Di Surabaya, video game kini menjadi jembatan komunikasi yang inovatif antara guru dan siswa, berkat program Teacher Ambassador yang diinisiasi oleh Moonton Games. Program ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa ekosistem game dapat menjadi instrumen pendidikan karakter yang efektif bagi siswa.
Guru-guru yang terlibat dalam program ini dibekali dengan pemahaman mendalam untuk menanamkan nilai-nilai luhur yang dikenal dengan akronim “Pray, Respect, Peace Out” (DTS). Pilar-pilar ini mengajarkan siswa untuk selalu berdoa sebelum memulai permainan, saling menghormati satu sama lain, dan menjauhi segala bentuk perilaku toksik yang dapat merusak suasana bermain.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya, Febrina Kusumawati, menekankan pentingnya peran guru dalam memantau perilaku siswa dan mengarahkan mereka untuk menggunakan perangkat digital secara sehat dan bertanggung jawab.
Mobile Legends: Bang Bang Sebagai Instrumen Pendidikan Karakter
Kehadiran delegasi pemenang MLBB Goes to School dan Teacher Ambassador (TA) dari Surabaya menjadi bukti nyata bahwa ekosistem game Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) memiliki potensi besar sebagai instrumen pendidikan karakter bagi para siswa. Program ini secara efektif menepis anggapan bahwa game seluler hanya membawa dampak negatif bagi perkembangan anak.
“Fokus utama kami bukanlah untuk mencetak pemain profesional dari kalangan anak-anak, melainkan untuk memberikan mereka kebebasan dalam memilih dan menanamkan nilai-nilai luhur yang akan bermanfaat bagi kehidupan mereka,” ujar Kepala Bidang Pengembangan Ekosistem Game Moonton Games, Erina Tan. “Melalui game, anak-anak belajar untuk menerima kekalahan dengan lapang dada, memahami pentingnya kerja sama tim, dan merayakan kemenangan tanpa kesombongan. Keterampilan-keterampilan ini sangat penting sebagai soft skill yang akan membantu mereka menghadapi tantangan di dunia nyata.”
Menanamkan Nilai-Nilai Positif yang Relevan
Erina menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menanamkan nilai-nilai positif yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, nilai-nilai yang seringkali sulit ditemukan dalam buku teks. Untuk memastikan bahwa nilai-nilai tersebut tersampaikan secara efektif, peran guru menjadi sangat penting sebagai penghubung antara dunia game dan dunia pendidikan.
Menurut Erina, game kini berfungsi sebagai “bahasa yang sama” antara pendidik dan siswa. Melalui program Teacher Ambassador, para guru dibekali dengan pemahaman yang mendalam tentang game dan bagaimana memanfaatkannya untuk menyampaikan pesan-pesan positif.
“Respons dari para tenaga pendidik di Surabaya sangat positif,” sebut Erina, menunjukkan antusiasme dan dukungan yang besar terhadap program ini.
Menciptakan Lingkungan Bermain yang Aman dan Edukatif
Program ini awalnya melibatkan sekitar 50 guru. Namun, seiring berjalannya waktu, komunitas Teacher Ambassador berkembang pesat menjadi 328 guru yang aktif membimbing siswa untuk menciptakan lingkungan bermain yang aman, sehat, dan edukatif.
Kesuksesan Surabaya sebagai proyek percontohan program ini tidak lepas dari visi Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya yang realistis terhadap perkembangan teknologi. Dispendik menyadari bahwa melarang penggunaan perangkat digital di era modern adalah hal yang tidak mungkin. Kunci utama terletak pada pendampingan yang tepat.
“Jika kita tidak bisa lepas dari handphone, maka anak-anak tidak bisa sekadar dilarang, tetapi harus didampingi. Jika tidak ada pendampingan, hasilnya tidak akan baik,” tegas Febrina.
Melalui program Teacher Ambassador, guru dibekali dengan kemampuan untuk memasuki dunia anak-anak dan memahami minat mereka. Game MLBB menjadi pintu masuk bagi guru untuk memantau perilaku siswa, mengarahkan penggunaan perangkat digital secara sehat, dan menyeimbangkan waktu antara bermain game dan belajar.
Dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Dukungan serupa juga datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Jawa Timur, Hadi Wawan, mengapresiasi inovasi program yang mampu menyeimbangkan kewajiban akademis dan hobi siswa.
Hadi juga menyoroti bahwa kehadiran para siswa dan guru di ajang M7 World Championship memberikan pengalaman visual yang berharga. Hal ini memungkinkan mereka untuk melihat secara langsung bagaimana game dapat menjadi platform untuk pengembangan diri dan prestasi.
“Temanya sangat tepat: ‘Belajar dulu, baru mabar’. Artinya, di usia yang masih harus belajar, anak-anak tetap memprioritaskan pendidikan, namun diberi ruang untuk beraktivitas tim melalui game,” ungkap Hadi, menekankan pentingnya keseimbangan antara pendidikan dan hobi.
Program Teacher Ambassador di Surabaya adalah contoh inovatif bagaimana game dapat dimanfaatkan sebagai alat pendidikan yang efektif. Dengan pendampingan yang tepat dari guru, siswa dapat belajar nilai-nilai positif, mengembangkan keterampilan sosial, dan menggunakan perangkat digital secara bertanggung jawab. Program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengembangkan inisiatif serupa dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih menarik dan relevan bagi generasi muda.


















