Kisah Ekstrem Rosé BLACKPINK: Menyamar Jadi Nenek Demi Privasi Asmara
Menjadi sorotan publik sebagai bintang global tentu memiliki konsekuensi tersendiri, terutama dalam urusan privasi. Rosé BLACKPINK baru-baru ini membagikan sebuah cerita yang tak biasa mengenai upayanya menjaga kerahasiaan kehidupan asmaranya di masa lalu. Dalam sebuah wawancara eksklusif, anggota grup K-Pop ternama ini mengungkapkan metode ekstrem yang pernah ia lakukan demi bisa berkencan tanpa terdeteksi oleh penggemar, media, maupun masyarakat sekitar.
Pengakuan mengejutkan ini disampaikan oleh Rosé saat berbincang dengan Alex Cooper dalam podcast Call Her Daddy. Ia mengakui bahwa demi bisa mengunjungi rumah mantan kekasihnya secara diam-diam, dirinya kerap kali menyamar layaknya seorang nenek-nenek. Penyamaran ini dilakukan untuk menghindari pengenalan oleh siapa pun yang mungkin mengenali wajahnya.

Cerita ini muncul ketika Rosé membahas tantangan yang dihadapi oleh figur publik dalam menjalani hubungan romantis. Tingkat sorotan media yang sangat tinggi membuat setiap gerak-gerik mereka dapat dengan mudah terekspos. Rosé menjelaskan bahwa selama kurang lebih enam bulan menjalin hubungan, ia dan pasangannya harus ekstra berhati-hati untuk menjaga kerahasiaan hubungan mereka.
Dari Wig Hingga Gaya Berpakaian Nenek-nenek
Upaya penyamaran yang dilakukan Rosé bukanlah hal yang dilakukan secara asal-asalan. Ia mengaku melakukan riset mendalam untuk memastikan penyamarannya terlihat meyakinkan.
Riset Penampilan: Rosé tidak hanya sekadar memakai pakaian yang berbeda. Ia secara cermat mengamati gaya berpakaian para ibu lanjut usia di jalanan.
- Ia memperhatikan detail seperti jenis rok yang mereka kenakan, pilihan sepatu, hingga model tas yang dibawa.
- Semua pengamatan ini kemudian ia tiru dengan cermat.
Perlengkapan Penyamaran: Untuk menunjang penyamarannya, Rosé bahkan membeli berbagai perlengkapan.
- Ia membeli sebuah wig rambut pendek, keriting, dan berwarna hitam.
- Wig ini menjadi salah satu elemen kunci dalam penyamarannya.
- Ia kemudian memesan berbagai pakaian yang sesuai dengan gaya yang ia amati.
Rosé menjelaskan bahwa penyamaran ini menjadi solusi satu-satunya karena ia dan kekasihnya tidak bisa bebas pergi ke tempat umum. “Aku pergi ke rumahnya dengan penampilan seperti itu karena ya kami nggak bisa ke mana-mana, jadi aku pergi seperti itu dan jaga-jaga kalau ada yang melihat,” ungkapnya.
Koleksi Pakaian Nenek-nenek di Rumah
Saking seringnya melakukan penyamaran, Rosé mengaku sampai memiliki area khusus di rumahnya yang didedikasikan untuk menyimpan pakaian-pakaian nenek-nenek. Ia menyadari bahwa upayanya saat itu terbilang berlebihan.
“Dulu di rumahku ada satu bagian khusus untuk baju nenek. Sekarang sudah nggak ada, tapi waktu itu aku benar-benar kalap dan pesan banyak rok panjang warna biru muda bermotif bunga untuk menutupi semuanya,” kenangnya.
Seiring dengan berakhirnya hubungan tersebut, koleksi pakaian yang digunakan untuk penyamaran itu pun tak lagi ia simpan.
Upaya Timbal Balik Sang Mantan Kekasih
Menariknya, upaya menjaga privasi ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Rosé seorang. Mantan kekasihnya kala itu juga ikut beradaptasi dan menyesuaikan penampilannya saat berkunjung ke kediaman Rosé.
“Kayaknya, dia juga bergaya kakek-kakek, tapi ya nggak sampai pakai wig sih. Kalau aku benar-benar butuh wig. Bahkan, sampai meniru cara jalan mereka,” ujar Rosé.
Cerita ini disampaikan Rosé dengan nada yang santai, namun secara implisit menunjukkan realitas yang harus dihadapi oleh seorang idol global. Mereka harus terus-menerus menyeimbangkan antara tuntutan karier profesional yang membutuhkan visibilitas tinggi dan kebutuhan akan kehidupan pribadi yang normal, terutama dalam hal menjalin hubungan asmara. Upaya ekstrem seperti menyamar menjadi nenek-nenek menjadi bukti betapa sulitnya mempertahankan batas antara kedua dunia tersebut di tengah popularitas yang luar biasa.



















