sebanyak 41 persen, meskipun terbuka terhadap peluang baru, tidak melakukan pencarian aktif.
Para pencari kerja pasif ini, menurut laporan tersebut, lebih sulit ditemukan oleh perusahaan, namun mereka memberikan dampak yang signifikan. Mereka cenderung memiliki kinerja yang lebih baik dan tingkat retensi yang lebih tinggi.
“Karena mereka saat ini sedang bekerja dan tidak dalam posisi putus asa membutuhkan gaji, keputusan mereka untuk berganti pekerjaan adalah keputusan yang terencana dan didorong oleh aspirasi karier, yang seringkali menghasilkan tingkat retensi yang lebih tinggi,” jelas Randstad Singapura. “Selain itu, tanpa tekanan untuk ‘menjual’ diri mereka sendiri, talenta pasif cenderung lebih transparan tentang kemampuan dan harapan mereka.”
Evaluasi Perusahaan yang Holistik
Pergeseran paradigma terlihat jelas dalam cara pekerja mengevaluasi perusahaan. Survei ini menunjukkan bahwa karyawan di Singapura kini tidak hanya mempertimbangkan gaji yang ditawarkan, tetapi juga mengevaluasi perusahaan secara holistik, termasuk manfaat menyeluruh dan budaya tempat kerja.
Meskipun 68 persen responden menempatkan bonus kinerja sebagai tunjangan yang paling dihargai, banyak juga yang memberikan nilai tinggi pada fasilitas yang berkaitan dengan waktu. Jam kerja fleksibel (60 persen) dan lokasi kerja (44 persen) menjadi faktor penting. Hal ini mencerminkan bahwa waktu merupakan aset yang sangat berharga bagi para pekerja di Singapura.
Lebih lanjut, beban kerja yang dapat dikelola dan jam kerja yang wajar menjadi inti dari persepsi karyawan mengenai keseimbangan kehidupan kerja. Laporan tersebut mengingatkan, “Organisasi yang secara konsisten mengharapkan ketersediaan di luar jam kerja, terlepas dari pekerjaan atau keterlibatan karyawan, mungkin berisiko mengasingkan sebagian dari kumpulan talenta mereka yang sangat menghargai waktu dan ruang pribadi.”
Isu Ketidaksesuaian Keterampilan dan Kekhawatiran Pekerja
Survei ini juga menyoroti kekhawatiran para pekerja di Singapura terkait ketidaksesuaian keterampilan (skill mismatch) saat mencari pekerjaan. Sebanyak 40 persen responden merasa bahwa keterampilan yang diminta dalam iklan lowongan pekerjaan tidak realistis, sementara hanya 25 persen yang berpendapat sebaliknya.
Menurut Randstad Singapura, situasi ini bisa jadi disebabkan oleh persyaratan yang terlalu ambisius dari pihak perusahaan, atau kurangnya kesadaran pencari kerja terhadap tuntutan keterampilan yang terus berkembang, atau bahkan kombinasi keduanya. Fenomena ini telah menciptakan gesekan dalam proses rekrutmen.
Laporan tersebut juga mengamati pergeseran peran tingkat pemula, yang kini bergerak dari tugas-tugas administratif rutin menuju pekerjaan teknis yang bernilai lebih tinggi. Ekspektasi terhadap lulusan baru juga meningkat, di mana pemberi kerja kini mencari keterampilan digital yang kuat dan kemampuan adaptasi untuk mendorong produktivitas dan inovasi.
Di sisi lain, para pekerja senior menghadapi kekhawatiran untuk tersingkir sebelum mencapai usia pensiun. Fenomena merger perusahaan atau pengurangan karyawan akibat percepatan digitalisasi yang pesat, terutama dengan maraknya kecerdasan buatan, menambah tekanan bagi mereka untuk terus meningkatkan keterampilan dan tetap relevan di pasar kerja yang dinamis.


















