Kisah “Broken Strings” Aurelie Moeremans: Viral, Gratis, dan Penebusan
Buku berjudul “Broken Strings” yang ditulis oleh Aurelie Moeremans belakangan ini menjadi topik hangat di berbagai platform media sosial. Karya ini tidak hanya menarik perhatian karena kisahnya yang personal, tetapi juga karena keputusan Aurelie untuk membagikannya secara gratis, tanpa niat untuk meraup keuntungan materiil. Keputusan ini memicu rasa penasaran publik, terutama mengenai motivasi di balik langkah tersebut dan sosok misterius “Bobby” yang menjadi sorotan.
Sejak awal peluncurannya, Aurelie Moeremans memiliki tujuan mulia di balik penulisan “Broken Strings”. Ia mengungkapkan bahwa harapan terbesarnya adalah agar kisahnya dapat menjadi penolong bagi para korban child grooming lainnya yang mungkin tengah berjuang dalam situasi serupa. Oleh karena itu, niat untuk memperjualbelikan buku tersebut sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya. Aurelie secara tegas menyatakan bahwa ia memilih untuk membagikan karyanya secara cuma-cuma agar dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkan.
Upaya Aurelie untuk menyebarkan pesan penebusan ini tampaknya membuahkan hasil yang luar biasa. Hingga kini, buku tersebut terus dibaca oleh banyak orang. Fenomena ini bahkan menyebabkan lonjakan trafik yang signifikan pada laman buku tersebut, hingga sebagian pengguna mengalami kesulitan mengaksesnya karena banyaknya permintaan. Data menunjukkan bahwa hingga Minggu pagi, tanggal 11 Januari 2025, tautan untuk mengakses buku tersebut telah dibuka hampir dua juta kali. Angka ini merupakan peningkatan drastis dibandingkan dengan pantauan sebelumnya yang hanya mencapai sekitar 300 ribu klik, seperti yang diungkapkan oleh suami Aurelie, Tyler Bigenho. Diprediksi, jumlah ini akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Pada pukul 11.00 WIB, laman buku tersebut dilaporkan masih sulit diakses, mengindikasikan betapa besarnya minat publik.
Misteri “Bobby” dan Spekulasi Publik
Di tengah gelombang viralnya “Broken Strings”, sebuah elemen naratif dalam buku tersebut menarik perhatian khusus: sosok “Bobby”. Banyak pembaca yang merasa penasaran dan mencoba mengidentifikasi siapa sosok Bobby yang dimaksud dalam cerita Aurelie. Spekulasi publik dengan cepat mengarah pada satu nama: Roby Tremonty.
Dugaan ini semakin menguat ketika Roby Tremonty terlihat aktif memberikan klarifikasi di akun media sosialnya. Namun, menariknya, Aurelie sendiri tidak pernah menyebutkan nama Roby secara eksplisit dalam bukunya. Ketidakhadiran nama asli tersebut justru membuat publik semakin yakin bahwa sosok Bobby yang digambarkan dalam “Broken Strings” merujuk pada Roby Tremonty. Fenomena ini menunjukkan bagaimana narasi personal dapat memicu diskusi publik dan interpretasi yang luas.
Motivasi di Balik Kedermawanan Aurelie
Menanggapi banyaknya pertanyaan dari para penggemar mengenai keputusannya untuk tidak menjual buku “Broken Strings”, Aurelie Moeremans memberikan penjelasan yang menyentuh. Melalui unggahan di akun Instagramnya, ketika seorang netizen dengan akun @claudiamegaa bertanya, “Kaa, pertanyaanku mungkin aneh, tapi aku sangattt penasaran, knpa kamu gratis kan kak?,” Aurelie menjawab dengan penuh ketulusan.
Ia menjelaskan bahwa niat awalnya adalah untuk memberikan pertolongan bagi wanita lain yang mungkin mengalami pengalaman serupa dengan dirinya. “Niat awalnya adalah, kalau aku bisa menyelamatkan satu aja ‘Aurélie kecil’ lain di luar sana, semua yang terjadi sama aku gak sia-sia,” ungkapnya. Aurelie menambahkan, “Aku release ini karena memang hanya ingin membantu perempuan-perempuan agar gak usah mengalami apa yang aku alami.” Pernyataan ini menegaskan komitmennya untuk menggunakan pengalamannya sebagai sarana advokasi dan dukungan bagi korban.
Peran Suami dalam Perjalanan Aurelie
Dalam proses kreatif dan peluncuran buku “Broken Strings”, dukungan dari sang suami, Tyler Bigenho, memegang peranan penting. Aurelie Moeremans menegaskan bahwa Tyler adalah sosok yang mendorongnya untuk membuat buku tersebut. Sejak awal, Tyler Bigenho telah meyakini bahwa cerita Aurelie memiliki potensi untuk memberikan dampak positif yang besar bagi wanita lain.
Aurelie menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pembaca yang telah memberikan tanggapan positif setelah membaca bukunya. “Banyak yang bilang terima kasih karena aku nulis buku ini, tapi sebenernya aku juga harus bilang makasih ke suamiku, @drtylerbigenho,” tulis Aurelie dalam sebuah unggahan di Instagram. Ia melanjutkan, “Dia yang dari awal percaya ceritaku bisa jadi sesuatu yang baik dan berarti buat banyak gadis muda lainnya.”
Aurelie juga mengenang sebuah momen berharga saat pidato pernikahan mereka. Tyler Bigenho menceritakan sebuah momen yang tak terlupakan, yang menjadi salah satu alasan keyakinannya pada Aurelie dan perjalanan hidupnya. Momen ini, menurut Aurelie, menjadi salah satu pilar yang menguatkan dirinya untuk berbagi cerita melalui “Broken Strings”. Unggahan tersebut disertai dengan video momen pernikahan mereka, menambah kedalaman emosional pada ceritanya.
Keputusan Aurelie Moeremans untuk membagikan “Broken Strings” secara gratis tidak hanya mencerminkan kedermawanan, tetapi juga keberanian untuk menggunakan pengalaman pribadi demi kebaikan orang lain. Buku ini menjadi bukti nyata bahwa cerita dapat menjadi alat yang kuat untuk penyembuhan, dukungan, dan perubahan sosial, melampaui sekadar hiburan atau keuntungan materiil.

















