Heboh Penangkapan Babi Diduga “Babi Ngepet” di Tulungagung, Pemilik Tak Percaya dan Langsung Menjualnya
Sebuah peristiwa tak lazim terjadi di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, pada Jumat, 16 Januari 2026, yang sontak menghebohkan warga setempat. Penangkapan seekor babi kecil berwarna hitam di kawasan perbatasan Desa Pakel dengan Kabupaten Blitar memicu spekulasi liar di kalangan masyarakat. Banyak yang meyakini bahwa hewan tersebut adalah jelmaan “babi ngepet” atau babi pesugihan yang kerap dikaitkan dengan praktik mistis untuk mendapatkan kekayaan secara instan.
Namun, di tengah ramainya isu yang beredar, Hariyanto (43), warga yang berhasil menangkap babi tersebut, memiliki pandangan yang berbeda. Ia mengaku tidak mempercayai sama sekali tentang keberadaan babi ngepet. Keyakinannya yang teguh pada logika membuatnya memutuskan untuk segera menjual babi kecil yang sempat menghebohkan tersebut.
“Sudah dibeli teman saya dari Blitar seharga Rp400.000. Sekarang sudah dibawa,” ujar Hariyanto pada Sabtu, 17 Januari 2026, sehari setelah penangkapan dilakukan. Keputusan Hariyanto untuk menjual babi itu didasari oleh ketidakpercayaannya pada isu babi ngepet yang semakin santer diperbincangkan oleh warga.
Kronologi Penangkapan yang Mengundang Spekulasi
Hariyanto menceritakan bahwa babi kecil berwarna hitam itu pertama kali terlihat di kawasan gapura, tepat di perbatasan Desa Pakel dan Kabupaten Blitar, pada Jumat pagi. Sekitar pukul 05.00 WIB, babi betina yang masih berukuran kecil itu sempat berhasil ditangkap oleh warga, namun sayang, hewan tersebut berhasil melarikan diri.
“Sudah ditangkap, tapi kemudian berhasil melepaskan diri dari jeratnya dan kabur lagi. Saya kemudian mengejarnya,” tuturnya. Tanpa menyerah, Hariyanto lantas mengambil inisiatif untuk mengejar babi tersebut menggunakan kurungan ayam jago. Aksi kejar-kejaran itu berlanjut hingga ke kawasan belakang rumahnya. Dengan sigap, Hariyanto berhasil menyergap babi kecil itu dengan kurungan ayam yang dibawanya. Hewan tersebut kemudian berhasil diringkus dan dibawa pulang oleh Hariyanto.
Ramai Pengunjung dan Munculnya Isu Mistis
Tak lama setelah babi itu berhasil diamankan, kabar penangkapannya menyebar dengan cepat. Rasa penasaran warga membuat banyak orang berdatangan ke rumah Hariyanto untuk melihat babi yang berhasil ditangkap. Keramaian inilah yang kemudian menjadi pemicu munculnya berbagai spekulasi, termasuk dugaan bahwa babi tersebut adalah “babi ngepet” atau terkait dengan pesugihan.
Foto dan video penangkapan babi tersebut tak pelak langsung menyebar luas di media sosial, semakin memperkuat isu mistis yang beredar. Hariyanto mengaku sempat mendapat berbagai saran dari warga, mulai dari mengecat kepala babi dengan warna putih hingga mengiris telinganya, dengan tujuan agar “orang yang ngepet” kapok.
“Semua tidak saya lakukan, karena saya yakin ini benar-benar babi, bukan babi jadi-jadian,” tegas Hariyanto. Ia juga menambahkan bahwa temannya turut meyakinkan bahwa hewan tersebut adalah babi biasa, bukan babi hutan.
Asal-usul Babi yang Masih Misteri
Menariknya, di wilayah Desa Pakel, Kecamatan Ngantru, tempat Hariyanto tinggal, tidak ada peternakan babi. Namun, di seberang Sungai Brantas yang masuk wilayah Kecamatan Ngunut, terdapat banyak peternakan babi. Hal ini membuat asal-usul babi yang ditangkap menjadi sebuah misteri.
