Tragedi di Cunca Wulang: Dua Wisatawan Austria Tewas Setelah Jembatan Kayu Ambruk
Kota Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali dihebohkan dengan insiden maut yang menimpa dua wisatawan asal Austria. Kedua korban, Jurgen dan Astrid, tewas setelah jembatan kayu di objek wisata alam Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, ambruk saat mereka melintasi struktur tersebut.
Insiden Terjadi Saat Melintasi Jembatan
Menurut informasi yang diperoleh, insiden terjadi pada hari Minggu (24/5/2026) sekitar pukul 09.20 Wita. Kedua wisatawan tiba di kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang bersama sopir pribadi mereka, Julius Mam (45). Setelah melakukan registrasi di pos tiket, mereka memulai perjalanan trekking menuju air terjun.
Saat tiba di jembatan gantung kayu yang berada di atas aliran sungai berbatu, kedua korban meminta pemandu wisata, Muhardin, merekam video saat mereka menyeberangi jembatan. Namun, baru beberapa langkah melangkah, suara patahan kayu terdengar sangat keras. Jembatan langsung ambruk, menyebabkan kedua korban terjatuh ke dasar kali berbatu.
Kondisi Dasar Sungai Berbahaya
Sekretaris Desa Cunca Wulang, Benediktus Hartono, menjelaskan bahwa kondisi di bawah jembatan dipenuhi bebatuan besar. Akibatnya, kedua korban langsung menghantam batu besar dan meninggal dunia di lokasi kejadian.
“Bagian penyangga bawah tiba-tiba patah sehingga sebagian papan jembatan ikut roboh dan korban terjatuh ke dasar kali berbatu,” ujar Benediktus kepada POS-KUPANG.COM.
Diduga Akibat Beban Berlebih
Benediktus menyebut secara kasat mata kondisi jembatan masih terlihat layak digunakan. Kerusakan pada bagian penyangga disebut tidak terlihat dari permukaan. Ia menduga ambruknya jembatan dipicu oleh beban berlebih yang menyebabkan bagian penyangga patah.
“Jembatan ini juga pernah direnovasi pada tahun 2023, sehingga dari atas tampak masih aman dilintasi,” ujarnya. “Kemungkinan karena beban yang terlalu berat sehingga penyangganya tidak mampu menahan.”
Penanganan Jenazah dan Koordinasi dengan Pihak Berwenang
Jenazah kedua korban kemudian dievakuasi ke RSUD Komodo, Labuan Bajo. Polres Manggarai Barat kini menyelidiki insiden maut tersebut, termasuk memeriksa kelayakan infrastruktur wisata dan kemungkinan adanya unsur kelalaian pengelola.
Kapolres Manggarai Barat, Christian Kadang, menegaskan proses penyelidikan dilakukan secara serius dan transparan. “Kami tidak main-main dengan keselamatan wisatawan yang berkunjung ke Manggarai Barat,” tegasnya.
Tim Inafis Satreskrim Polres Manggarai Barat telah diterjunkan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa kondisi teknis jembatan kayu tersebut. Polisi juga akan memanggil pihak pengelola objek wisata Cunca Wulang guna mendalami standar operasional keselamatan serta pemeliharaan fasilitas wisata.
Kedubes Austria Dilibatkan dalam Proses Repatriasi
Karena korban merupakan warga negara asing, pihak kepolisian turut berkoordinasi dengan Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri dan Kedutaan Besar Austria di Jakarta. Koordinasi dilakukan terkait penanganan dokumen korban, pengamanan barang-barang pribadi, hingga proses repatriasi atau pemulangan jenazah ke Austria.
“Komunikasi dengan Kedutaan Besar Austria terus dilakukan untuk mempercepat seluruh proses administrasi dan pemulangan jenazah,” kata Christian.
Saksi Mata Mengungkap Detik-Detik Tragedi
Saksi mata sekaligus pemandu wisata, Muhardin, mengungkapkan detik-detik tragedi tersebut. Ia mengatakan bahwa kedua korban tiba di kawasan wisata sekitar pukul 09.20 Wita bersama sopir pribadi mereka. Setelah melakukan registrasi di pos tiket, mereka memulai perjalanan trekking menuju air terjun.
Saat tiba di jembatan gantung kayu, kedua korban meminta Muhardin merekam video saat mereka berjalan menyeberangi jembatan. “Mereka berjalan sambil tersenyum dan meminta saya mengambil video dari belakang saat menyeberang,” ujar Muhardin. Namun, baru sekitar 10 meter melangkah, terdengar suara patahan kayu yang sangat keras. Jembatan langsung ambruk, menyebabkan kedua korban terjatuh ke bawah dan menghantam batu-batu besar di dasar sungai.
Muhardin kemudian berlari kembali ke pos tiket untuk meminta pertolongan warga sekitar.



















