Tragedi mengguncang Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, ketika seorang pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Palembang ditemukan tewas di semak-semak bekas kebun nanas. Kasus ini terungkap sebagai pembunuhan yang dilakukan oleh rekan kerjanya sendiri. Berikut adalah rangkuman fakta-fakta terkait peristiwa tragis ini:
Penemuan Mayat dan Identifikasi Korban
Pada hari Kamis, 22 Januari 2026, Sri Wulandari (50), seorang warga Plaju, Palembang, ditemukan tak bernyawa di Desa Gaung Asam, Kecamatan Belida, Kabupaten Muara Enim. Kondisi jenazah korban sangat memprihatinkan, dengan bekas jeratan tali di leher dan luka-luka di bagian kaki. Identifikasi kemudian mengungkap bahwa Wulandari adalah seorang pegawai SPPG Palembang.
Pelaku Pembunuhan Menyerahkan Diri
Tak lama setelah penemuan mayat, Andi (38), seorang office boy (OB) di SPPG yang sama dengan korban, menyerahkan diri ke Polsek Ilir Barat I, Palembang. Andi mengaku sebagai pelaku pembunuhan Sri Wulandari.
Kronologi Pembunuhan Berdasarkan Pengakuan Pelaku
Menurut pengakuan Andi, peristiwa tragis ini bermula ketika ia hendak pergi ke Desa Gaung Asam, Muara Enim, untuk mengembalikan terpal. Korban memaksa untuk ikut bersamanya.
- Awalnya, Andi menolak ajakan korban untuk pergi jalan-jalan sehari sebelumnya karena ia berencana ke Gaung Asam pada hari Kamis.
- Namun, saat Andi hendak berangkat dari SPPG, korban memaksa ikut, sehingga Andi memutuskan untuk membonceng korban menggunakan sepeda motor milik korban.
- Di perjalanan, Andi mengaku merasa terganggu karena korban terus memegang dan merayunya di atas sepeda motor.
- Karena merasa kesal, Andi menghentikan sepeda motor dan menjegal kaki korban hingga terjatuh.
- Tak berhenti di situ, Andi juga menekan dada korban. Karena korban melakukan perlawanan, Andi menjerat leher korban menggunakan jilbab yang dikenakannya.
- Andi mengaku tahu bahwa korban telah meninggal karena melihat darah dan lidah korban menjulur keluar.
Pembuangan Motor Korban
Setelah melakukan pembunuhan, Andi meninggalkan jenazah korban di semak-semak dekat bekas kebun nanas. Ia kemudian membawa sepeda motor korban ke wilayah Lembak dan meninggalkannya di sana. Kunci motor juga dibuang oleh pelaku. Setelah itu, Andi melanjutkan perjalanan pulang ke Palembang dengan menumpang travel.
Motif Pembunuhan: Pelecehan Seksual dan Kekesalan
Motif pembunuhan ini diduga kuat karena pelaku merasa kesal karena sering diganggu oleh korban. Andi, yang sudah memiliki istri dan anak, merasa tidak nyaman dengan perlakuan korban. Menurut Kapolsek Ilir Barat I, Kompol Fauzi Saleh, pengakuan tersangka menunjukkan bahwa ia merasa terganggu oleh tindakan korban.
Penyerahan Diri Pelaku
Merasa tidak tenang setelah melakukan pembunuhan, Andi akhirnya memutuskan untuk menyerahkan diri ke Polsek Ilir Barat I, Palembang, pada Selasa, 27 Januari 2026, sekitar pukul 20.00 WIB. Kapolsek Ilir Barat I, Kompol Fauzi Saleh, menjelaskan bahwa pelaku mendatangi rumah salah satu anggotanya dan mengakui perbuatannya. Berdasarkan hasil identifikasi dan keterangan tersangka, korban bernama Wulandari (50), seorang pekerja di SPPG yang sama dengan tersangka.
Penyerahan Kasus ke Polres Muara Enim
Setelah pelaku menyerahkan diri, pihak Polsek Ilir Barat I menyerahkan pelaku ke Polres Muara Enim untuk diproses lebih lanjut. Hal ini dikarenakan lokasi kejadian pembunuhan berada di wilayah hukum Polres Muara Enim.
Pengakuan Pelaku: Rasa Tidak Tenang
Andi mengaku bahwa ia merasa sangat tidak tenang setelah melakukan pembunuhan. Rasa bersalah dan takut menghantuinya, sehingga ia akhirnya memberanikan diri untuk menyerahkan diri kepada pihak berwajib. Ia menyatakan bahwa ia sadar akan risiko yang harus ditanggungnya dan siap bertanggung jawab atas perbuatannya.
Bantahan Keluarga Korban Terkait Tuduhan Pelecehan
Pihak keluarga korban membantah keras tuduhan bahwa korban sering mengganggu pelaku. Indy, anak korban, mengungkapkan isi percakapan terakhir via WhatsApp antara dirinya dengan sang ibu. Ibunya mengatakan bahwa ia akan menemani pelaku untuk mengantarnya ke travel di Musi 6 menuju Prabumulih, untuk menemui anak dan istri pelaku. Keluarga korban telah melakukan pencarian sejak korban menghilang dan melaporkannya ke Polrestabes Palembang.
Indy juga menegaskan bahwa tidak ada hubungan spesial antara ibunya dan pelaku selain sebatas rekan kerja. Ibunya baru bekerja di SPPG dan sebelumnya memiliki usaha penjualan tabung gas dan penitipan sepeda motor di rumah. Indy juga mengungkapkan bahwa sepeda motor ibunya yang digunakan untuk mengantar pelaku hilang, termasuk BPKB-nya.
Jenazah korban tiba di rumah duka di Palembang setelah sebelumnya berada di RSUD Prabumulih. Jenazah telah dimakamkan di TPU Telaga Swidak. Keluarga korban berharap agar kasus ini diselesaikan dengan tuntas dan pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal. Mereka menduga bahwa pelaku telah merencanakan pembunuhan tersebut dan pantas dihukum berat. Indy juga berharap pihak kepolisian dapat mengusut tuntas kasus ini dan memberikan keadilan bagi keluarganya.



