Hariyanto sendiri tidak mengetahui secara pasti dari mana babi tersebut berasal. Meskipun demikian, ada beberapa warga yang melaporkan pernah melihat babi tersebut di tepi Sungai Brantas sekitar empat hari sebelum penangkapan. Hewan itu juga sempat terlihat di permukiman warga sebelum akhirnya diusir.
“Saya kasih makan ketela dan ampas tahu, dimakan dengan lahap. Beratnya mungkin sekitar 10 kg,” ungkap Hariyanto mengenai kondisi babi yang ditangkapnya. Ia tidak bisa memastikan apakah babi tersebut dipelihara oleh seseorang atau memang liar. Uang hasil penjualan babi tersebut pun telah digunakan oleh Hariyanto untuk membeli rokok dan dibagikan kepada teman-temannya yang turut membantunya saat penangkapan.
Kasus Serupa: Warga Jember Pasang Spanduk “Daerah Rawan Tuyul” Akibat Kerugian Berulang
Fenomena kepercayaan terhadap makhluk gaib yang dikaitkan dengan kerugian materi ternyata tidak hanya terjadi di Tulungagung. Sebelumnya, sebuah kasus lain yang tak kalah menghebohkan terjadi di Desa Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Warga di desa tersebut memilih untuk memasang spanduk di jalanan yang bertuliskan peringatan mengenai “daerah rawan tuyul”.
Pemasangan spanduk ini merupakan respons atas kekesalan warga yang berulang kali mengalami kehilangan uang. Mereka meyakini bahwa hilangnya uang tersebut disebabkan oleh ulah tuyul, makhluk gaib yang konon gemar mencuri harta benda. Spanduk yang dipasang warga ini sontak menjadi viral di media sosial dan menarik perhatian berbagai pihak, termasuk pihak kecamatan.
Camat Sukorambi, Asrah Joyo Widono, mengaku terkejut dengan adanya spanduk tersebut. Ia menyatakan bahwa baru pertama kali melihat pemasangan spanduk semacam itu di wilayahnya. “Saya saja baru tahu tadi pagi, adanya bener di kawasan Desa Dukuh Mencek yang menginformasikan kawasan adanya tuyul,” tanggapnya pada Rabu, 30 Oktober 2024.
Kesulitan Membuktikan dan Imbauan Camat
Asrah menambahkan bahwa kebenaran mengenai isu tuyul sangat sulit untuk dibuktikan secara kasat mata. Sebab, tuyul termasuk dalam kategori makhluk gaib yang tidak dapat dilihat oleh panca indra manusia.
“Kebenarannya sulit dibuktikan, harapan saya hal semacam ini tidak perlu dilakukan oleh masyarakat karena memicu permusuhan,” ujar Asrah. Ia khawatir pemasangan spanduk semacam itu dapat menimbulkan kecurigaan antarwarga, padahal pelaku sebenarnya hingga saat ini tidak diketahui.
Pihak kecamatan juga telah melakukan konfirmasi kepada Pemerintah Desa Dukuh Mencek terkait isu tuyul tersebut. Namun, hasilnya tetap sama, yaitu tidak ada bukti konkret yang dapat mendukung keberadaan tuyul.
Meskipun demikian, Asrah mengimbau agar seluruh warga dapat lebih berhati-hati dalam menjaga harta benda mereka. Ia menyarankan agar uang yang khawatir hilang sebaiknya disimpan di bank untuk keamanan. “Agar aman uangnya. Kalau hilang sebabnya macam-macam mungkin bisa saja karena itu (dicuri tuyul) atau karena lupa dan semacamnya,” jelasnya. “Yang penting warga harus bisa menjaga uangnya agar tidak hilang begitu saja.”



















