Babak 16 besar Liga 4 Piala Gubernur Jawa Timur diwarnai berbagai permasalahan yang mencoreng sportivitas sepak bola. Kekisruhan ini mencakup beragam aspek, mulai dari kualitas kepemimpinan wasit yang dinilai kurang tegas, tindakan kasar dan brutal dari para pemain di lapangan, hingga kesiapan tuan rumah penyelenggara yang dianggap belum optimal.
Komite Disiplin (Komdis) PSSI Provinsi Jawa Timur harus bekerja ekstra keras selama perhelatan babak 16 besar. Hingga hari Sabtu (24/1), tercatat sebanyak 23 putusan atau sanksi telah dijatuhkan kepada berbagai pihak yang terlibat, baik itu pemain maupun tim yang berlaga. Sanksi ini merupakan respons terhadap berbagai pelanggaran yang terjadi selama pertandingan.
Okbah, Manajer PSMP Mojokerto Putra, mengungkapkan kekecewaannya terhadap penyelenggaraan babak 16 besar. Menurutnya, sebagai peserta, ia melihat dengan jelas berbagai praktik tidak sehat yang menciderai fair play dalam sepak bola. “Penyelenggaraan babak 16 besar kali ini adalah yang terburuk yang pernah saya saksikan di Jawa Timur,” ujarnya dengan nada prihatin.
Lebih lanjut, Okbah menyoroti dugaan keberpihakan perangkat pertandingan kepada tim-tim tertentu yang diduga memiliki kepentingan khusus. Menurutnya, hal ini sangat jelas terlihat selama fase penentuan wakil Jawa Timur ke Liga 4 Nasional. “Ini sangat memalukan dan mencoreng citra sepak bola Jawa Timur. Kecurangan yang terjadi bersifat struktural,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa praktik-praktik semacam ini sangat merugikan tim-tim yang bermain jujur dan menjunjung tinggi sportivitas.
Kekecewaan serupa juga diungkapkan oleh Yahdar Umar, perwakilan manajemen Persida. Ia bahkan menuding PSSI Provinsi Jawa Timur selaku operator pertandingan seolah-olah menutup mata terhadap berbagai kecurangan yang terjadi selama babak 16 besar. Yahdar Umar mengaku telah melayangkan surat protes dan meminta agar dilakukan investigasi menyeluruh terhadap pertandingan-pertandingan yang dianggap bermasalah.
“Saya sudah mengirimkan surat protes dan meminta agar ada investigasi terhadap pertandingan-pertandingan babak 16 besar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kecurangan struktural sangat jelas terlihat, dengan adanya indikasi bahwa perangkat pertandingan secara sengaja membela tim-tim tertentu agar dapat lolos ke fase berikutnya. “Protes saya sampai saat ini belum mendapatkan jawaban. Ini sudah keterlaluan,” paparnya. Persida sendiri, sayangnya, harus menerima kenyataan gagal melaju ke babak delapan besar.
Menanggapi berbagai keluhan dan permasalahan yang muncul, Ketua Komdis PSSI Provinsi Jawa Timur, Samiaji Makin Rahmat, berharap agar banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik dari pelaksanaan babak 16 besar. Ia menekankan pentingnya persiapan yang lebih matang, terutama dalam hal penunjukan wasit dan penyiapan panitia pelaksana pertandingan, untuk menghadapi babak delapan besar yang akan datang.
“Dan delapan tim yang lolos juga harus ikut menegakkan aturan yang berlaku,” tegasnya. Samiaji berharap agar semua pihak yang terlibat dapat bekerja sama untuk menciptakan pertandingan yang adil, sportif, dan berkualitas di babak selanjutnya.
Untuk menghindari terulangnya kejadian serupa di babak-babak selanjutnya, beberapa langkah penting perlu diambil:
Evaluasi Kinerja Wasit: PSSI perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja wasit yang bertugas di babak 16 besar. Wasit yang terbukti melakukan pelanggaran atau menunjukkan keberpihakan harus diberikan sanksi tegas. Selain itu, perlu dilakukan pelatihan dan pembinaan yang lebih intensif kepada para wasit untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan mereka di lapangan.
Pengawasan yang Ketat: PSSI perlu meningkatkan pengawasan terhadap jalannya pertandingan, terutama pada babak-babak krusial seperti delapan besar dan seterusnya. Pengawas pertandingan harus lebih jeli dalam mengamati setiap potensi pelanggaran dan segera mengambil tindakan jika diperlukan.
Transparansi: PSSI perlu lebih transparan dalam proses pengambilan keputusan, terutama terkait dengan penunjukan wasit dan penanganan laporan pelanggaran. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap integritas PSSI dan kompetisi Liga 4.
Penegakan Disiplin: Komdis PSSI harus bertindak tegas terhadap setiap pelanggaran yang terjadi, baik itu pelanggaran yang dilakukan oleh pemain, pelatih, maupun ofisial tim. Sanksi yang diberikan harus proporsional dan memberikan efek jera bagi pelaku pelanggaran.
Keterlibatan Publik: PSSI perlu melibatkan publik dalam pengawasan jalannya kompetisi. Masyarakat dapat melaporkan setiap dugaan pelanggaran yang mereka saksikan kepada PSSI. Hal ini akan membantu PSSI dalam mendeteksi dan menindaklanjuti setiap potensi kecurangan yang terjadi.
Dengan mengambil langkah-langkah konkret tersebut, diharapkan penyelenggaraan Liga 4 Piala Gubernur Jawa Timur dapat menjadi lebih baik dan berkualitas di masa depan. Sepak bola Jawa Timur harus bersih dari praktik-praktik kotor yang mencoreng sportivitas dan merugikan tim-tim yang bermain jujur.




















