Jarum jam menunjukkan pukul 02.30 WIB. Di tengah keheningan Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, kegelapan terasa lebih pekat dari biasanya. Listrik padam, menyisakan keheningan yang mencekam. Bagi Defrian, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, malam itu bukanlah tentang tidur nyenyak, tetapi tentang bertahan hidup.
Sabtu, 24 Januari 2026, alam seolah memberikan peringatan. Defrian masih ingat dengan jelas bagaimana kedua orang tuanya terjaga dalam kecemasan. Getaran halus terus terasa dari balik lantai rumah mereka, pertanda bahwa bukit di dekat permukiman sedang tidak baik-baik saja.
“Ibu dan bapak tidak tidur. Mereka khawatir, karena getarannya terasa terus menerus,” kenang Defrian saat ditemui di posko pengungsian kantor Desa Pasirlangu, Minggu, 25 Januari 2026.
Ketakutan itu menjadi kenyataan ketika suara gemuruh besar memecah keheningan malam, diikuti jeritan tangis yang bersahutan di luar rumah. Dalam kegelapan total, dengan baterai ponsel orang tuanya yang hampir habis, kabar duka menyebar dengan cepat.
“Ibu bilang, yang di bagian kulon sudah rata,” ucapnya lirih.
Di balik kepolosan wajahnya, tersimpan trauma malam yang gelap, dingin, dan suara orang-orang yang kehilangan segalanya.
Rumah Defrian hanya berjarak sekitar 50 meter dari titik longsor. Jarak yang sangat tipis antara keselamatan dan maut. Meskipun rumahnya masih berdiri tegak, bayang-bayang longsor susulan membuat keluarganya tidak berani untuk kembali pulang.
Kini, Defrian menjadi salah satu dari sekian banyak anak yang harus menukar kenyamanan kamarnya dengan pengapnya aula kantor desa. Di sana, suasana jauh dari kata ideal. Tangisan bayi pecah bergantian, bersaing dengan udara panas yang terperangkap di ruangan sempit yang dipenuhi ratusan nyawa.
Data sementara menunjukkan bahwa lebih dari 30 rumah telah hilang ditelan bumi. Sebanyak 25 jenazah telah ditemukan, dengan 11 di antaranya telah teridentifikasi, sementara banyak lainnya masih tertimbun dan dalam proses pencarian.
Meskipun dikelilingi kesedihan, Defrian terkadang masih terlihat riang, bermain dengan anak-anak pengungsi lainnya di sela-sela kepadatan aula. Baginya, berada di posko adalah pilihan terbaik saat ini.
“Kami takut kalau-kalau ada kejadian susulan. Jadi, lebih baik di sini dulu,” ujarnya dengan mantap.
Mengenal Desa Pasirlangu Lebih Dekat
Pasirlangu adalah salah satu dari delapan desa yang terletak di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Desa ini memiliki karakteristik geografis dan sosial yang unik.
-
Lokasi dan Geografis:
Desa ini terletak tidak jauh dari kaki Gunung Burangrang dan berjarak sekitar 23 kilometer dari pusat Kota Bandung dengan waktu tempuh sekitar satu jam. -
Batas Wilayah:
Desa Pasirlangu memiliki luas sekitar 1.020 hektar dengan batas wilayah sebagai berikut:- Utara: Gunung Burangrang
- Barat: Desa Cipada
- Selatan: Desa Cimanggu (Kecamatan Ngamprah)
- Timur: Desa Tugumukti
-
Demografi:
Berdasarkan data terbaru, pada tahun 2022, Desa Pasirlangu memiliki total 10.926 penduduk.
Potensi Pertanian Desa Pasirlangu
Desa Pasirlangu dikenal dengan potensi pertaniannya, terutama dalam produksi paprika.
-
Penghasil Paprika Terbesar:
Desa Pasirlangu merupakan salah satu penghasil paprika terbesar di Indonesia. Masyarakat setempat bahkan memiliki koperasi khusus untuk mengelola usaha paprika tersebut, yang dikenal dengan nama Koperasi Mitra Sukamaju. -
Komoditas Pertanian Lain:
Selain paprika, Desa Pasirlangu juga menghasilkan berbagai komoditas pertanian lainnya, seperti sayur-mayur dan waluh. Keberagaman hasil pertanian ini menunjukkan potensi ekonomi yang besar di desa ini.
Tragedi dan Ketahanan Masyarakat
Tragedi longsor yang menimpa Desa Pasirlangu menjadi pukulan berat bagi masyarakat. Kehilangan tempat tinggal, orang-orang terkasih, dan mata pencaharian tentu meninggalkan luka yang mendalam. Namun, di tengah kesedihan, terlihat pula semangat ketahanan dan gotong royong yang kuat dari masyarakat.
-
Solidaritas di Posko Pengungsian:
Posko pengungsian menjadi tempat berlindung sementara bagi para korban longsor. Di sana, mereka saling membantu, berbagi makanan, dan memberikan dukungan moral satu sama lain. Anak-anak seperti Defrian tetap berusaha untuk ceria dan bermain, meskipun trauma masih membekas di benak mereka. -
Upaya Pemulihan:
Pemerintah daerah dan berbagai organisasi kemanusiaan terus berupaya untuk memberikan bantuan kepada para korban longsor. Bantuan berupa makanan, pakaian, obat-obatan, dan tempat tinggal sementara sangat dibutuhkan untuk meringankan beban para pengungsi. Selain itu, pemulihan psikologis juga menjadi perhatian penting, terutama bagi anak-anak yang mengalami trauma. -
Pentingnya Mitigasi Bencana:
Tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi bencana di daerah-daerah rawan longsor. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk mengidentifikasi potensi bahaya, melakukan pemetaan risiko, dan membangun sistem peringatan dini yang efektif. Edukasi kepada masyarakat tentang cara menghadapi bencana juga sangat penting untuk mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan.
Desa Pasirlangu, dengan segala potensi dan tantangannya, adalah cerminan dari kekuatan dan ketahanan masyarakat Indonesia dalam menghadapi cobaan. Semoga tragedi ini menjadi pelajaran berharga untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan membangun masa depan yang lebih baik.



















