Longsor Bandung Barat: Upaya Pencarian Korban Terus Berlangsung, Ribuan Warga Mengungsi
Bencana tanah longsor dahsyat yang melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu (24 Januari 2026) dini hari, menyisakan duka mendalam dan keprihatinan. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak hari sebelumnya menyebabkan tanah jenuh air di kawasan lereng curam tak mampu lagi menahan beban, hingga akhirnya longsor menimpa permukiman warga. Hingga Minggu (25 Januari 2026) malam, data mencatat 17 korban meninggal dunia, sementara 73 warga lainnya masih dilaporkan hilang, menambah daftar panjang tragedi bencana alam di Indonesia.

Upaya pencarian dan penyelamatan korban yang hilang terus dilakukan secara intensif oleh tim SAR gabungan yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Dinas Sosial, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (Tagana), serta berbagai unsur terkait lainnya. Kementerian Sosial (Kemensos) turut serta dalam penanganan bencana ini, tidak hanya dalam upaya pencarian, tetapi juga dalam penyaluran bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi dan mendukung kelancaran pelaksanaan status tanggap darurat.
Dampak Bencana yang Mengerikan
Tanah longsor yang terjadi sekitar pukul 02.00 WIB itu menerjang Desa Pasirlangu, merenggut nyawa dan menghancurkan rumah warga. Data sementara yang berhasil dihimpun menunjukkan bahwa sebanyak 34 kepala keluarga atau 113 jiwa terdampak langsung oleh bencana ini. Lebih memilukan lagi, 498 jiwa harus meninggalkan rumah mereka dan kini mengungsi di aula Kantor Desa Pasirlangu, mencari perlindungan dari sisa-sisa puing dan ketidakpastian masa depan. Bencana ini juga menyebabkan 30 unit rumah warga di Kampung Pasirkuning dan area sekitarnya rusak berat, menyisakan pemandangan kehancuran yang memilukan.
Bantuan Logistik dan Kemanusiaan Mengalir
Menanggapi situasi darurat ini, Kementerian Sosial bergerak cepat untuk memberikan dukungan. Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, menyatakan bahwa Kemensos berkomitmen penuh untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi serta membantu proses pencarian dan penanganan korban bersama dengan pemerintah daerah dan instansi terkait.
Bantuan logistik disalurkan melalui Gudang Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Rincian bantuan yang telah disalurkan meliputi:
- 1 unit tenda serbaguna
- 5 unit tenda keluarga
- 50 lembar tenda gulung
- 200 lembar kasur
- 200 lembar selimut
- 500 paket makanan siap saji
- 400 paket lauk pauk siap saji
- 100 paket makanan anak
- 200 paket family kit
- 200 paket kids ware
- Masing-masing 50 paket sandang anak dan sandang dewasa
Dapur Umum dan Dukungan Lokal
Di tingkat daerah, upaya pemenuhan kebutuhan pangan bagi para pengungsi juga menjadi prioritas. Dinas Sosial Kabupaten Bandung Barat bersama dengan tim Tagana telah mendirikan dapur umum lapangan di SDN 1 Pasirlangu, yang berlokasi tepat di samping Kantor Desa Pasirlangu. Dapur umum ini beroperasi penuh untuk memproduksi sekitar 4.500 paket makanan setiap harinya, mencakup tiga kali waktu makan. Pendanaan untuk operasional dapur umum ini sepenuhnya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bandung Barat.

Penetapan Status Tanggap Darurat
Sebagai bentuk keseriusan dalam penanganan bencana, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah secara resmi menetapkan status Tanggap Darurat Bencana. Keputusan ini tertuang dalam Surat Keputusan Nomor 100.3.3.2/Kep.25-BPBD/2026, yang berlaku efektif mulai tanggal 24 Januari hingga 6 Februari 2026. Penetapan status ini membuka jalan bagi mobilisasi sumber daya dan koordinasi yang lebih terpadu antarlembaga untuk merespons situasi darurat.
Tantangan dalam Identifikasi Korban
Proses identifikasi korban meninggal dunia juga menghadapi berbagai tantangan. Hingga Minggu malam, 10 korban meninggal dunia telah berhasil diidentifikasi, sementara 7 korban lainnya masih dalam proses identifikasi lebih lanjut. Verifikasi dan validasi ahli waris korban pun masih berlangsung. Kendala seperti kondisi lokasi yang sulit dijangkau, status ahli waris yang masih dalam pencarian, serta keterbatasan jaringan komunikasi di wilayah terdampak, menjadi faktor penghambat dalam mempercepat proses ini. Tim gabungan terus berupaya semaksimal mungkin untuk memastikan setiap korban teridentifikasi dengan baik dan hak-hak ahli waris terpenuhi.


















