Meta Perkuat Lini Agen AI Otonom dengan Akuisisi Manus AI
Perusahaan teknologi raksasa Meta Platforms secara resmi mengumumkan akuisisi terhadap Manus AI, sebuah startup kecerdasan buatan (AI) yang kini berbasis di Singapura. Langkah strategis ini bertujuan untuk mempercepat pengembangan teknologi agen AI otonom, sebuah area yang semakin krusial dalam lanskap teknologi masa depan. Meskipun diakuisisi, layanan yang ditawarkan oleh Manus AI akan tetap beroperasi secara mandiri dan pada saat yang sama akan diintegrasikan ke dalam berbagai produk Meta yang sudah ada, termasuk platform Meta AI.
Manus AI dikenal sebagai pengembang agen AI otonom serbaguna yang berasal dari Tiongkok, sebelumnya berada di bawah naungan Beijing Butterfly Effect Technology Ltd Co. Agen AI yang dikembangkan oleh Manus AI memiliki kemampuan luar biasa untuk menjalankan tugas-tugas kompleks secara mandiri, tanpa memerlukan intervensi manusia. Kemampuan ini mencakup berbagai fungsi, mulai dari melakukan riset pasar yang mendalam, menulis kode program, hingga melakukan analisis data yang rumit.
Kinerja agen AI buatan Manus AI diklaim melampaui kemampuan agen AI yang dikembangkan oleh kompetitor ternama, termasuk DeepResearch dan bahkan agen AI yang dimiliki oleh OpenAI. Hal ini menunjukkan kematangan dan efektivitas teknologi yang telah dikembangkan oleh startup tersebut.
Pertumbuhan Eksponensial dan Skala Penggunaan Manus AI
Sejak peluncuran agen AI pertamanya, Manus AI telah berhasil melayani jutaan pengguna dan pelaku bisnis di seluruh dunia. Data yang dirilis menunjukkan bahwa perusahaan ini telah memproses lebih dari 147 triliun token, sebuah angka yang mengindikasikan volume pemrosesan data yang sangat besar. Selain itu, Manus AI juga telah menciptakan lebih dari 80 juta komputer virtual, menegaskan posisinya bukan hanya sebagai demonstrasi teknologi, tetapi sebagai agen AI yang benar-benar digunakan secara luas oleh individu maupun bisnis.
Pertumbuhan bisnis Manus AI dilaporkan sangat pesat. Dalam kurun waktu delapan bulan setelah peluncuran, startup ini berhasil mencapai pendapatan berulang tahunan (Annual Recurring Revenue/ARR) sebesar 100 juta Dolar AS, yang setara dengan sekitar Rp 1,67 triliun. Capaian ini menempatkan Manus AI sebagai salah satu startup AI dengan pertumbuhan tercepat di dunia yang mampu menembus angka ARR sebesar 100 juta Dolar AS.
Secara total, pendapatan Manus AI kini dilaporkan telah melampaui 125 juta Dolar AS. Angka ini mencakup berbagai sumber pendapatan, termasuk pendapatan berbasis langganan, pendapatan berdasarkan penggunaan (usage-based), serta sumber pendapatan lain yang berasal dari layanan agen AI yang ditawarkan kepada pengguna individu maupun bisnis. Meskipun nilai pasti dari kesepakatan akuisisi oleh Meta tidak diungkapkan, pertumbuhan yang luar biasa ini menjadi indikator kuat nilai strategis Manus AI bagi Meta.
Ambisi Meta: Mengejar Ketertinggalan dan Membangun Masa Depan AI
Akuisisi Manus AI ini merupakan bagian dari langkah agresif Meta dalam upaya mengejar ketertinggalan dalam persaingan global di bidang kecerdasan buatan. Sepanjang tahun 2025, Meta telah melakukan restrukturisasi besar-besaran dalam lini bisnis AI mereka.
Salah satu langkah signifikan lainnya adalah akuisisi Scale AI pada pertengahan Juni. Berbeda dengan perusahaan AI besar lainnya yang cenderung fokus pada pengembangan model AI, Scale AI memiliki keunggulan dalam penyediaan data berkualitas tinggi yang menjadi bahan bakar utama bagi pengembangan AI.
Scale AI telah menjadi mitra terpercaya bagi banyak perusahaan teknologi besar dunia karena keunggulannya dalam pelabelan data berskala besar, yang mencakup teks, gambar, video, lidar, dan sensor 3D. Selain itu, Scale AI juga unggul dalam evaluasi dan validasi model AI melalui sistem evaluasi SEAL (Safety, Evaluation, and Alignment Lab). Dalam kesepakatan akuisisi Scale AI, Mark Zuckerberg bahkan dikabarkan merekrut CEO Scale AI, Alexandr Wang, untuk bergabung dalam tim peneliti Meta.
Pembentukan Meta Superintelligence Labs dan Proyek AGI
Tidak lama setelah akuisisi Scale AI, pada awal Juli, Mark Zuckerberg mengumumkan pembentukan Meta Superintelligence Labs (MSL). Laboratorium ini secara khusus didedikasikan untuk pengembangan model AI canggih, atau yang dikenal sebagai Artificial General Intelligence (AGI). AGI adalah jenis kecerdasan buatan yang ditargetkan mampu menyamai, bahkan melampaui, kemampuan kognitif manusia.
MSL menjadi rumah bagi berbagai tim di bawah naungan Meta yang berfokus pada pengembangan perangkat lunak model AI, termasuk proyek-proyek seperti Llama, serta riset fundamental dalam bidang kecerdasan buatan melalui Fundamental Artificial Intelligence Research (FAIR).
Kepemimpinan MSL dipercayakan kepada para profesional berpengalaman, termasuk Alexandr Wang yang menjabat sebagai Chief AI Officer, serta mantan CEO GitHub, Nat Friedman. Alexandr Wang akan memimpin upaya pengembangan AI secara keseluruhan, sementara Nat Friedman akan fokus pada produk AI dan penelitian terapan.
Meta sendiri telah menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan AI selama lebih dari satu dekade. Laboratorium AI khusus pertama perusahaan didirikan pada tahun 2013, tak lama setelah Meta gagal mengakuisisi DeepMind, startup yang kini menjadi inti dari teknologi AI Google.
Sebagai wujud keseriusan Meta dalam mengembangkan infrastruktur AI, perusahaan ini telah menyiapkan anggaran hingga 65 miliar Dolar AS, atau sekitar Rp 1.050 triliun, untuk tahun 2025. Mark Zuckerberg sendiri menekankan bahwa tahun 2025 merupakan tahun yang krusial dalam pengembangan AI, menegaskan ambisi besar Meta untuk menjadi pemimpin dalam revolusi kecerdasan buatan.




















