Emas Mengalami Koreksi Setelah Reli Panjang, Namun Proyeksi Jangka Menengah Tetap Solid
Harga emas yang sempat melambung tinggi dalam beberapa bulan terakhir kini menunjukkan tren penurunan. Produk emas dari Galeri24, UBS, dan Antam kompak mengalami pelemahan, mencerminkan kondisi pasar yang mulai jenuh beli dan adanya aksi ambil untung oleh para pelaku pasar. Meskipun volatilitas meningkat, para analis tetap optimis terhadap prediksi harga emas untuk Februari 2026, dengan alasan utama dukungan kuat dari pembelian bank sentral global.
Data harga emas terbaru yang dihimpun dari laman resmi Sahabat Pegadaian pada Minggu menunjukkan adanya koreksi signifikan. Harga jual emas Galeri24 turun tajam dari Rp3.171.000 per gram menjadi Rp2.981.000 per gram, dengan selisih penurunan sebesar Rp190.000. Emas UBS pun tidak luput dari pelemahan, merosot dari Rp3.186.000 menjadi Rp2.996.000 per gram, dengan penurunan yang hampir serupa. Emas Galeri24 tersedia dalam berbagai ukuran mulai dari 0,5 gram hingga 1 kilogram, sementara emas UBS ditawarkan dalam kemasan mulai dari 0,5 gram hingga 500 gram.
Analisis Penyebab Penurunan Harga Emas
Menurut Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, penurunan harga emas ini sebenarnya sudah dapat diprediksi. Ia mengemukakan bahwa pasar emas telah memasuki fase “jenuh beli” atau overbought. “Harga emas ini sudah berada di level jenuh overbought. Namun di sisi lain, bank sentral masih terus melakukan pembelian,” ungkap Yanuar.
Lebih lanjut, Yanuar menjelaskan bahwa dari sisi pasar derivatif, mulai muncul sinyal penjualan (short) pada kontrak berjangka emas. Sinyal ini terlihat terutama dari Exchange Traded Funds (ETF) berbasis emas yang dikelola oleh hedge fund. Sinyal short ini mengindikasikan adanya aksi ambil untung oleh investor setelah kenaikan harga yang cukup agresif sebelumnya.
Namun, fenomena ini justru berbanding terbalik dengan tindakan bank sentral global. Bank-bank sentral tersebut justru terus meningkatkan cadangan emas mereka. Langkah ini diambil sebagai strategi lindung nilai (hedging) di tengah meningkatnya risiko gagal bayar surat utang global yang semakin mengkhawatirkan.
Peran ‘Short Covering’ dalam Meningkatkan Volatilitas
Yanuar Rizky juga menyoroti peran dinamika di pasar berjangka emas yang turut mempercepat pergerakan harga dalam waktu singkat. Ia berpendapat bahwa posisi jual kosong (short) di bursa berjangka merespons lonjakan permintaan beli dari investor non-bank sentral, sementara pasokan emas fisik justru relatif terbatas.
“Kenaikan bulan ini yang tajam akibat transaksi short ditutup karena tidak tersedia fisik, ini berakibat naiknya harga emas future karena menutup short dengan buy di harga marjin,” jelas Yanuar. Aksi short covering yang masif inilah yang menyebabkan harga emas di pasar berjangka sempat melonjak drastis sebelum akhirnya mengalami koreksi, seperti yang terlihat pada pergerakan harga terkini.
Meskipun demikian, Yanuar tetap optimis terhadap prediksi harga emas untuk Februari 2026 dalam jangka menengah. “Volatilitas bisa meningkat karena posisi ETF. Tapi secara struktural, harga emas masih akan bertahan tinggi karena bank sentral tetap menjadi penopang utama permintaan,” tegasnya.
Volatilitas sendiri merupakan ukuran statistik yang menggambarkan tingkat fluktuasi atau seberapa cepat dan drastis harga suatu aset bergerak naik dan turun dalam periode waktu tertentu. Volatilitas tinggi menandakan pasar yang lebih berisiko namun juga berpotensi memberikan keuntungan besar, sementara volatilitas rendah menunjukkan pasar yang lebih stabil.
