Banjir Bandang di Gresik Selatan: 9 Desa Terendam, Ribuan Warga Terdampak
Luapan Kali Lamong kembali menerjang wilayah Gresik Selatan, Jawa Timur, menyebabkan sembilan desa terendam banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar 30 sentimeter. Kondisi ini memaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik untuk menetapkan status siaga, mengingat potensi kiriman air susulan dari wilayah hulu, yakni Lamongan dan Mojokerto.
Kepala BPBD Gresik, Bapak Sukardi, menjelaskan bahwa dampak luapan Kali Lamong merata di dua kecamatan. Lima desa di Kecamatan Benjeng dan empat desa di Kecamatan Cerme menjadi wilayah yang paling parah terdampak. “Sekitar 410 rumah warga terendam, dengan ketinggian air yang bervariasi antara 20 hingga 30 sentimeter,” ungkap Bapak Sukardi.
Tidak hanya permukiman warga, sektor pertanian dan perikanan setempat juga mengalami kerugian signifikan. Luapan air telah menggenangi area persawahan seluas 240 hektare dan lahan tambak seluas 71 hektare. Berdasarkan pantauan BPBD, peningkatan volume air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Lamong telah terjadi sejak akhir pekan lalu, menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Meskipun demikian, ada sedikit kabar baik dari Kecamatan Benjeng, di mana kondisi banjir dilaporkan mulai menunjukkan tren penurunan. Namun, perhatian utama kini beralih ke Kecamatan Cerme, yang mengalami peningkatan luapan sungai paling signifikan. Salah satu desa yang dilaporkan paling parah terdampak adalah Desa Morowudi.
“Luapan sungai cenderung meningkat di Kecamatan Cerme. Salah satu yang paling parah di Desa Morowudi,” papar Bapak Sukardi, menggambarkan situasi terkini.
Tindakan dan Kesiapsiagaan BPBD Gresik
Meskipun banjir kali ini tidak menimbulkan korban jiwa, pihak BPBD Gresik tidak tinggal diam. Berbagai langkah antisipatif dan penanganan darurat telah disiagakan untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
- Pendirian Posko Darurat: BPBD Gresik telah mendirikan posko darurat di lokasi-lokasi strategis untuk memantau perkembangan situasi dan menjadi pusat koordinasi bantuan.
- Penyediaan Perahu Karet: Untuk memudahkan evakuasi dan distribusi bantuan di area yang tergenang, sejumlah perahu karet telah disiagakan.
- Penetapan Status Siaga: Keputusan untuk menetapkan status siaga merupakan langkah penting untuk memastikan semua elemen terkait siap siaga dan responsif terhadap potensi peningkatan ketinggian air.
Bapak Sukardi menekankan pentingnya kewaspadaan dari seluruh masyarakat yang berada di wilayah terdampak. “Kami menetapkan status siaga. Masyarakat diharapkan terus waspada terhadap perkembangan situasi dan mengikuti informasi resmi dari BPBD,” ujarnya.
Faktor Penyebab dan Dampak Jangka Panjang
Luapan Kali Lamong yang berulang kali terjadi ini mengindikasikan adanya masalah struktural yang perlu ditangani secara serius. Beberapa faktor yang mungkin berkontribusi meliputi:
- Curah Hujan Tinggi: Peningkatan intensitas curah hujan di wilayah hulu menjadi penyebab utama peningkatan debit air sungai.
- Sistem Drainase yang Kurang Optimal: Kondisi sistem drainase di sepanjang Kali Lamong, baik alami maupun buatan, mungkin tidak lagi mampu menampung volume air yang besar, terutama saat musim hujan tiba.
- Perubahan Tata Guna Lahan: Perubahan tata guna lahan di daerah tangkapan air, seperti alih fungsi hutan menjadi pemukiman atau perkebunan, dapat mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan dan meningkatkan aliran permukaan.
- Sedimentasi Sungai: Akumulasi sedimen di dasar sungai dapat mengurangi kapasitas penampungan air dan mempersempit alur sungai, sehingga lebih mudah meluap.
Dampak banjir tidak hanya terasa dalam jangka pendek, seperti kerusakan rumah dan hilangnya mata pencaharian warga, tetapi juga dapat menimbulkan dampak jangka panjang. Kerugian ekonomi akibat rusaknya infrastruktur, lahan pertanian, dan tambak dapat memengaruhi stabilitas ekonomi masyarakat. Selain itu, banjir yang berulang dapat menyebabkan trauma psikologis pada korban dan mengganggu aktivitas sosial serta pendidikan.
Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait perlu terus berupaya mencari solusi berkelanjutan untuk mengatasi masalah banjir Kali Lamong. Upaya reboisasi di daerah hulu, normalisasi dan pengerukan sungai secara berkala, serta peningkatan sistem drainase di perkotaan dan pedesaan menjadi beberapa langkah penting yang perlu dipertimbangkan. Kerjasama lintas sektoral dan partisipasi aktif masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk menciptakan solusi yang efektif dan lestari demi mengurangi risiko bencana banjir di masa mendatang.


