Prediksi Harga Emas Februari 2026: Tetap Cerah Meski Volatil
Sejumlah analis dan lembaga keuangan global memproyeksikan bahwa harga emas pada Februari 2026 akan tetap berada pada level yang tinggi, meskipun pergerakannya diprediksi akan lebih bergejolak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Proyeksi ini didasarkan pada kombinasi faktor fundamental dan teknikal yang kuat.
Faktor-faktor Kunci Prediksi Emas 2026:
- Bank Sentral Tetap Menjadi Penopang Utama: Bank sentral di seluruh dunia diperkirakan akan terus melanjutkan strategi pembelian emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) untuk menghadapi berbagai risiko global, seperti peningkatan utang negara dan ketidakpastian geopolitik. Faktor ini dianggap krusial dalam menjaga kekuatan harga emas hingga tahun 2026.
- Risiko Geopolitik dan Utang Global: Ketegangan geopolitik yang terus meningkat, konflik regional, serta beban utang global yang semakin membengkak menjadikan emas sebagai aset yang sangat diminati. Emas dipandang sebagai instrumen pelindung nilai yang andal untuk jangka menengah hingga panjang.
- Tekanan Ambil Untung dan Kondisi Overbought: Setelah mengalami reli panjang sejak tahun 2024 hingga 2025, para analis memperkirakan emas berpotensi mengalami koreksi teknikal pada awal tahun 2026, termasuk di bulan Februari. Namun, koreksi ini dinilai sebagai bagian dari siklus pasar yang sehat dan tidak akan mengubah tren jangka panjang emas.
- Pengaruh ETF dan Pasar Derivatif: Pergerakan dana yang signifikan di ETF emas dan pasar kontrak berjangka diprediksi akan membuat harga emas di Februari 2026 bergerak lebih fluktuatif. Hal ini terutama jika terjadi aksi short covering atau aksi ambil untung dalam skala besar.
Para analis secara umum sepakat bahwa selama ketidakpastian global masih tinggi, emas akan tetap bertahan di zona harga historis yang tinggi. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa emas tidak akan selalu mencetak rekor baru setiap bulannya.
Catatan Penting Mengenai Prediksi
Penting untuk diingat bahwa prediksi harga emas tahun 2026 bersifat proyeksi berdasarkan analisis para ahli dan lembaga keuangan. Ini bukanlah jaminan pasti. Harga emas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti data inflasi, kebijakan suku bunga global, serta perkembangan kondisi geopolitik terkini.
Proyeksi dari Lembaga Keuangan Ternama:
- Goldman Sachs: Goldman Sachs telah merevisi naik proyeksi harga emas global untuk akhir tahun 2026. Target baru ditetapkan sekitar US$5.400 per ons, meningkat dari proyeksi sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh kuatnya permintaan dari investor institusional dan bank sentral.
- Bank of America: Bank of America memprediksi harga emas berpotensi menembus level US$5.000 per ons pada tahun 2026. Selain itu, mereka juga memperkirakan rata-rata harga yang kuat di kisaran US$4.400 per ons sepanjang tahun, didukung oleh permintaan aset safe-haven yang berkelanjutan.
- HSBC: HSBC memperkirakan harga rata-rata emas pada tahun 2026 bisa mencapai sekitar US$4.600 per ons. Bahkan, ada potensi kenaikan hingga sekitar US$5.000 per ons pada paruh pertama 2026, seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan aktivitas pembelian oleh bank sentral.
- Proyeksi Analis Global Lainnya: Berdasarkan survei terhadap berbagai analis global, harga emas pada tahun 2026 diprediksi akan berada dalam rentang USD4.000 hingga di atas USD5.000 per ons. Banyak institusi menilai prospek jangka menengah emas tetap bullish, didorong oleh permintaan aset safe-haven dan dukungan kuat dari bank sentral.


